RM.id Rakyat Merdeka - Jumlah dan kapasitas laboratorium sebagai ujung tombak penguji terjangkit atau tidaknya pasien terhadap virus corona masih sangat kurang.
Baca juga : Cegah Penyebaran Corona, Dito Ganinduto Serahkan Bantuan Lewat Golkar
Keterbatasan itu dilihat langsung oleh jajaran Komisi E DPRD DKI Jakarta, saat mengunjungi tiga RSUD. Yaitu RSUD Pasar Minggu Jakarta Selatan, RSUD Koja Jakarta Utara dan RSUD Tarakan Jakarta Pusat.
Baca juga : Rakyat Teriak Ke Pemerintah Sembako Mahal Dan Langka
Wakil Ketua Komisi E, DPRD Provinsi DKI Jakarta, Anggara Wicitra Sastroamidjojo menilai, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) rujukan pasien terpapar virus corona belum optimal melakukan penanganan. Agar penanganan pasien positif corona ini cepat dan akurat, ujarnya, Komisi E akan mendorong Dinas Kesehatan segera menetapkan RSUD rujukan pasien corona secara terpusat. Sehingga, meminimalisir risiko penularan yang kini terus terjadi secara masif di DKI Jakarta.
“Kami sudah jauh-jauh hari mendorong Dinas Kesehatan untuk menaikkan jumlah kapasitas pemeriksaan laboratorium. Salah satu hambatan di lapangan adalah hasil lab yang begitu lama. Akhirnya teman-teman medis yang di bawah (RSUD) ini tidak bisa cepat mengambil tindakan. Itu (hasil lab) jadi kunci utama,” ujar Anggara di RSUD Koja, Jakarta Utara.
Dia mengusulkan, harus ada satu RSUD yang didedikasikan khusus untuk Covid-19. Jadi, semua pasien terkait Covid-19 bisa diarahkan ke sana, terpusat kontrolnya. Penanganannya juga jadi lebih optimal.
Sementara, Direktur Utama RSUD Pasar Minggu, Yudi Amiarno mengaku, pihaknya terus berupaya memastikan pasien corona di Jakarta Selatan dapat tertangani dengan baik. Meski sejauh ini pihaknya masih berharap agar RS rujukan pasien corona dapat dilakukan terpusat di Wisma Atlet Kemayoran, sebagaimana ditunjuk Pemerintah pusat.
“Wisma Atlet sebagai rumah sakit khusus, punya tujuh tower. Baik untuk penanganan kasus positif, kasus PDP (Pasien Dalam Pemantauan) dan semua SDM di situ. Termasuk pengadaan barang jasa. Jadi pemantauannya jadi lebih mudah,” terangnya.
Meski demikian, pihaknya sedang mengupayakan agar penanganan skrining awal pasien corona dapat dilakukan dari jarak jauh. Salah satunya, melalui peranan teknologi seperti telemedicine.
“Sedang kita diskusikan agar telemedicine bisa diterapkan secepat mungkin. Seperti milik swasta (halodoc). Kalau itu sudah berjalan dan masyarakat bisa akses, tidak perlu lagi pasien-pasien yang ada sedikit gejala corona langsung datang ke sini. Sehingga pasien tidak melonjak di satu titik,” terang Yudi.
Sedangkan Direktur Utama RSUD Koja Jakarta Utara Ida Bagus Nyoman Banjar mengatakan, pihaknya memastikan kesiapan penanganan virus corona terus diutamakan sebagai rumah sakit tipe B di DKI Jakarta.
“Kami memiliki sekitar 850 perawat, 75 dokter. Empat di antaranya dokter spesialis paru. Kami juga memiliki laboratorium dan dua ruangan bertekanan negatif jika ada ‘suspect’ Covid-19,” terangnya.
Selain itu, pihaknya juga telah mempersiapkan posko hubungan masyarakat khusus bagi keluarga pasien corona. Tujuannya, untuk memonitoring secara berkala perihal perkembangan kesehatan pasien Corona.
“Jadi keluarga yang bersangkutan bisa memantau berkala soal progres pasien. Selain itu, juga tidak akan khawatir akan keberadaan pasien selama masa isolasi berlangsung (14 hari),” tandasnya. [MRA]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.