Dark/Light Mode
- Sidang Gus Yaqut, Saksi Ceritakan Evaluasi Pelayanan Haji 2024
- KPK Lantik 7 Pejabat, Achmad Taufik Husein Jadi Direktur Penyidikan
- Ditelepon Teddy, Dirut KAI Merapat ke Istana
- Gunung Semeru 6 Kali Batuk-Batuk, Hindari Radius 13 Km Dari Pusat Erupsi
- Seleksi Petugas Haji Daerah 2027 Dimulai, Pendaftaran 5-10 November 2026
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Moralitas dalam survei tetap tidak boleh diabaikan. Sebuah survei etnologis yang mengukur tingkat kecerdasan antaretnik di Amerika Serikat pernah dilakukan, tetapi hasilnya dilarang dipublikasikan karena dikhawatirkan menimbulkan dampak politis dan pada akhirnya memicu ketegangan antaretnik. Survei tersebut mengukur tingkat kecerdasan lima kelompok etnik yang ada di AS, yaitu etnik kulit putih, kulit hitam, kulit kuning, kulit cokelat, dan kulit sawo matang.
Survei tersebut menyimpulkan bahwa etnik yang dinilai paling cerdas adalah: pertama, etnik kulit kuning, yakni masyarakat Cina, Jepang, dan Korea; kedua, etnik kulit putih, yakni warga kulit putih AS; ketiga, etnik kulit cokelat, yakni masyarakat India dan Arab; keempat, etnik sawo matang, yakni masyarakat Thailand, Vietnam, dan Indonesia; serta kelima, etnik kulit hitam.
Hasil survei ini dilarang dipublikasikan karena dikhawatirkan menimbulkan dampak politik. Warga kulit hitam, yang jumlahnya cukup besar di AS, dikhawatirkan akan semakin sulit memperoleh kesempatan menjadi kepala negara apabila hasil survei tersebut dijadikan dasar untuk mendiskreditkan kemampuan mereka. Dampak lebih lanjut, publikasi semacam itu berpotensi memicu kemarahan dan permusuhan warga kulit hitam terhadap kelompok pendatang dari etnik lain. Hasil survei tersebut juga patut dipertanyakan ketika Barack Obama, sebagai orang kulit hitam pertama yang menjadi Presiden AS, justru dinilai berhasil memimpin negara itu selama dua periode.
Baca juga : Bias Metodologis dalam Mengungkap Fakta
Di AS sendiri, yang dikenal sebagai salah satu negara demokrasi tertua, etika survei dan penelitian tetap mendapat perhatian. Hal ini tidak hanya berlaku dalam bidang ilmu-ilmu sosial, tetapi juga ilmu-ilmu eksakta. Kita masih ingat kehebohan penelitian di bidang biologi yang melahirkan domba hasil rekayasa genetika bernama Dolly. Setelah keberhasilan tersebut, para ilmuwan dan tokoh agama memperdebatkan batas-batas etis penerapan teknologi serupa pada manusia. Hingga kini, rekayasa genetika manusia masih menjadi persoalan etis dan ilmiah yang sangat kontroversial.
Apalagi survei yang direkayasa untuk memojokkan pihak tertentu atau melegitimasi kepentingan tertentu dengan menyalahi kaidah-kaidah metodologi survei. Praktik semacam ini secara moral sangat tidak terpuji. Jika hasilnya berpotensi melahirkan kebencian antaretnik, antaragama, dan antarkelompok kepercayaan, persoalan tersebut dapat bersinggungan dengan ketentuan mengenai ujaran kebencian (hate speech).
Lembaga-lembaga survei di Indonesia yang dirancang untuk mempromosikan kandidat kepala negara atau kepala daerah tertentu sesungguhnya dapat dipandang sebagai bentuk penyimpangan dari etika survei. Pada dasarnya, survei merupakan instrumen pengukuran objektif untuk mengetahui fenomena atau kenyataan tertentu di tengah masyarakat. Akan tetapi, apabila survei digunakan untuk mengelabui pemilih melalui penyimpangan metodologis, praktik tersebut merupakan pelanggaran moral.
Baca juga : Menyebarkan Paham Misogini
Dalam kasus lain, data survei mungkin diperoleh melalui proses yang secara akademis valid. Namun, hasilnya kemudian didramatisasi sedemikian rupa untuk memojokkan kelompok tertentu. Praktik semacam ini dapat pula digolongkan sebagai religious hate speech (RHS), terutama jika penyajiannya bertujuan atau berpotensi menimbulkan kebencian dan kekecewaan terhadap kelompok agama tertentu.
Sebagai contoh, sebuah situs media sosial pernah mengungkapkan bahwa organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam tertentu paling banyak melahirkan kelompok radikal dan teroris. Situs lain pernah memuat fenomena homoseksualitas di lingkungan pondok pesantren. Ada pula situs yang mengungkapkan dugaan keterlibatan sebuah yayasan dari agama berbeda dalam mendukung sejumlah kelompok sempalan (baca: aliran sesat). Yayasan tersebut disebut-sebut memberikan dukungan dana bagi berbagai kegiatan kelompok itu.
Dalam skala global, seorang mantan Duta Besar Israel untuk AS pernah menulis sebuah buku tebal yang mengungkap dugaan aliran dana kepada kelompok teroris internasional dari salah satu negara besar di Timur Tengah.
Baca juga : Mengeksploitasi Dalil-dalil Agama
Pengungkapan data-data semacam ini merupakan persoalan yang sangat sensitif dan berisiko memicu ketegangan sosial, terutama apabila tidak disertai konteks, verifikasi, dan penjelasan metodologis yang memadai. Karena itu, penyampaian informasi yang menyangkut identitas etnik, agama, dan kelompok kepercayaan harus dilakukan secara hati-hati, bertanggung jawab, serta berlandaskan etika publikasi. Data memang penting untuk mengungkap kenyataan, tetapi cara mengungkapkannya juga harus mempertimbangkan dampak sosial yang mungkin ditimbulkan. ***
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Rabu, 4 November 2026 dengan judul "Tendensius Mengungkap Data"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.