Sebelumnya
Mungkin Indonesia merupakan satu di antara negara-negara yang mengalami shifting public space yang radikal. Karena public space idealnya disiapkan oleh negara, bukan oleh swasta. Sehingga kemudian para pebisnis berlomba-lomba mendirikan berbagai pusat perbelanjaan dengan beragam gimmick untuk memancing pengunjung.
Para pengusaha itu sadar bahwa karakter para pembeli di Indonesia itu sangat khusus, sehingga memerlukan pendekatan yang spesifik pula. Maka wajar jika ada pusat perbelanjaan yang kemudian sekaligus menjadi tempat wisata keluarga.
Baca juga : SIM Keliling Polda Metro, Cek Lokasinya Di Sini
Dalam konteks sosiologi ekonomi, mal adalah institusi sosial yang di dalamnya merupakan wujud dari lembaga-lembaga tempat masyarakat menerapkan berbagai pranata sosialnya. Namun mal juga merupakan presentasi institusi simbolik yang dalam prosesnya tidak selalu menyajikan realitas yang sebenarnya.
Jika meminjam istilah yang dikemukakan oleh filsuf Boudieu (1930 – sekarang) pada 1977, maka mal memang telah memberikan kontribusi kepada terlembagakannya ekspresi simbolis berikut pengakuan eksistensinya. Bahkan bisa dikatakan bahwa di dalam mal proses-proses produksi yang terjadi lebih banyak merupakan proses simbolik ketimbang substansi yang nyata.
Baca juga : Rachel Vennya, Eksis Lagi Di Medsos
Akibatnya nilai tambah pada barang-barang produksi lebih banyak dikerek oleh hal-hal yang bersifat simbolis dan abstrak seperti status sosial, eksistensi diri, dan sejumlah penamaan yang tidak nyata tetapi seperti ada.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.