Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam masyarakat Sunni, melukis atau menggambar wajah Nabi merupakan sesuatu yang sangat dilarang. Dasar larangannya memang tidak secara tegas bersumber dari ayat Al-Qur’an atau hadis, melainkan lebih didasarkan pada upaya mencegah mudarat yang mungkin timbul akibat penggambaran wajah Nabi. Jika Nabi memiliki lukisan, dapat dibayangkan betapa banyak umat Islam yang akan menyakralkan gambar atau lukisan tersebut. Akibatnya, akidah umat bisa menyimpang karena mereka tidak lagi mengambil substansi ajaran yang dibawanya, tetapi justru berhenti pada penyakralan sosok yang tergambar dalam lukisan itu. Boleh jadi, umat tidak lagi menyembah Tuhan, tetapi terjebak dalam pemujaan terhadap gambar Nabi. Jika hal demikian terjadi, tentu akan menjadi malapetaka bagi umat yang bersangkutan.
Kalangan Syiah tidak terlalu mempermasalahkan penggambaran wajah Nabi Muhammad SAW. Bahkan, dalam beberapa publikasi Syiah, ditampilkan secara terang-terangan gambar Nabi ketika masih muda maupun ketika telah lanjut usia. Beberapa kisah Isra Mikraj Nabi juga disajikan dalam bentuk cerita bergambar. Buraq, kendaraan Nabi menuju Sidratul Muntaha, misalnya, dilukiskan menyerupai kuda bersayap dengan kepala perempuan cantik.
Baca juga : Hate Speech & Melecehkan Lafaz “Allah”
Namun, tidak semua kalangan Syiah menyetujui publikasi gambar atau lukisan Nabi. Sebagian di antaranya memiliki pandangan yang sama dengan ulama Sunni, yakni menolak penggambaran wajah Nabi karena alasan yang serupa.
Bagi kita yang beraliran Sunni, persoalan boleh atau tidaknya menggambar wajah Nabi sebenarnya tidak perlu terus-menerus diwacanakan. Lebih baik kita tetap berpegang pada prinsip bahwa wajah Nabi tidak perlu dilukis atau digambar. Sebagai bangsa yang mayoritas penduduknya beraliran Sunni, sudah sepantasnya pandangan tersebut dihargai. Karena itu, sebaiknya tidak ada pihak yang memublikasikan gambar Nabi. Larangan atau kehati-hatian ini bukan hanya berlaku bagi Nabi Muhammad, melainkan juga bagi nabi-nabi lainnya. Bahkan, para sahabat Nabi pun sebaiknya tidak digambar atau dilukis karena tetap memiliki potensi untuk disakralkan oleh sebagian umat Islam.
Baca juga : Tendensius Mengungkap Data
Isyarat agar sosok pribadi Nabi Muhammad tidak terlalu ditonjolkan, sekaligus untuk mencegah kemungkinan munculnya pengultusan atau pendewaan terhadap dirinya pada kemudian hari, dapat dilihat dalam peristiwa ketika Khalifah Umar mengundang para gubernur wilayah Islam untuk bermusyawarah menentukan sistem penanggalan Islam. Dalam musyawarah tersebut dibicarakan rencana penyusunan tarikh atau kalender Islam.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.