Sebelumnya
Soal ini juga sempat dibahas di Kongres V PDIP. Hasilnya, kata Hasto, sistem pemilu bisa dilakukan dengan proporsional tertutup. Sehingga Pemilu 2024 bisa jadi ajang parpol untuk saling berkontestasi.
Selain itu, dengan sistem proporsional tertutup, parpot terdorong untuk melakukan kaderisasi hingga memberikan insentif bagi peningkatan kinerja di DPR. "Karena ini adalah pemilu serentak antara Pileg dengan Pilpres, maka berbagai bentuk kecurangan bisa ditekan, sebab pelaksanaan Pemilu menjadi lebih sederhana," terangnya.
Baca juga : Ahmad Ali: KPU Jangan Bikin Kegaduhan Baru
Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Khoirunnisa Nur Agustyati mengkritik, Bos KPU yang mengomentari sesuatu hal yang belum berkepastian hukum. "Harusnya KPU itu bekerjanya berkepastian hukum. Salah satu prinsip penyelenggaraan pemilu itu predictable procedures. Harus bisa diprediksi," kritiknya Nisa ketika dikonfirmasi, kemarin.
Pengamat politik Universitas Syiah Kuala, Saifuddin Bantasyam menilai, sistem proporsional terbuka yang berlaku saat ini lebih demokratis dari pada sebelumnya. Selain itu masyarakat juga bisa memilih langsung sosok yang disukainya, bukan sekedar partai semata.
Baca juga : Fraksi PKS: Sistem Proporsional Terbuka Lebih Representatif Dan Demokratis
"Saya pikir kita tak boleh kembali ke masa lalu. Berpartai harus menyenangkan, jangan menjadi beban bacaleg dan caleg. Biarkan masyarakat memilih caleg yang mereka sukai," kata Saifuddin, tadi malam. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.