RM.id Rakyat Merdeka - Aksi peringatan darurat yang viral di media sosial serta masifnya demonstrasi di berbagai daerah beberapa waktu lalu, hanya gejolak sesaat. Situasi politik jelang transisi pemerintahan dari Presiden Jokowi ke Presiden terpilih Prabowo Subianto relatif stabil.
Demikian penilaian Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari saat menjadi bintang tamu di Podcast Ngegas Rakyat Merdeka yang dipandu Editor Rakyat Merdeka Siswanto. Qodari membantah berbagai isu terkait ancaman gejolak politik yang bisa mengganggu jalannya transisi pemerintahan.
“Sekarang, setelah yang mulia Paus Fransiskus datang ke Indonesia, sudah tidak ada lagi demo-demo. Semua berhenti. Berarti Indonesia baik-baik saja,” kata Qodari.
Menurut Qodari, hadirnya pimpinan umat Katolik sedunia ini, sekaligus menjadi tanda tidak perlu lagi meragukan stabilitas politik dan keamanan nasional di Indonesia. Sebab, kalau Indonesia sedang kacau, kata dia, pasti Paus tidak bakal jadi datang ke Indonesia.
“Kedatangan Paus itu sesungguhnya menunjukkan kepercayaan Paus yang begitu besar kepada Indonesia bahwa negara ini baik-baik saja,” tegasnya.
Baca juga : Jokowi Pamitan Dan Minta Maaf
Qodari bahkan berani menjamin, gejolak yang terjadi di tengah masyarakat hingga berujung aksi demonstrasi beberapa waktu lalu, bukan ancaman terhadap keamanan nasional. Apalagi jika disebut-sebut bakal berakhir dengan menggulingkan Pemerintahan Presiden Jokowi.
Menurut Qodari, masalah utama di balik aksi tersebut sebenarnya ada di MK dan DPR. Karena masyarakat menilai, niat DPR merevisi Putusan MK dapat berpotensi mengganjal calon-calon tertentu agar Pilkada hanya diikuti calon tunggal melawan kotak kosong. Hal inilah yang menimbulkan isu darurat nasional.
“Tapi isunya selesai karena kan sudah diakomodasi dan sudah diimplementasikan bahwa keputusan yang dipakai KPU untuk Pilkada itu adalah putusan MK,” jelas Qodari.
Kalau mau ada aksi demonstrasi, kata Qodari, tentu saja kehadiran Paus ke Indonesia tidak bakal jadi penghalang. Dia pun menilai, peringatan darurat itu kehilangan relevansinya dengan kedatangan Paus. Apalagi selama perjalanan apostolik di Indonesia, semua agenda Paus berjalan dengan aman dan damai.
“Alhamdulillah kan sampai detik terakhir beliau meninggalkan Indonesia nggak ada teroris, nggak ada demo. Jadi, istilahnya jarum jatuh pun nggak ada,” tekan Qodari.
Baca juga : Dilepas Dengan Tangis, Paus Terharu
Berkaca dari peristiwa 98’, Qodari mengatakan, kejatuhan suatu Pemerintahan hanya mungkin terjadi jika ada dua elemen dasar. Yakni krisis ekonomi dan krisis pangan. Tapi, selama Pemerintahan Jokowi, menurut Qodari, kedua hal itu sama sekali tak terjadi.
Bahkan, menurutnya, beberapa tahun terakhir ini kondisi ekonomi Indonesia sangat stabil dan meningkat konsisten di angka 5 persen. Kemudian, pasokan kebutuhan-kebutuhan barang pokok juga tersedia.
“Kita bahkan sudah melewati situasi yang sangat ekstrim, yaitu pandemi Covid-19. Di mana orang enggak bisa bergerak, kegiatan-kegiatan terhambat, tapi kebutuhan pangan menurut saya dapat ditangani dengan baik. Apalagi kalau nggak Covid,” sebutnya.
Qodari berani menyampaikan, seandainya hari ini dilakukan survei, tingkat kepuasan publik terhadap Pemerintahan Jokowi di penghujung masa tugasnya pada 20 Oktober mendatang masih tetap tinggi. “Mungkin masih di atas 70-an persen,” sebutnya.
Terakhir, Qodari berusaha meluruskan kabar yang menyebut terjadi keretakan hubungan antara Presiden Jokowi dan Presiden Terpilih Prabowo Subianto akibat putusan MK. Menurutnya, proses transisi kekuasaan dari Pemerintahan Presiden Jokowi-Ma’ruf Amin ke Prabowo-Gibran Rakabuming Raka bisa dijadikan dalil untuk menepisnya. Dia bilang, saat ini kedua tokoh tersebut justru sedang mesra-mesranya dan membuat peralihan berlangsung smooth.
Baca juga : Beringin Ajak Rakyat Lakukan Pengawasan
Salah satu alasannya, kata Qodari, Prabowo mengusung program keberlanjutan yang membuat transisi berlangsung tanpa resistensi. Bahkan, APBN 2025 yang bakal digunakan Pemerintahan Prabowo, telah disiapkan Jokowi.
Dalam beberapa kesempatan, lanjut Qodari, Jokowi dan Prabowo juga saling melempar pujian. Contoh paling anyar ketika keduanya hadir dalam apel Partai Gerindra. “Jadi kalau ada sinyalemen dua orang ini retak, itu sinyal yang sangat mengada-ngada,” tegasnya.
Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Sabtu, 7 September 2024 dengan judul Qodari Di Podcast Ngegas Rakyat Merdeka, Politik Stabil, Kepuasan Masyarakat Masih Tinggi
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.