RM.id Rakyat Merdeka - Pakar Lingkungan Universitas Indonesia Mahawan Karuniasa menyebutkan bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) bisa menjadi kontributor penting memangkas emisi Indonesia.
"Bahkan faktor emisi dari sub-sektor pembangkit pada tahun 2050 jauh berkurang menjadi hanya 3 persen saja dibandingkan kebijakan tanpa percepatan," kata Mahawa, di Seminar Transisi Energi Menghadapi Perubahan Iklim di Universitas Sumatera Utara, Rabu (30/8).
Pendiri dan CEO Environment Institute ini menambahkan bahwa sumber emisi Indonesia akan beralih dari aktivitas berbasis lahan ke sumber emisi dari sektor energi.
Baca juga : Pakar Lingkungan: PLTA Solusi Atasi Perubahan Iklim
"Sehingga agenda energi bersih Indonesia perlu prioritaskan PLTA selain penerapan teknologi Carbon Capture Storage (CCS) maupun Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) pada pembangkit yang masih menggunakan batubara," sarannya.
Seperti diketahui, Badan Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organisation (WMO) memperingatkan, temperatur global kemungkinan besar akan terlampaui diatas 1,5 derajat Celsius secara temporer pada 5 tahun kedepan.
"Tentu saja hal ini akan berdampak pada meningkatnya bencana hidrometeorologis seperti banjir, longsor, dan angin ekstrem di Indonesia," imbuhnya.
Baca juga : Konstruksi KA Cepat Dibikin Untuk 100 Tahun, Pembangunan Prasarana Diawasi Ketat
Transisi energi nilainya sangat penting untuk menghadapi perubahan iklim. Pada saat bersamaan untuk memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat karena pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kesejahteraan.
Sementara Guru Besar Ilmu Kehutanan Universitas Sumatera Utara, Rahmawaty bicara soal implementasi transisi energi.
"Pembangunan pembangkit listrik di lapangan dapat diintegrasikan dengan manajemen konservasi serta pelestarian ekosistem hutan," tutur Rahmawaty.
Baca juga : Dukung Transisi Energi, Pertamina Lakukan Inovasi Ini
Sesuai Agenda Net Zero Emission (NZE), Indonesia ditargetkan mencapai emisi bersih atau seimbang antara emisi dan penyerapan yang dilakukan pada tahun 2060 atau lebih cepat.
Seminar ini juga menghadirkan Dirjen EBTKE Yudo Dwinanda Priaadi, Anggota DPRD Sumatera Utara Zeira Salim Ritonga dan Guru Besar dari Universitas Negeri Medan Baharuddin.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.