RM.id Rakyat Merdeka - Dewan Persusuan Nasional (DPN) secara resmi mempersembahkan gelar ‘Bapak Peternak Sapi Perah Rakyat dan Koperasi Susu’ kepada mantan Menteri Koperasi di era Presiden Soeharto, Bustanil Arifin.
Pemberian gelar itu dilaksanakan di Auditorium Kementerian Koperasi dan UMKM, Jalan Rasuna Said, Jakarta, Kamis (10/10/2024).
Ketua Dewan Persusuan Nasional, Teguh Boediyana menjelaskan alasan pihaknya memberikan gelar 'Bapak Peternak Sapi Perah Rakyat dan Koperasi Susu' kepada Bustanul Arifin. Teguh bilang, tahun 1978 menjadi tonggak perkembangan peternakan sapi perah rakyat.
"Diangkat Presiden Soeharto sebagai salah satu menteri muda di eranya, sekaligus merangkap sebagai Kepala Bulog, Pak Bus (sapaan Bustanil Arifin) berani membuat kebijakan politik yang luar biasa," kata Teguh, membuka sambutannya.
Baca juga : Dexa Medica Gelar Skrining Gratis Cegah Penyakit Jantung Di Usia Muda
Bustanul, tambah Teguh, memaksa industri pengolahan susu untuk menyerap susu yang dihasilkan para peternak sapi perah rakyat dengan harga Rp 150-180 per liter. Padahal, sebelumnya cuma di kisaran angka Rp 60 per liternya.
"Kebijakan adanya kepastian pasar dan harga yang layak tersebut ternyata menjadi 'panacea', dan dengan sangat cepat telah mampu menggerakkan peternak sapi perah rakyat bangkit," ujar Teguh.
Sejak saat ini, peternak sapi perah menggeliat. Mereka ramai-ramai membenahi usaha peternakannya. Tujuannya untuk berkontribusi memperbanyak produksi susu guna mencukupkan kebutuhan pangan dalam negeri.
"Pada saat itu tercatat hanya ada 11 koperasi susu dengan sebagian kondisi hidup segan, mati tak mau. Pada Juli 1978 Pak Bus membantu koperasi yang ada untuk melaksanakan Temu Karya di Puslatpenkop Jakarta (sekarang menjadi Smesco)," ujar Teguh.
Baca juga : Soal Tawaran Menteri, Sekjen Hasto: Kabinet Adalah Hak Prerogatif Presiden
Dia menambahkan, pertemuan ini dimotori oleh pendiri Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Daman Danuwijaya di Desa Pangalengan, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
"Dari temu karya ini kemudian berhasil membentuk Badan Koordinasi Koperasi Susu indonesia yang menjadi embrio Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI)," paparnya.
Tak cuma itu, Bustanil juga melakukan terobosan baru dengan menggandeng beberapa perusahaan perbankan plat merah untuk membantu biaya operasional peternak sapi perah. Mereka diberikan kredit murah dengan skim kredit 72/kop dari BRI.
"Skema ini dijamin oleh Lembaga Jaminan Kredit Kopreradsi (LJKK) yang didirikan oleh Ditjen Koperasi Kementerian Koperasi saat itu," jelas dia.
Baca juga : KPK Gelar OTT di Kalsel, Pejabat Daerah Diamankan
Di kesempatan sama, Deputi Bidang Perkoperasian Kemenkop UMKM, Ahmad Zabadi mengapresiasi atensi Dewan Persusuan Nasional kepada penggerak ekonomi kerakyatan.
"Tidak bisa dipungkiri peran besar Pak Bustan dalam peternakan sapi perah rakyat yang diwujudkan dalam pengembangan koperasi susu di Indonesia. Secara nyata sampai saat ini masih dirasakan keberadannya," imbuh Zabadi.
Dia menegaskan, koperasi susu menjadi motor dalam mengkonsolidasikan dan mengembangkan perusahaan sapi perah dan susu di Tanah Air. Hal itu dibuktikan dari komitmen koperasi susu sapi perah yang hingga kini masih eksis.
"Itulah Pak Teten Masduki (Menkop UMKM) memberikan apresiasi yang tinggi terhadap ikhtiar yang sudah dibangun dan kita rasakan peran Pak Bustan, dan sekaligus persetujuan beliau kepada DPN yang meneguhkan dalam pengembangan sapi perah dan susu di Indonesia," papar Zabadi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.