Sebelumnya
Abu vulkanik juga berpotensi memperburuk penyakit pernapasan, seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Karena itu, Dinkes DKI meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika konsentrasi abu meningkat. Pintu dan jendela rumah juga sebaiknya ditutup rapat, agar abu tidak mudah masuk.
Bagi warga yang harus beraktivitas di luar rumah, Dinkes DKI menyarankan penggunaan masker KN95 atau N95 serta kacamata pelindung. Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta warga dengan penyakit pernapasan, mesti lebih berhati-hati.
Warga juga perlu waspada saat membersihkan abu yang menempel di rumah, kendaraan, maupun lingkungan sekitar. Gunakan masker, kacamata, sarung tangan, pakaian lengan panjang, dan sepatu tertutup. Abu sebaiknya tidak disapu dalam kondisi kering karena dapat kembali beterbangan dan terhirup.
Baca juga : Bayern Munchen Vs Bodo/Glimt, Modal Rekor 23 Tahun
Dinkes menganjurkan warga membasahinya dengan air secukupnya. Namun, jangan berlebihan menggunakan air, karena menyebabkan abu menggumpal. Abu yang menggumpal, dapat menyumbat saluran air dan memicu genangan.
Setelah beraktivitas di area yang terpapar abu, warga perlu segera membersihkan diri, mandi dan keramas, serta mengganti pakaian. Pakaian yang terkena abu, sebaiknya dicuci secara terpisah.
Dinkes DKI meminta warga tidak mengabaikan gangguan kesehatan setelah terpapar abu vulkanik. Jika muncul sesak napas, batuk yang semakin berat, nyeri dada, atau gangguan penglihatan, segera cari pertolongan medis di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Baca juga : Sempat Buram Pasca Benturan Di Monza, Penglihatan Leclerc Pulih
Praktisi kesehatan Ngabila Salama mengatakan, dampak paparan abu vulkanik tidak selalu muncul seketika. Efek akut dapat dirasakan dalam hitungan jam hingga tujuh hari. Sedangkan dampak kronis bisa muncul dalam tujuh hingga 14 hari atau lebih.
Selain gangguan pernapasan, paparan dalam jangka panjang perlu diwaspadai karena dapat berkaitan dengan gangguan sirkulasi, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, gangguan hormon hingga masalah kesehatan mental.
Untuk mencegah paparan, Ngabila meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika terpaksa keluar, anak berusia di atas tiga tahun dan orang dewasa dianjurkan menggunakan masker KN95, KF94, atau N95.
Baca juga : Raisya Bawazier Mantap Cerai, Minta Talak 3
“Masker sebaiknya diganti setiap empat hingga delapan jam, atau ketika sudah basah. Warga juga dianjurkan mengenakan kacamata hitam serta pakaian tertutup yang nyaman,” kata Ngabila, Senin (7/9/2026).
Setelah sampai di rumah, Ngabila menyarankan segera mandi dan ganti pakaian yang digunakan di luar, agar partikel abu tidak terus menempel pada kulit. Pakaian yang dipakai dari luar pun sebaiknya segera dicuci.
“Untuk menjaga kondisi tubuh, minum yang cukup, konsumsi makanan bergizi tinggi protein, serta menggunakan pelembap kulit jika mengalami iritasi. Jika mata terasa perih, tetes mata steril dapat digunakan,” sarannya. [DRS/RAA]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.