Sebelumnya
Menurut Zainal, atribut NU yang dilarang digunakan dalam acara politik dari mulai bendera, kaus, seragam, jaket atau benda apapun yang berlambangkan NU. Termasuk kaus NU, seragam Ansor, dan jaket Banser.
“Ini sudah sesuai dengan instruksi Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya. Jangan sampai NU dijadikan tunggangan partai politik untuk kepentingan sesaat. Karena politik NU, politik kebangsaan,” katanya.
Baca juga : Ini Cara Nirina Zubir Agar Anak Suka Makan Buah
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menganalisa, masa depan hubungan PKB dengan PBNU semakin rumit. Kondisinya, saat ini sudah terjadi perang terbuka antara Cak Imin dengan Gus Yahya. Situasi ini, menyulitkan PKB dan Cak Imin di Pemilu 2024.
“Pernyataan Gus Yahya itu siapa lagi kalau bukan ke PKB. Itu sudah terang benderang. Perang terbuka antara Gus Yahya dengan Cak Imin. Bukan hanya PKB susah jualan NU, bahkan haram hukumnya PKB pakai nama NU,” ujar Adi, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Baca juga : Nggak Laku Di Eropa, Luis Suarez Pulang Kampung
Pengamat politik asal UIN Jakarta ini memastikan, pertarungan ini menyulitkan PKB di pesta demokrasi mendatang. Apalagi, partai ini ingin mengorbitkan Cak Imin sebagai calon kandidat di Pilpres 2024.
Artinya, akan tumbuh asumsi publik bahwa PKB dengan NU itu tidak solid. Padahal, basis PKB itu sendiri berasal dari Ormas NU. Jika perselisihan ini diteruskan, maka tidak menutup kemungkinan suara PKB akan merosot tajam.
Baca juga : Hari Anak Nasional, Anak Ini Bermain Sulap Dengan Jokowi
Adi juga menyatakan sangat sulit menyatukan Gus Yahya dengan Cak Imin. Termasuk, jika menggunakan jalur kekeluargaan. Pasalnya, perseteruan antara keduanya sudah masuk kategori perang terbuka.
“Suasananya, saat ini PKB tidak ada urusan dengan PBNU. Begitupun sebaliknya. Jadi ini agak rumit kalau mau disatukan,” pungkasnya. [BSH]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.