Dark/Light Mode

Dakwah Itu Mengajak pada Kebaikan dan Mengingatkan Jangan Berbuat Jahat

Jumat, 11 Oktober 2024 10:44 WIB
Ketua Umum Asosiasi Dai-Daiyah Indonesia (ADDAI) Moch Syarif Hidayatullah. (Foto: Istimewa)
Ketua Umum Asosiasi Dai-Daiyah Indonesia (ADDAI) Moch Syarif Hidayatullah. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Terdapat miskonsepsi di sebagian masyarakat Indonesia dalam menyikapi kegiatan dakwah. Ketua Umum Asosiasi Dai-Daiyah Indonesia (ADDAI) Moch Syarif Hidayatullah menjelaskan, di samping konversi keimanan, tujuan dakwah sebenarnya menitikberatkan pada ajakan kebaikan, dan saling mengingatkan pada kemungkaran atau perbuatan jahat.

“Nilai kebaikan itulah yang menjadi fokus dalam berdakwah. Ayatnya, yad'una ilal khairi, di surat Al-Imran ayat 104, berarti mengajak kepada kebaikan, berdakwah atau mendakwahkan kebaikan. Melalui ayat ini, kita juga diperintahkan untuk menjaga diri dari kemungkaran, serta mengingkari segala hal yang tidak baik,” jelas Syarif.

Menurut Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Jakarta ini, dalam berdakwah, salah kalau memaksakan keimanan orang lain untuk masuk kepada agama pendakwah. Jika mengingat kembali kisah hidup Rasulullah, Nabi Muhammad SAW bisa hidup secara harmoni dengan para pemeluk agama lain tanpa ada paksaan. 

Syarif juga menyoroti pemaksaan konversi keimanan yang seolah ditempatkan konteksnya pada masa peperangan. Menyikapi situasi hidup dalam kondisi berperang jelas tidak sama seperti sekarang. Dalam peperangan, pilihannya hanya dua, menang atau kalah.

Baca juga : Tantangan Pancasila: Menghadapi Intoleransi dengan Berbagai Wajah

Dia mengambil contoh dari kejadian Fathul Makkah (Penaklukkan kota Makkah) di zaman Nabi Muhammad SAW. Ia bercerita, ketika Fathul Makkah terjadi, faktanya Rasulullah SAW tidak memaksa semua penduduk Makkah untuk masuk Islam. Salah satu hal yang dikatakan Rasulullah SAW kala itu, siapapun yang tidak keluar rumah, dia akan aman. 

“Menyatakan masuk Islam pada kejadian Fathul Makkah bukan faktor tunggal seseorang bisa selamat dari peristiwa tersebut. Kejadian ini menekankan bahwa dakwah Islam yang tanpa paksaan sudah ada dari zaman Rasulullah,” ungkap Syarif.

Kegiatan dakwah keagamaan juga sebaiknya disampaikan dai atau penceramah yang memang memiliki kedalaman ilmu agama. Syarif, yang juga aktif sebagai Pembina Yayasan Raudhatul Mustariyah, berpendapat bahwa kualitas materi yang disampaikan dalam dakwah keagamaan sangat bergantung pada kapasitas si penceramah.

Menurutnya, Asosiasi Dai-Daiyah Indonesia (ADDAI) telah mengedepankan kaderisasi dai yang mampu berdakwah dengan cara yang merukunkan, menentramkan, dan memberikan solusi terhadap hal-hal yang menjadi persoalan di masyarakat. 

Baca juga : GPFI Dukung Kebijakan BPOM Wujudkan Obat Murah Berkualitas Global

Syarif tidak setuju jika dai atau pendakwah agama justru mempertajam perbedaan yang ada antar golongan masyarakat. Dai seharusnya berkontribusi dalam menjaga keutuhan NKRI, dan membantu masyarakat yang ingin memperbaiki diri serta mengenali ajaran agamanya. Dai juga harus mampu memberikan ruang dialog dengan orang-orang dari kelompok, dan bahkan agama yang berbeda.

Dakwah keagamaan dituntut untuk bisa memuat narasi toleran terhadap perbedaan. Boleh tegas terhadap hal-hal yang sifatnya akidah, tapi juga harus toleran terhadap sesuatu yang bukan menjadi prinsip agama, atau yang menjadi hasil dari perbedaan,” tambahnya. 

Maka, lanjut dia, penting bagi para dai itu terbiasa untuk tidak menyikapi hal-hal yang dari khilafiyah, pertentangan, perbedaan pendapat di kalangan ulama, yang sifatnya ini tidak produktif. Penting pula untuk ditekankan pada para dai, bahwa berdakwah itu harus dengan ilmu. "Kalau berdakwahnya dengan ilmu, baik dai dan audiensnya, pasti tidak akan sampai pada sikap intoleransi, radikalisme, atau bahkan mendukung aksi terorisme,” terangnya.

Syarif juga berpesan agar semboyan Bhineka Tunggal Ika dipahami dan diamalkan dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian, diharapkan masyarakat Indonesia mampu menerima orang lain yang tidak sama sikapnya, cara pandangnya, gaya hidupnya, atau cara berpikirnya dengan kebanyakan orang. Dalam hal ini, dakwah keagamaan bisa memenuhi fungsinya sebagai corong moderasi beragama, sehingga masyarakat yang berbeda-beda ini bisa berjalan beriringan dan berkolaborasi. 

Baca juga : Maybank Indonesia Hadirkan Produk dan Layanan Wealth Management Berbasis Syariah

“Piagam Madinah menjadi contoh dari Rasulullah, bagaimana perbedaan di masyarakat Madinah bisa disatukan melalui komitmen untuk hidup berdampingan dan saling menjaga,” pungkas Syarif.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.