BREAKING NEWS
 

Pantauan Jurnalis Rakyat Merdeka Dari Gedung Bertingkat

Udara Di Jakarta Berasap, Masuk Kategori Tak Sehat

Reporter : EDY BURNAMA
Editor : DAUD FADILLAH
Jumat, 12 Juni 2026 06:25 WIB
Langit Jakarta tampak berasap saat dilihat dari Lantai 45 Trinity Tower, Jakarta Selatan, Rabu (10/6/2026). (Foto: Edy Burnama/rm.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Selain kemacetan, banjir dan sampah, polusi udara menjadi salah satu momok di Jakarta. Kualitas udara di Ibu Kota sering berada di level tidak sehat. Dan dua hari lalu, kondisi itu kembali menjangkit Jakarta.

Berdasarkan laporan Videografer Rakyat Merdeka pada Rabu (10/6/2026), pukul 12.3015.00 WIB, udara di Jakarta tampak berasap. 

Videografer RM merekam suasana Jakarta yang berasap itu, dari Lantai 45 Trinity Tower di Jalan Hajjah Rangkayo (HR) Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. 

Dalam video itu, tampak gedung-gedung pencakar langit diselimuti asap tebal. Sedangkan gedung yang berada cukup jauh, jadi kurang terlihat. 

Kemudian, Reporter Rakyat Merdeka mengecek, bagaimana kondisi udara di Jakarta, saat video tersebut direkam. 

Baca juga : Amerika Serikat Vs Paraguay, Tuan Rumah Bakal Agresif

Berdasarkan aqicn.org, situs web global yang menyediakan data dan peta pemantauan Indeks Kualitas Udara secara real time di lebih dari 100 negara, kualitas udara di Jakarta pada pada Rabu (10/6/2026), pukul 12.30-15.00 WIB, umumnya berada pada kategori Tidak Sehat hingga Tidak Sehat bagi Kelompok Sensitif. 

Saat itu, Indeks Kualitas Udara di Jakarta berkisar antara 151 hingga 179, dengan konsentrasi partikel halus PM 2.5 yang menjadi polutan utama. 

PM2.5 adalah partikel udara berukuran sangat kecil (kurang dari 2,5 mikrometer atau sekitar 3 persen diameter rambut manusia). 

Guna menghadapi persoalan semacam itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menggandeng Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mengembangkan sistem peringatan dini kualitas udara. 

Melalui sistem tersebut, warga Jakarta akan dapat mengetahui prakiraan kualitas udara hingga tiga hari ke depan, sehingga memiliki waktu lebih awal untuk mengantisipasi dampak pencemaran udara terhadap kesehatan. 

Baca juga : Kalahkan Nigeria 2-1,  Portugal Panaskan Mesin

Sistem peringatan dini itu dikembangkan BMKG melalui teknologi pemodelan kualitas udara berbasis spasial, bernama SILAM Urban. 

Teknologi tersebut, diklaim mampu memetakan kondisi kualitas udara secara rinci, hingga radius satu kilometer dan mencakup seluruh 44 kecamatan di Jakarta. 

Koordinator Sub Bidang Informasi Gas Rumah Kaca BMKG Albert C Nahas menjelaskan, SILAM Urban dikembangkan menggunakan data inventori emisi lokal yang berasal dari berbagai sumber pencemar udara. “Informasi yang dihasilkan, mencakup enam jenis polutan utama, termasuk PM2.5,” tandasnya.

Dengan alat ini, masyarakat dapat melihat peta kualitas udara perkecamatan, tren Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) hingga tiga hari ke depan, kondisi meteorologi, peringkat kecamatan berdasarkan kualitas udara, hingga grafik konsentrasi polutan. 

Menurut Albert, teknologi tersebut akan menghasilkan prakiraan yang lebih akurat dan spesifik, sehingga dapat menjadi dasar pengambilan keputusan, baik bagi Pemerintah maupun masyarakat. 

Baca juga : Perjalanan Haji Sharfina, Inspirasi Penyandang Disabilitas

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi mengatakan, pengembangan sistem peringatan dini kualitas udara merupakan bagian dari strategi Pemprov DKI untuk memperkuat upaya pencegahan pencemaran udara. 

Adsense

Menurutnya, sistem tersebut memungkinkan Pemerintah Provinsi DKI mengambil langkah mitigasi lebih cepat, sebelum kualitas udara memburuk. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense