RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kurang gercep (gerak cepat) dalam memberikan peringatan dini mengenai dampak negatif erupsi Gunung Anak Krakatau, sehingga aktivitas masyarakat masih tinggi di tengah sebaran abu vulkanik di berbagai wilayah Ibu Kota. Sistem peringatan dini perlu dievaluasi agar ke depan bisa lebih baik.
Penilaian itu disampaikan Anggota Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta William Aditya Sarana. “Seharusnya gercep,” kata William, Minggu (6/9/2026).
Menurut William, keresahan warga atas erupsi Gunung Krakatau sudah ramai terlihat di media sosial (medsos). Bahkan, banyak yang membatalkan berolahraga pada Minggu pagi, karena khawatir terpapar abu vulkanik.
“Pemprov DKI tidak memberikan peringatan dini yang memungkinkan warga bersiap-siap lebih baik. Setelah warga lebih dahulu memviralkan situasinya, Pemprov baru menyadari kondisinya lumayan mengkhawatirkan,” katanya.
Baca juga : Bayern Munchen Vs Bodo/Glimt, Modal Rekor 23 Tahun
William pun mengkritik penyampaian informasi melalui aplikasi Jakarta Kini (JAKI) yang dinilai belum cukup efektif. Terlebih, informasi tersebut tidak muncul sebagai notifikasi langsung kepada pengguna.
Karena itu, William mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengembangkan sistem peringatan dini yang lebih menjangkau masyarakat. Salah satunya, dengan memanfaatkan layanan pesan singkat atau short message service (SMS).
“Untuk memberitahu abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau itu akan datang ke Jakarta, atau hal serupa pada waktu mendatang,” saran Ketua Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DPRD DKI ini.
Dengan peringatan lebih awal, kata William, warga bisa menyiapkan perlindungan diri dan menyesuaikan aktivitas. Termasuk membeli masker, mengubah jadwal kegiatan di luar rumah, hingga mengantisipasi debu masuk ke dalam rumah.
Baca juga : Sempat Buram Pasca Benturan Di Monza, Penglihatan Leclerc Pulih
Sebagai informasi, Pemprov DKI Jakarta mempercepat pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, yang sudah kadung berjalan pada Minggu (6/9/2026).
CFD yang biasanya berakhir pukul 10.00 WIB dipercepat. Jalur kendaraan dibuka sekitar pukul 09.00 WIB. Petugas Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta menyisir kawasan menggunakan kendaraan patroli sambil mengimbau warga meninggalkan area.
“Akibat abu Gunung Anak Krakatau, maka kami imbau kepada warga yang sedang berolahraga untuk meninggalkan area,” ujar petugas melalui pengeras suara.
Sedangkan Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, melalui keterangan tertulis pada Minggu (6/9/2026), sekitar pukul 10.01 WIB, mengingatkan warga agar meningkatkan kewaspadaan. Karena, abu vulkanik bukan debu biasa. Partikelnya sangat halus dan dapat mengandung silika, serta material kaca vulkanik yang bersifat abrasif.
Baca juga : Raisya Bawazier Mantap Cerai, Minta Talak 3
Paparan abu vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan, mata, dan kulit. Gejalanya antara lain batuk, iritasi tenggorokan, sesak napas, mata merah dan perih, hingga rasa gatal pada kulit.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.