RM.id Rakyat Merdeka - Penularan Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Jakarta, masih tinggi. Untuk mengatasinya, Dinas Pendidikan (Disdik) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) didorong memperkuat edukasi dan pencegahan penularan penyakit seks tersebut.
Berdasarkan data 2024, jumlah kasus penyakit menular itu di Ibu Kota mencapai 37.581 orang. Kasus ini didominasi usia produktif 25-49 tahun, termasuk kelompok remaja usia 15-24 tahun. Hingga Maret 2025, tercatat 439 kasus baru terjadi pada remaja.
Kondisi ini dinilai membutuhkan penguatan edukasi dan upaya pencegahan sejak dini, agar risiko penyebaran tidak semakin meluas.
Konselor Yayasan Nurani Hati Peduli, Dian Hariani Salamena menjelaskan, temuan di lapangan menunjukkan tingginya risiko penularan penyakit menular seksual (PMS). Bahkan, dari 20 orang yang diperiksa, lanjut dia, 19 di antaranya terinfeksi PMS.
Baca juga : Wolves Degradasi, Pemilik Fokus Esport
“Penyakit menular seksual menjadi pintu masuk HIV/AIDS dan sering tidak disadari,” ujar Dian saat audiensi dengan Komisi E DPRD DKI Jakarta untuk membahas upaya pencegahan PMS dan penguatan edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja, Selasa (14/4/2026).
Dia juga mengingatkan, banyak kasus yang tidak terdeteksi karena masih dianggap tabu di masyarakat. “Kasus ini seperti fenomena gunung es, banyak yang tidak terlihat di permukaan,” tandasnya.
Sekadar mengingatkan, HIV adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh. Sedang kan AIDS adalah kumpulan penyakit akibat menurunnya kekebalan tubuh. HIV adalah virusnya. AIDS adalah stadium lanjut dari terinfeksi HIV.
Ketua Komisi E DPRD DKI M. Subki menilai, persoalan yang menyangkut generasi muda harus menjadi perhatian serius. Apalagi, data yang dipaparkan menunjukkan peningkatan risiko penyakit pada kalangan remaja. “Ini menjadi perhatian kita, karena masa depan berada di tangan generasi muda,” kata Subki.
Baca juga : Bunga Zainal, Nangis Dituding Pelit Sama Ortu
Dia menyatakan, hasil audiensi akan ditindaklanjuti melalui langkah konkret lintas perangkat daerah. Salah satunya, mendorong Disdik DKI memperkuat edukasi kesehatan reproduksi di sekolah.
Selain itu, Komisi E menyatakan siap mendukung alokasi anggaran untuk edukasi kesehatan reproduksi dan pencegahan PMS bagi remaja, selama program tersebut tepat sasaran. “Program tidak akan berjalan tanpa dukungan anggaran yang memadai,” tandas Subki.
Komisi E juga meminta Dinkes memperkuat program kesehatan remaja hingga ke tingkat masyarakat, seperti melalui Karang Taruna, Puskesmas, dan komunitas. “Kami minta Dinas Kesehatan memprogramkan kegiatan kesehatan remaja di berbagai lapisan masyarakat,” ujar Subki.
Dia berharap, langkah tersebut dapat meningkatkan pemahaman remaja terhadap risiko penyakit. Sekaligus mendorong mereka lebih sadar mengenai pentingnya pencegahan.
Sinte Mengancam Remaja
Baca juga : Kloter Pertama Tiba Besok di Madinah, Jemaah Haji Pakai Fasilitas Fast Track
Selain masalah HIV/AIDS, narkoba juga mengancam keselamatan para remaja yang menggunakannya.
Seiring itu, Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya membongkar praktik clandestine lab atau laboratorium gelap narkotika jenis tembakau sintetis (sinte) di Jakarta Pusat, Jumat (17/4/2026) malam.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.