Sebelumnya
Menurut Anies, yang dilakukan Pemprov adalah melakukan pengetesan sebanyak mungkin untuk mencari orang orang yang positif. “Begitu ketemu positif, kalau dia tanpa gejala, tidak berisiko, isolasi mandiri. Kalau dia memiliki gejala atau berisiko, maka akan diminta isolasi di rumah sakit,” ujarnya.
Anies menjelaskan, target pengetesan di Jakarta minimal 10 ribu orang per minggu. Dalam sepekan terakhir, 43 ribu orang sudah dites. Dari total pengetesan, ada 6,3 persen yang positif.
Anies bilang, kalau mereka ini tidak ketahuan, maka akan menularkan ke lebih banyak orang lagi. Dia berharap, masyarakat ikut membantu menjelaskan bahwa angka positif yang ditemukan di Jakarta itu harus disyukuri. Karena kalau mereka tidak ketemu, mereka akan menularkan. Bayangkan kalau seseorang terpapar corona tapi tidak tahu terpapar. Orang itu pasti akan menularkan pada istrinya, anaknya, pada teman kerjanya, pada orangtuanya.
Baca juga : Corona Masih Tinggi, Seri F1 Brazil Dicoret
“Tapi dengan orang ini ketemu, maka dia bisa mencegah dirinya menularkan pada orang lain,” ujar Anies.
Menurut dia, banyak masyarakat yang menganggap kalau positif berarti masalah. Namun pilihannya adalah mau ditemukan atau tidak. “Kalau tidak ditemukan angkanya nanti kecil. Kalau kecil mungkin kita bersyukur Alhamdulillah tambahnya hari ini cuma 10, lha iya yang ditesnya sedikit,” ungkapnya.
Epidemiolog Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono mengatakan, penanganan kasus corona di Jakarta perlu bantuan dari pemerintah pusat. Soalnya Jakarta berinteraksi dengan kotakota satelit seperti Depok, Bogor, Bekasi dan Tangerang.
Baca juga : Tiba di Jakarta, Timnas Senior dan U-19 Langsung Rapid Test
Mobilitas warga yang begitu massif dari Bogor, Depok, Bekasi dan Tangerang membuat penanggulangan corona tak bisa dibereskan dengan batas batas wilayah administratif. Meskipun Jakarta dan Bodetabek adalah kota dan provinsi yang berlainan, namun dalam hal penyebaran virus corona, mereka merupakan satu wilayah terpadu. Karena itu, pemerintah pusat perlu turun tangan.
“Jabodetabek itu iramanya harus sama. Idealnya seperti itu. Manajemen satu kesatuan Jabodetabek itu harus bisa diatur bersama,” kata Pandu, kemarin.
Pandu memberi contoh soal merebaknya klaster perkantoran sebagai tempat penularan corona di Jakarta. Klaster itu dapat terdeteksi karena Pemprov DKI Jakarta melakukan pelacakan dan tes PCR secara gencar. Kapasitas pemeriksaan PCR DKI Jakarta bahkan hampir empat kali standar WHO. Namun, kemampuan itu tidak di miliki wilayahwilayah penyangga.
Baca juga : Menaklukkan Jakarta dengan Bubur Ayam Ala Mang Obek
Selama 10 hari terakhir, misalnya, DKI Jakarta beberapa kali mencatat kasus baru tertinggi, dengan kisaran ratarata 300-400 kasus baru per hari.
Pandu menegaskan, ketidakseriusan pemerintah dalam menanggulangi pandemi sudah pasti berbuntut pada peningkatan infeksi termasuk kasus harian. Menurutnya, pemerintah perlu menerapkan aturan tegas agar angka penularan virus bisa dikurangi. [BCG]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.