RM.id Rakyat Merdeka - Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) kembali menetapkan Monkeypox (Mpox) atau cacar monyet sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (Public Health Emergency of International Concern/PHEIC). Masyarakat diminta waspada.
Status PHEIC diumumkan pada 14 Agustus 2024, menyusul peningkatan kasus Mpox di Republik Demokratik Kongo dan sejumlah negara di Afrika.
Di Indonesia, khususnya di Jakarta, cacar monyet menjadi perhatian meski status pandemi telah dicabut oleh WHO pada 5 Mei 2023. Kewaspadaan dini terhadap penyakit ini tetap dilakukan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), ada 59 kasus terkonfirmasi Mpox di Jakarta periode 13 Oktober 2023 hingga 19 Agustus 2024.
Sedangkan berdasarkan persebaran kasus Mpox di Jakarta tahun 2024, terdapat 11 kasus Mpox yang tersebar di delapan kecamatan di Jakarta. Seluruh kasus berada pada usia 21 tahun sampai 50 tahun.
Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta terus menjalankan sistem cegah tangkal terhadap Mpox. Di antaranya, promosi kesehatan terkait pencegahan dan penularan Mpox, pelaporan penemuan kasus melalui rumah sakit dan Puskesmas, serta studi kasus kontrol yang memberikan rekomendasi penanganan.
Hasil studi ini mengidentifikasi kelompok rentan penularan Mpox, yaitu laki-laki berusia 20-40 tahun yang bekerja di luar rumah, memiliki orientasi seksual homoseksual dan biseksual, serta penderita HIV atau Infeksi Menular Seksual (IMS). Kelompok ini diutamakan dalam program edukasi dan promosi kesehatan terkait Mpox.
Baca juga : Misi Sapu Bersih Kemenangan
Kepala Dinkes DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengatakan, program vaksinasi Mpox tahun 2023 telah menjangkau 495 orang dari populasi kunci atau kelompok risiko tinggi.
“Hingga saat ini, sebanyak 495 orang telah menerima dosis pertama vaksin dan 430 orang telah menerima dosis kedua. Masih tersisa 42 vial vaksin yang akan digunakan sesuai kebutuhan,” kata Ani, Minggu (25/8/2024).
Gambaran klinis yang dapat dijumpai pada pasien Mpox pada wabah 2022 dan 2023 berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, sakit punggung, kelelahan tubuh disertai ruam atau lesi berupa lenting atau gelembung kecil keputihan dengan bagian tengah yang berwarna gelap.
“Dengan langkah-langkah yang terus dilakukan, diharapkan kasus Mpox di Jakarta dapat diminimalisasi. Namun, masyarakat harus tetap waspada serta berperan aktif mencegah penyebaran penyakit ini,” tandasnya.
Pelaksana Harian (Plh) Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Yudhi Pramono mengatakan, penularan virus Mpox, khususnya yang terjadi dari manusia ke manusia, patut diwaspadai.
Cara penularan penyakit ini dapat melalui kontak erat dengan cairan tubuh atau lesi kulit orang yang terinfeksi, atau kontak tidak langsung pada benda yang terkontaminasi atau droplet.
Yudhi menjelaskan, penyakit Mpox dapat menyebar melalui kontak langsung kulit ke kulit atau membran mukosa termasuk saat melakukan kontak seksual.
Baca juga : Harris-Walz Tur Naik Bus, Trump-Vance Jualan NFT
“Penularan melalui droplet biasanya membutuhkan kontak erat yang lama, sehingga anggota keluarga yang tinggal serumah atau kontak erat dengan kasus berisiko lebih besar tertular,” jelasnya.
Karena itu, Yudhi mengimbau masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu juga, menerapkan perilaku seksual yang sehat, seperti tidak gonta ganti pasangan ataupun perilaku seks sesama jenis.
Yudhi mengimbau, jika ada warga yang bergejala Mpox, segera kunjungi fasilitas kesehatan terdekat.
Durasi kesembuhan pasien Mpox bervariasi mulai dari 2-4 minggu. Periode lama sakit paling singkat adalah 14 hari dari timbulnya gejala pertama.
Dari segi pencegahan dan perawatan pasien Mpox, Kemenkes mengupayakan pemenuhan vaksin dan obat-obatan termasuk antibiotik.
Sebagian besar kasus Mpox di Indonesia diberikan terapi suportif dan simtomatis. Kasus tersebut dilakukan perawatan dan isolasi, baik di rumah sakit maupun isolasi mandiri.
“Kemenkes telah melaksanakan vaksinasi Mpox bagi kelompok risiko tinggi pada tahun 2023 terhadap 495 sasaran. Tahun ini sedang dalam proses penyiapan total 4.450 dosis vaksin, yakni 2.225 sasaran dengan 2 dosis per individu,” terang Yudhi.
Baca juga : Duo Ganda Garuda Menyala
Merespons status darurat kesehatan Mpox, Yudhi mengimbau masyarakat, terutama para pelaku perjalanan, tetap waspada dan menghindari bepergian ke negara-negara yang terjangkit Mpox.
Direktur Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan Achmad Farchanny Tri Adryanto menambahkan, tidak ada pembatasan perjalanan dari atau ke negara-negara yang mengalami peningkatan kasus Mpox.
Meski begitu, pelaku perjalanan dari Indonesia harus berhati-hati, tidak boleh lengah apabila tetap ingin bepergian ke negara terjangkit terutama Afrika.
Merujuk laporan Multi-country outbreak of mpox. External Situation Report 35 yang diterbitkan WHO pada 12 Agustus 2024, tercatat sebanyak 99.176 kasus konfirmasi Mpox, termasuk 208 kematian yang dilaporkan oleh 116 negara anggota WHO sejak 1 Januari 2022 hingga 30 Juni 2024.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.