BREAKING NEWS
 

Lawan Krisis Iklim, Aktivis Perempuan Gelar Aksi Pedal untuk Rakyat

Reporter : OSPI DARMA
Editor : FAQIH MUBAROK
Senin, 13 Maret 2023 16:40 WIB
Aksi Pedal untuk Rakyat dan Planet di Bundaran HI, Minggu (12/3). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Memperingati momentum Bulan Perempuan Sedunia (International Women’s Month), aktivis perempuan di sejumlah negara di Asia menggelar aksi Pedal untuk Rakyat dan Planet (Women Pedal for People and Planet).

Kegiatan bersepeda bersama ini merupakan bentuk perlawanan terhadap krisis iklim yang berdampak pada kehidupan manusia dan ekologi.

Aksi ini diselenggarakan secara serentak di enam negara, yaitu Indonesia, India, Pakistan, Nepal, Vietnam dan Filipina. Aktivis Trend Asia, Maulida Rahma menuturkan, aksi mengayuh sepeda ini dilakukan untuk menguatkan kesadaran publik terkait perubahan iklim.

"Termasuk keterkaitannya dengan pangan, energi dengan melihat peran perempuan yang selama ini berjuang untuk keadilan iklim," katanya dalam siaran persnya, Senin (13/3).

Baca juga : Kontribusi Perempuan Iran dalam Mewujudkan Peradaban Baru Dunia

Berbagai penelitian menunjukkan, perempuan mengalami dampak yang lebih buruk akibat perubahan iklim. Perubahan Iklim memperberat beban perempuan karena peran domestik yang dilekatkan pada perempuan, yang turut menyebabkan perempuan lekat dengan alam, serta memiliki pengetahuan dan pengalaman yang khas.

Perempuan juga terdampak oleh berbagai proyek yang mengatasnamakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Adsense

"Di Banten, pembangkit listrik bertenaga batubara berpotensi menghilangkan pantai tempat para perempuan mencari nafkah sebagai pedagang," ujar Maulida.

Penurunan kualitas udara dan gangguan kesehatan akibat pembangunan dan operasi di sekitar PLTU juga menyebabkan anak-anak yang tinggal di sekitar area sakit ISPA. Situasi ini menambah beban yang dialami para ibu.

Baca juga : Peningkatan Kapasitas SDM, Mak Ganjar Gelar Latihan Bagi Pengrajin Batik

Tidak hanya itu, wilayah Hutan Tanaman Energi (HTE) telah merenggut tempat perempuan Mentawai berkebun dan mencari kayu bakar. Lalu, proyek geothermal di Purwokerto mengakibatkan mata air yang selama ini digunakan warga menjadi keruh.

Pengkampanye Hutan dan Kebun Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Uli Arta Siagian menyebutkan, transisi energi untuk keluar dari bahan bakar fosil tentu sangat penting sebagai cara untuk mengatasi krisis iklim.

Namun, sejumlah proyek pengembangan energi baru justru menghilangkan sumber-sumber kehidupan masyarakat.

Maka, dari dalam Aksi Pedal untuk Rakyat dan Planet, pihaknya menekankan bahwa mengayuh adalah cara untuk menghasilkan energi yang menggerakkan sepeda atau kendaraan lainnya.

Baca juga : Ganjar Milenial Center Banten Gelar Pelatihan Tata Rias Wajah

"Aksi ini menjadi simbol bahwa selama ini perempuan, terutama perempuan akar rumput bersama komunitasnya telah menghasilkan berbagai inisiatif untuk mengatasi krisis iklim dan menjaga keberlanjutan lingkungan," sebutnya.

Melalui aksi ini pihaknya mendesak pemerintah untuk melakukan upaya terbaik dalam mengatasi krisis iklim. Tidak menjadikan krisis iklim sebagai lahan investasi proyek energi. Melainkan dengan menghentikan bahan bakar fosil dan mengembangkan inisiatif berbasis masyarakat lokal dan komunitas. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense