BREAKING NEWS
 

Kampus PTKI Pamer Inovasi Riset Mutakhir, Dari Baterai EV Hingga Mitigasi Iklim

Reporter & Editor :
M ADE AL KAUTSAR
Rabu, 25 Februari 2026 15:48 WIB
Forum virtual Inovasi Kajian Riset Akademik Ramadan (IKRAR) Seri #2 yang digelar Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama melalui platform Zoom, Selasa (24/2/2026).

RM.id  Rakyat Merdeka - Peran Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) kini tidak lagi sebatas pusat studi keagamaan, melainkan telah bertransformasi menjadi poros inovasi strategis dalam menjawab krisis global. Hal ini mengemuka melalui pemaparan sejumlah riset sains dan teknologi mutakhir dalam forum virtual Inovasi Kajian Riset Akademik Ramadan (IKRAR) Seri #2 yang digelar Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama melalui platform Zoom, Selasa (24/2/2026).

Agenda bertajuk "Frontiers of Islamic Research: Inovasi Riset PTKI dalam Merespons Krisis Kemanusiaan, Lingkungan, dan Teknologi" tersebut menampilkan hasil penelitian unggulan yang didanai melalui skema hibah Mora.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Prof. Sahiron, menekankan bahwa kampus Islam saat ini memiliki kapasitas untuk menghasilkan solusi nyata bagi peradaban. Transformasi akademik ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam memperluas akses pendidikan tinggi yang berkualitas melalui jalur penerimaan SPAN dan UM-PTKIN pada tahun ini.

Solusi Teknologi Dan Ekologi

Baca juga : Mendagri Ungkap Peran Kunci Data Dukcapil, dari Bansos hingga Keuangan Digital

Salah satu temuan menarik yang dipaparkan dalam forum tersebut berasal dari riset Abd Mujahid Hamdan, akademisi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Melalui penelitian yang dinamakan Green Synthesis, ia berhasil mengembangkan nanopartikel nikel oksida untuk anoda baterai kendaraan listrik dengan memanfaatkan ekstrak tumbuhan lokal.

"Inovasi ini mampu meningkatkan kapasitas baterai hingga 22,73 persen dibandingkan produk serupa di industri," ungkap Abd Mujahid Hamdan.

Adsense

Di samping menawarkan efisiensi energi, riset ini memberikan solusi pemulihan lingkungan melalui teknik phytomining, yakni pemanfaatan tanaman untuk menyerap dan membersihkan logam berat di lahan bekas tambang nikel. Temuan ini menempatkan PTKI sebagai aktor penting dalam rantai pasok teknologi hijau di tingkat nasional.

Baca juga : KPK: Barbuk OTT Pegawai Pajak Rp 6 M, dari Uang Hingga Logam Mulia

Sementara itu, dari sudut pandang ekologi sosial, Prof. Maghfur Ahmad dari UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menyoroti ancaman krisis iklim di pesisir Jawa Tengah. Dalam risetnya mengenai dekolonialisasi mitigasi perubahan iklim, Prof. Maghfur membedah kondisi rentan Kota Pekalongan yang terancam tenggelam pada tahun 2035 akibat penurunan muka tanah (land subsidence) yang masif.

Ia mengkritik pendekatan mitigasi yang selama ini bersifat dari atas ke bawah (top-down) karena kerap mengabaikan peran krusial perempuan pesisir serta kearifan lokal masyarakat setempat.

"Menjaga mangrove bukan sekadar menanam pohon, tapi menjaga tradisi dan identitas peradaban pesisir. Perempuan adalah aktor kunci yang memiliki pengetahuan mendalam tentang adaptasi iklim yang selama ini terpinggirkan oleh narasi sains modern," jelas Prof. Maghfur.

Baca juga : Indonesia Pamerkan Inovasi Pembiayaan Mangrove Di COP30 Brazil

Sebagai langkah konkret, riset ini mengusulkan sebuah prototipe gerakan ekologi yang bertumpu pada empat pilar utama, yakni tradisi, ekonomi, lingkungan, dan advokasi sosial.

Dorongan Hilirisasi

Agar temuan-temuan akademis tersebut membawa dampak nyata, Kasubdit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Diktis Kemenag, Nur Khafid, mendorong adanya langkah hilirisasi. Ia menegaskan, riset inovatif dari kampus Islam merupakan salah satu tulang punggung kemajuan nasional yang membutuhkan dukungan kolaborasi lintas disiplin antara akademisi, industri, dan masyarakat luas.

Ia berharap, melalui forum IKRAR ini, hasil penelitian dosen PTKI tidak berhenti di laboratorium atau jurnal ilmiah saja, tetapi dapat dihilirisasi menjadi kebijakan publik dan produk industri yang bermanfaat bagi kemanusiaan dan lingkungan," papar Nur Khafid.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense