Dark/Light Mode
- PTPN Group Tampilkan Produk Oleo Sawit di Forum Teknologi Danantara
- Mantan Dirut PNM Arief Mulyadi Meninggal di Usia 58 Tahun
- Lamine Yamal Cetak Sejarah, Raih Kopa Trophy 3 Tahun Beruntun
- Harry Kane Persembahkan Ballon d’Or untuk Bayern dan Keluarga
- Pelatih Arema Ungkap Kunci Sukses Hajar Dewa United 4-0
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Pada 21 dan 22 Oktober 2026 diselenggarakan Workshop “Enhancing Capacity in Integrated COPD and Ashthma Management in Response to Emerging Infectious Diseases in Healthcare Facilities” yang diikuti oleh negara-negara “APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation)”.
Kita tahu bahwa APEC adalah forum ekonomi antarnegara di kawasan Lingkar Pasifik yang bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi, mempererat komunitas, serta mendukung perdagangan dan investasi yang lebih bebas.
Saya menjadi moderator pada Panel Diskusi terakhir yang berjudul “From Evidence to Action: Shaping an APEC Action Plan for Integrated COPD and Asthma Management’.
Baca juga : Kebakaran Hutan Dan Tuberkulosis
Di panel ini dibahas bagaimana benar-benar kegiatan langsung yang baik dilakukan di negara-negara APEC.
Panel ini dimulai dengan presentasi tinjauan pustaka yang disusun oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, yang berjudul “Preliminary findings derived from a literature review on evidence-based integrated management of COPD and Asthma across APEC economies”.
Setelah itu, saya memimpin diskusi dengan 7 negara anggota APEC yang hadir, yaitu Vietnam, Malaysia, Thailand, Rusia, Indonesia, Brunei Darussalam dan Chile, dan juga pakar dari GINA (Global Initiative for Asthma)”.
Baca juga : Dampak Karhutla Sudah Lebih Dari Seperempat Abad
Kemudian saya presentasikan kesimpulan dari workshop yang penting ini.
Pertama adalah lima area prioritas, meliputi diagnosis dan skrining berbasis komunitas, pengobatan dalam kerangka “Universal Health Care – UHC”, integrasi program asma dan PPOK (penyakit paru obstruktif kronik), penanganan dan pemantauan kasus termasuk situasi kronik dan rehabilitasi paru serta ketahanan respirasi.
Lalu saya sampaikan lima hal lagi yang berupa kegiatan yang akan dapat dicapai oleh negara-negara APEC, yaitu metodologi skrining yang sensitif dan “cost-effective”, penanganan terintegrasi dari tingkat primer ke tertier, ketersediaan obat esensial dalam kerangka asuransi kesehatan nasional, pedoman penanganan di negara yang sejalan dengan GOLD (Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease)” dan GINA (Global Initiative for Asthma)” serta memperkuat penanganan asma dan PPOK yang juga akan memperkuat kesiapan menghadapi pandemi.
Baca juga : Dugaan Kasus Pes Di Rusia
Oleh: Prof Tjandra Yoga Aditama
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.