BREAKING NEWS
 

Kesehatan Paru Di Jakarta Kota Global

Kamis, 29 Oktober 2026 06:14 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Setiap tahun, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Jakarta menyelenggarakan Pertemuan Ilmiah Respirologi (PIR) atau Jakarta Respiratory Clinical Update (JRCU). Tahun ini, saya menyampaikan presentasi tentang aspek kesehatan paru dan pernapasan dalam proses Jakarta menuju Kota Global.

Kita ketahui bahwa dalam indeks kota global seperti Global Cities Index, Jakarta pada 2025 berada di peringkat ke-71 dari ratusan kota di dunia. Untuk terus meningkatkan peringkat tersebut, Pemerintah Daerah DKI Jakarta meluncurkan Jakarta Rise 20, sebuah inisiatif sinergis lintas sektor untuk mendorong Jakarta masuk ke jajaran 20 kota global teratas dunia pada 2045.

Tentu, ada berbagai aspek yang harus dipersiapkan untuk menyongsong target 2045 itu, termasuk di bidang kesehatan, khususnya paru dan pernapasan. Setidaknya ada tiga hal yang akan dibahas.

Pertama, tuberkulosis (TB), penyakit yang menempatkan Indonesia pada peringkat kedua tertinggi di dunia. Hal ini jelas merupakan tantangan besar bagi kita semua.

Untuk tuberkulosis, target nasional penemuan atau notifikasi kasus TB pada Agustus 2026 seharusnya minimal 60%. Namun, data Kementerian Kesehatan per 20 September 2026 menunjukkan pencapaian baru 57,5%, atau 39.176 kasus baru dari estimasi 68.168 kasus TB di Jakarta.

Baca juga : Workshop Negara APEC Tentang Asma dan PPOK

Selanjutnya, capaian kasus TB sensitif obat yang diobati (treatment enrolment) di Jakarta berdasarkan data per 20 September 2026 mencapai 91,9%, padahal target nasional seharusnya 95%. Sementara itu, angka kasus TB resistan obat yang diobati di Jakarta mencapai 82,2%, masih di bawah target nasional sebesar 95%.

Kemudian, keberhasilan pengobatan TB sensitif obat di Jakarta mencapai 74%, sementara target nasional sebesar 90%. Adapun keberhasilan pengobatan TB resistan obat mencapai 81% dari target 85%.

Selanjutnya, target nasional penerima terapi pencegahan TB (TPT) pada 2026 adalah 80%. Sementara, pencapaian Jakarta per 20 September 2026 baru 29% dari estimasi 71.194 orang yang merupakan kontak serumah. Semua ini menunjukkan perlunya upaya keras yang harus terus digalakkan, termasuk oleh warga Jakarta. Dalam hal ini, para dokter spesialis paru perlu ikut terjun ke lapangan, selain menangani pasien di klinik dan rumah sakit.

Adsense

Saya, misalnya, langsung mengadakan pertemuan dengan para kader di kantor kelurahan. Kegiatan tersebut juga ditulis dalam Rakyat Merdeka RM.id pada 20 September 2026 dengan judul “Kampung Siaga TB di Gandaria Selatan”.

Tentu tidak tepat jika Jakarta ingin masuk ke dalam 20 kota global teratas, tetapi masalah tuberkulosis masih membelenggu.

Baca juga : Kebakaran Hutan Dan Tuberkulosis

Hal kedua yang menjadi tantangan Jakarta adalah polusi udara beserta segala dampaknya. Data Air Quality Index pada 28 Oktober 2026 pukul 08.00 menunjukkan angka 154, yang tergolong tidak sehat, dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 59,5 µg/m³. Angka ini sangat tinggi karena mencapai lebih dari 10 kali lipat, tepatnya 11,9 kali, nilai panduan tahunan PM2.5 dari WHO.

Tentu saja, polusi udara membawa berbagai dampak kesehatan bagi warga kota. Buku Jakarta Rise 20 menuliskan bahwa pada 2023, Jakarta termasuk di antara 10 kota dengan tingkat polusi udara tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan lonjakan gangguan pernapasan, seperti asma dan bronkitis.

Penanganan polusi udara seharusnya dilakukan secara menyeluruh. Dalam tulisan di Rakyat Merdeka RM.id pada 24 Agustus 2023 berjudul “Polusi Udara Jangan Cuma Ditangani di Hulu, Sektor Hilir Juga Kudu Diperhatikan”, antara lain saya menyampaikan bahwa penanganan yang paling tepat adalah mengidentifikasi faktor penyebab dan segera mengatasinya.

Namun, masalahnya, di hilir, masyarakat Jakarta dan sekitarnya sudah “terpaksa” menghirup udara kotor yang penuh polutan. Karena itu, selain penanganan di hulu, pelayanan di sektor hilir juga diperlukan. Hal ini antara lain saya sampaikan melalui tujuh langkah untuk dilaksanakan di puskesmas di sekitar Jakarta.

Hal ketiga di bidang paru dan pernapasan adalah gedung-gedung tinggi di Jakarta. Untuk itu, kualitas udara di dalam gedung harus dijaga demi kesehatan pernapasan warga kota yang banyak bekerja di gedung perkantoran Jakarta.

Baca juga : Dampak Karhutla Sudah Lebih Dari Seperempat Abad

Ada satu hal yang perlu diantisipasi, yaitu pencegahan dan penanganan sick building syndrome atau sindrom gedung sakit. Masalah ini sudah lama dibahas para pakar di berbagai negara. Saya juga telah menulis tentang hal tersebut dalam jurnal ilmiah Medical Journal Indonesia pada 2002, seperempat abad yang lalu.

Semoga kita semua melakukan upaya maksimal agar Jakarta benar-benar menjadi kota global yang bukan hanya membanggakan, tetapi juga, terutama, menjadi tempat hidup yang nyaman dan sehat bagi warga kota.

Oleh: Prof Tjandra Yoga Aditama
-Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
-Penasihat, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) cabang Jakarta
-Mantan DirJen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dan Kepala Balitbangkes Kementerian Kesehatan
-Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
-Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
-Penerima Rekor MURI April 2024
-Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 - PERSI
-Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense