BREAKING NEWS
 

Meski Waduk Jatiluhur Surut Akibat Kemarau

Cadangan Air DKI Masih Aman Hingga Akhir 2026

Reporter : DEDE ISWADI IDRIS
Editor : DAUD FADILLAH
Sabtu, 5 September 2026 06:25 WIB
Para pimpinan Perumda PAM Jaya dan para pimpinan Perum Jasa Tirta II berdiskusi mengenai kondisi Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, Senin (31/8/2026). (Foto: Dede Iswadi/RM.id)

 Sebelumnya 
Menurut Anom, kondisi awal 2026 menjadi salah satu alasan Jatiluhur masih memiliki cadangan cukup menghadapi kemarau.

Pada 1 Januari lalu, TMA waduk berada pada level tinggi, sehingga cadangan air yang terkumpul dapat dimanfaatkan selama musim kering.

PJT II pun rutin melakukan simulasi ketersediaan air setiap dua minggu. Hasil perhitungan menunjukkan, hingga 31 Desember 2026, masih terdapat potensi ketersediaan air sekitar 3,6 miliar meter kubik.

Angka tersebut berasal dari volume efektif yang tersedia saat ini, sebesar 1,25 miliar meter kubik. Aliran Sungai Citarum hingga akhir tahun sekitar 1,97 miliar meter kubik, serta sumber setempat sekitar 374 juta meter kubik.

Baca juga : Kenangan Buruk Si Ular

Sementara kebutuhan air yang harus dirilis hingga akhir tahun, diperkirakan sekitar 2,658 miliar meter kubik. Rinciannya, 1,95 miliar meter kubik untuk irigasi dan 708 juta meter kubik untuk kebutuhan PDAM, industri, serta kebutuhan lainnya.

Hasil simulasi itu menunjukkan, neraca air masih positif. “Sehingga, balancing-nya masih plus 976 juta meter kubik,” ujar Anom.

Meski angka cadangan masih aman, PAM Jaya tetap waspada. Arief mengatakan, pihaknya membuka ruang untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) jika diperlukan.

Koordinasi dengan pemerintah daerah dan lembaga terkait juga terus dilakukan, untuk menjaga sumber air baku Jakarta.

Baca juga : Debut Peringkat 1 Dunia, Jojo Ditekuk Diaspora Muda

“Kami ingin memastikan, sumber air yang saat ini kita andalkan dari Jatiluhur, terjaga. Itu bentuk partisipasi kami supaya Jakarta tetap aman,” kata Arief.

PAM Jaya juga memantau sumber air lain. Salah satunya kawasan Hutan Kota 1 yang menghadapi persoalan intrusi air laut. Kondisi ini membuat kadar total dissolved solids (TDS) di kawasan tersebut sudah berada di atas 2.000, dan menjadi salah satu kendala pasokan untuk Jakarta Barat.

Karena itu, PAM Jaya tengah melakukan rekayasa saluran untuk menyeimbangkan distribusi sumber air. Pemanfaatan air hujan juga didorong sebagai bagian dari strategi mitigasi.

Arief menegaskan, kondisi tersebut belum berarti Jakarta mengalami krisis air. Air masih tersedia dan terus diproses untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Baca juga : AS-Indonesia Perangi Kejahatan Lintas Negara

PAM Jaya akan terus memantau kondisi sumber air dan melaporkannya kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung setiap pekan. [DRS]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense