Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Hari-hari ini berbagai media internasional memberitakan tentang kemungkinan kasus pes di Rusia, walaupun belum ada konfirmasi yang pasti. CNN menurunkan berita berjudul “Researcher at Russian Plague Laboratory Dies of ‘Unknown’ Infection”, sedangkan Newsweek mengambil judul “Map Shows Countries Hit by Plague as Russian Lab Worker Dies”.
Sementara itu, The Moscow Times menurunkan berita berjudul “Nearly 200 People Under Observation After Irkutsk Lab Worker Dies From Plague”, dan New York Post memberi judul “Suspected Plague Outbreak Erupts in Russia After Scientist Dies — Putin Accused of Trying to Cover It Up”.
Memang, rincian kejadiannya masih belum terkonfirmasi. Namun, dari berbagai berita tersebut setidaknya disampaikan bahwa ada petugas laboratorium di Anti-Plague Research Institute di Shelekhov, dekat Kota Irkutsk, yang meninggal dunia.
“Plague” adalah bahasa Inggris untuk penyakit pes. Artinya, kejadian tersebut berkaitan dengan sebuah institusi yang memang bergerak di bidang penelitian penyakit pes. Juga diberitakan bahwa petugas laboratorium yang meninggal tersebut sebelumnya mengalami radang paru atau pneumonia yang berat, walaupun belum ada konfirmasi sepenuhnya mengenai penyebabnya.
Selain itu, diberitakan ada sekitar 200 orang yang kemudian berada dalam pengawasan kesehatan karena diduga melakukan kontak dengan kejadian tersebut.
Baca juga : Kesehatan Tempat Pengungsian
Sambil menunggu keterangan yang lebih resmi, ada baiknya kita mengetahui lebih jauh tentang penyakit pes. Pada 29 September 2026, WHO mengeluarkan informasi terbaru mengenai penyakit ini. Pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis.
Pes merupakan penyakit zoonotik, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Bakterinya ditemukan pada mamalia kecil dan kutu pinjalnya. Penyakit ini kemudian dapat menular antarmanusia melalui kontak langsung dengan bagian tubuh yang terinfeksi dan juga melalui partikel yang terhirup saat bernapas. Masa inkubasinya berkisar antara satu hingga tujuh hari.
Setidaknya ada tiga jenis manifestasi penyakit pes pada manusia. Yang pertama dan paling sering terjadi adalah bubonic plague. Bentuk ini ditandai dengan pembesaran kelenjar getah bening yang terasa nyeri, yang dikenal dengan istilah buboes.
Bentuk lainnya adalah penyebaran bakteri melalui sirkulasi darah atau septikemia sehingga dapat menyerang berbagai organ tubuh. Selain itu, dapat pula terjadi radang paru yang disebut pneumonic plague, yang antara lain dapat menular melalui udara.
Pes dapat menjadi penyakit yang berat dan bahkan menimbulkan kematian. Angka kematian (case-fatality ratio) pada bubonic plague disebut berada pada kisaran 30 hingga 60 persen jika tidak diobati. Sementara itu, pneumonic plague merupakan bentuk yang sangat berat dan dapat menyebabkan kematian apabila terlambat ditangani. Pengobatan penyakit pes dilakukan dengan antibiotik.
Baca juga : Enam Kandidat Dirjen WHO
WHO mencatat bahwa pes masih endemis di beberapa negara. Pada periode 2019–2025, kasus pes yang dilaporkan kepada WHO terutama terjadi di Republik Demokratik Kongo dan Madagaskar.
Penyakit pes dikenal sebagai penyebab Black Death atau Wabah Hitam yang terjadi pada abad ke-14, sekitar 1346-1353, dan menewaskan puluhan hingga ratusan juta orang di Eropa, Asia, serta Afrika.
Untuk Indonesia, laman BRIN pada 12 April 2026 menuliskan bahwa Indonesia pernah mengalami wabah pes pada awal abad ke-20, terutama di Pulau Jawa. Penyakit ini dikenal sebagai salah satu wabah paling mematikan di dunia.
Meski dalam beberapa tahun terakhir tidak ditemukan kasus pes pada manusia, peneliti BRIN mengingatkan bahwa kondisi tersebut belum tentu menandakan Indonesia sepenuhnya bebas dari pes. Disebutkan adanya fenomena silent period, yaitu masa ketika penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi masih berpotensi muncul kembali.
Peneliti BRIN juga menyampaikan bahwa bakteri penyebab pes, serta vektor dan reservoirnya seperti pinjal dan tikus, masih ditemukan di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia.
Baca juga : Hari Paru Sedunia 2026
Semoga situasi yang terjadi di Rusia dapat segera dikendalikan dan tidak sampai merebak luas. Semoga Kementerian Kesehatan kita juga terus melakukan upaya pengendalian dan kewaspadaan terhadap penyakit pes di Indonesia.
Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan serta Kepala Balitbangkes Kementerian Kesehatan
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 Bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024–PERSI
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.