BREAKING NEWS
 

Masih Banyak Impor, Produksi Dalam Negeri Pipa Gas Belum Mampu Penuhi Kebutuhan

Reporter & Editor :
MARULA SARDI
Jumat, 16 Agustus 2024 15:39 WIB
Ilustrasi pipa gas. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) menyebutkan komoditas Oil Country Tubular Goods (OCTG) atau produk pipa dan aksesoris pipa yang digunakan dalam industri minyak dan gas (migas) di Indonesia mayoritas masih impor.

Asisten Deputi Industri Maritim dan Transportasi Kemenko Marves M. Firdausi Manti mengatakan, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) komoditas OCTG ini masih minim, karena belum didukung produksi lokal yang cukup.

Produk OCTG mencakup casing, tubing, dan accesories di Indonesia diproduksi oleh 16 perusahaan yang tergabung dalam asosiasi Apropipe dan PROA, dengan kapasitas 1 juta ton per tahun.

Firdausi menjelaskan, TKDN masing-masing produk yakni casing berada di rentang 15-47 persen, piping 15-47 persen, dan accessoriessebesar 15-50 persen.

Baca juga : Soal Isi Kontainer Impor, Kemenperin Belum Puas Jawaban Bea Cukai

"Komoditas OCTG dari hulu ini, kapasitas produksi ada 230 ribu ton, produksinya sekarang baru 15.000 ton," ungkapnya saat IOG SCM Summit 2024, Kamis (15/4/2024).

Kemudian, lanjut dia, sektor intermediate atau tengah mencakup heat treatment dan ulir kapasitasnya hampir 350 ribu ton, namun produksi dalam negeri masih di bawah 38.000 ton.

Terakhir komoditas OCTG yang di sektor hilir dan finishing, kapasitas yang diperlukan hampir 630 ribu ton, namun produksinya baru sekitar 348 ribu ton. Dengan demikian, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) masih harus banyak mengimpor.

Adsense

"Untuk KKKS ini masih melaksanakan dan melakukan importasi sekitar 200.000 ton produk komoditas OCTG," ungkap Firdausi.

Baca juga : Berziarah Ke Makam Ibnu Batutah

Firdausi mengakui angka impor masih jauh lebih tinggi dari kegiatan ekspor komoditas OCTG, di mana pada tahun 2023 impor OCTG sebesar 201.731 ton sementara ekspornya 70.210 ton.

Sejak tahu 2018, tren impor komoditas OCTG berfluktuasi. Sementara realisasi impor pada 2023 merupakan rekor tertinggi, melonjak dari realisasi pada 2022 yakni sebesar 102.984 ton.

"Untuk kode HS produk OCTG, casing, tubing, jumlah impornya masih lebih besar. Tahun 2023 juga, lonjakannya juga lebih besar untuk importasi dibandingkan dengan tren ekspornya," kata Firdausi.

Dia menambahkan, jika dibandingkan antara beban biaya dan pemenuhan TKDN, porsi material memiliki porsi biaya terbesar sebesar 75,12 persen, namun capaian TKDN baru 5,8 persen karena bahan bakunya sebagian besar masih impor.

Baca juga : Kamala Harris Gaspol Blusukan Temui Warga

"Dalam porsi lainnya, seperti tenaga kerja, alat kerja, dan jasa umum itu mencapai TKDN yang tinggi dengan porsinya di atas 75 persen," pungkas Firdausi.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo sempat jengkel terkait adanya impor pipa di Indonesia. Karena pipa yang diimpor tersebut ternyata bisa diproduksi oleh pabrik di dalam negeri.

Kemarahan Jokowi tersebut disampaikan pada pembukaan Rakornas Pengawasan Intern Pemerintah Tahun 2022 di Istana Negara. Bukannya berkurang, ternyata jumlah impor komoditas Oil Country Tubular Goods (OCTG) yang mengacu pada pipa untuk industri hulu minyak dan gas bumi (migas) lebih besar daripada ekspor pada tahun 2023.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense