RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta Muhammad Thamrin meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta fokus pada program stunting di anggaran 2025.
Hal tersebut dilontarkan Thamrin menanggapi usulan pengajuan anggaran Dinkes dalam rapat pembahasan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) APBD Tahun Anggaran 2025, Kamis (24/10/2024).
Baca juga : LPDB-KUMKM Salurkan Anggaran Rp 1,465 Triliun Bagi UMKM Hingga September 2024
"Untuk bebas stunting, Jakarta sehat, Jakarta tumbuh bugar, Jakarta tumbuh kuat," kata Thamrin.
Dia menegaskan, untuk penurunan stunting harus dilakukan serius dan menjadi prioritas pemerintah. Sehingga nantinya tidak ada lagi anak yang mengalami permasalahan terkait tumbuh kembang.
Baca juga : Dakwah Itu Mengajak pada Kebaikan dan Mengingatkan Jangan Berbuat Jahat
Thamrin juga meminta agar Dinkes menyediakan program layanan pengantaran obat kepada pasien, karena layanan ini bisa membantu memudahkan pasien mendapatkan obat tanpa antre yang lama.
Dinkes fokus juga diimbau menjalankan layanan rujukan dan pengembangan layanan unggulan Rumah Sakit Daerah. Penguatan layanan primer dan sistem ketahanan kesehatan serta upaya penanggulangan kemiskinan dalam optimalisasi jaminan kesehatan dan jaminan sosial.
Baca juga : Bison Kota Tangerang Turun Gunung Menangkan Andra Soni-Dimyati
Kepala Dinkes DKI Jakarta Ani Ruspitawati dalam paparannya, mengajukan alokasi kebutuhan anggaran sebesar Rp 10,6 triliun untuk 2025. Anggaran tersebut untuk percepatan penuntasan dan pencegahan stunting, penurunan AKI dan AKB (Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi), penanggulangan tuberkulosis dan HIV, implementasi integrasi layanan primer, implementasi penanggulangan penyakit DBD melalui teknologi nyamuk ber-Wolbachia, dan pengembangan sistem informasi kesehatan.
Ani menyatakan, program percepatan penurunan stunting memang menjadi prioritas di 2025. Adapun rencana kegiatan dan anggaran 2025 terdiri dari Pemberian Pangan Keperluan Medis Khusus (PKMK) sebesar Rp 22 miliar dengan 4.527 kasus stunting, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) weight faltering sebesar Rp 10 miliar dengan 29.220 kasus, PMT underweight Rp 1,8 miliar dengan 3629 kasus, PMT gizi kurang Rp 3,7 miliar dengan 3.156 kasus dan tatalaksana balita gizi buruk Rp 2,5 miliar dengan 1.006 kasus.
“Prinsipnya adalah pada siklus hidup mulai dari ibu hamil, melahirkan, balita, remaja putri, dewasa produktif, lansia, semua ada program kesehatannya,” kata Ani. (DRS/Fauziah)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.