RM.id Rakyat Merdeka - Penerapan BBM rendah sulfur diminta banyak pihak agar segera diberlakukan di Indonesia. Ini penting untuk menunjukan keseriusan Pemerintah mengatasi pencemaran udara.
Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal, Ahmad Safrudin menyampaikan, berdasarkan Peraturan Menteri KLHK No.20 tahun 2017 maka BBM jenis bensin seharusnya sudah memenuhi standar emisi Euro 4 sejak 2018 dan untuk diesel terhitung April 2022. Sehingga, sebenarnya tidak ada alasan lagi untuk menunda-nunda penerapannnya.
"Penerapannya sangat mendesak karena kualitas udara kita semakin memburuk. Semua parameter yang digunakan untuk mengukur kualitas udara menunjukkan penurunan, sehingga kondisi di kota-kota besar di Indonesia, khususnya wilayah Jabodetabek, sudah memasuki tahap krisis," ujar Ahmad dalam keterangannya kepada Rakyat Merdeka.
Menurut dia, kualitas BBM baik diesel maupun bensin yang saat ini disediakan di pasaran sebagian besar tidak memenuhi standar Euro 4/IV, diakibatkan kandungan sullfur yang sangat tinggi.
Baca juga : Warganet Ucapkan Terima Kasih Ke Jokowi Via Postingan Ajudan
Kandungan sulfur yang tinggi ini berkontribusi secara signifikan kepada pencemaran udara, mengingat bahwa gas buang kendaraan bermotor merupakan penyumbang polusi terbesar di wilayah perkotaan khususnya Jabodetabek.
"Di Indonesia semua tipe BBM baik diesel maupun bensin yang ada di pasaran ini hanya memenuhi standar Euro1 dan ada beberapa yang memenuhi standar Euro3. Hanya satu yang memenuhi standard Euro4/IV yaitu Pertamax Turbo (bensin) dan Perta-DEX HQ (solar/diesel fuel), namun demikian pasokannya sangat kecil sekitar 1 persen atau 400 rb KL/tahun dan bahkan Perta-DEX HQ malah diekspor semua ke Malaysia,” ujarnya.
Epidemiolog dari Universitas Indonesia Budi Haryanto mengamini bahwa penerapan BBM rendah sulfur seperti BBM jenis Euro 4 bisa menekan polusi udara hingga 45-55 persen. Hal itu dinilai dari penurunan kandungan partikel udara atau Particulate Matter (PM)2,5.
"Setiap peningkatan 10 kubik PM 2,5 maka berhubungan dengan peningkatan pneumonia. Kalau dibiarkan polusi udara meningkat tanpa ada upaya yang cepat, kalau kita serang dulu kualitas bahan bakar jadi Euro 4 maka ketika diterapkan katakan 45-55 persen polusi udara tertangani," ujarnya.
Baca juga : Koalisi Tanah Bumbu Bersatu Tangani Stunting
Budi menilai jika pemerintah segera memperbanyak pilihan jenis BBM Euro 4 maka polutan Nitrogen Oxide (NOx) dan PM2,5 menurun sehingga berpotensi menurunkan penyakit berkaitan polusi udara dan ujungnya mengurangi biaya masyarakat untuk pengobatan.
Sebelumnya, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kemenko Marves Rachmat Kaimuddin mengatakan, Pemerintah tengah mendorong Pertamina untuk menghadirkan produk BBM dengan kandungan sulfur rendah.
Adapun, 6 kilang Pertamina yang dinilai sudah mampu memproduksi BBM rendah sulfur untuk solar dan bensin yaitu Refinery Unit (RU) II Dumai, RU III Plaju, RU IV Cilacap, RU V Balongan, dan TPPI Tuban.
Kaimudin menyebut, untuk solar, ketersediaan solar sulfur 50 ppm (biosolar subsidi dan non-subsidi) kemungkina akan tersedia pada triwulan III atau triwulan IV tahun ini yang diproduksi lewat RU IV Cilacap, RU V Balikpapan, dan RU VI Balongan. Sedangkan, untuk bensin, kilang Pertamina baru akan memproduksi BBM rendah sulfur pada triwulan I 2025 oleh RU II Dumai, RU V Balikpapan, RU IV Cilacap.
Baca juga : Hore, Bandara IKN Sudah Siap Digunakan
Sementara, SVP Business Development Pertamina Wisnu Medan Santoso mengatakan pihaknya memahami target pemerintah untuk melakukan pembaruan atau upgrade BBM ke standar Euro 4.
"Melalui investasi pertamina di Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan kami sudah invest sekitar 5 miliar dolar AS itu akan bisa produksi BBM kualitas EURO5. Tapi memang untuk meningkatkan kilang lain juga investasinya cukup lumayan ada sekitar hampir 2 miliar dolar AS," tuturnya.
Dalam hal ini, Wisnu juga mengungkap pihaknya tengah menunggu pemerintah terkait revisi Perpres terkait penyaluran BBM. Dengan demikian, Pertamina selaku BUMN bisa mendapatkan kompensasii terkait penambahan ongkos produksi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.