BREAKING NEWS
 

Ilham Habibie: Tarif Trump, Isyarat Pentingnya Re-Industrialisasi Bagi Negara

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Rabu, 23 April 2025 11:22 WIB
Ketua Umum PII Ilham Habibie dalam pertemuan dengan Forum Pemred di Jakarta, Selasa (22/4/2025). (Foto: Firsty Hestyarini/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Ilham Habibie menyampaikan pandangannya soal tarif "resiprokal" Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang bikin heboh dunia. Di luar perdebatan soal fair atau tidaknya tarif Trump, Ilham menilai kebijakan tersebut sebagai upaya pemerintah AS untuk melakukan re-industrialisasi.

“Menarik sekali kalau kita menganalisis, mengapa itu terjadi? Karena Amerika Serikat pun mau re-industrialisasi. Karena dia mau mengembalikan industri yang tadinya sudah keluar. Meski mungkin kita tidak sepakat dengan caranya. Tapi filosofinya adalah re-industrialisasi," terang Ilham dalam pertemuan dengan Forum Pemred di Jakarta, Selasa (22/4/2025).

Salah satu contoh industrialisasi AS yang dikerjakan di luar negeri adalah pembuatan iPhone. Telepon pintar itu memang dirancang dan dikembangkan di AS oleh Apple. Tetapi, sebagian besar komponen iPhone dibuat, dipasok, dan dirakit di China, dengan Foxconn sebagai salah satu pemain utama. 

Dalam hal ini, China yang digetok Trump dengan tarif impor 245 persen, tidak hanya memiliki rantai pasok yang kuat dan terintegrasi,  tetapi juga mempunyai SDM yang handal. Sementara AS tidak memiliki keunggulan tersebut. 

Baca juga : Ilham Habibie: PII Dukung Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Lewat Industrialisasi

Fakta ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintahan Trump, yang ingin menghidupkan kembali industrialisasi di negaranya.

Bukan Pilihan 

Ilham memastikan, tidak ada satu pun negara di dunia ini, termasuk AS yang bisa menjadi kuat tanpa memiliki industri yang kuat.

Adsense

“Kalau kita outsource semuanya, seperti Amerika Serikat, kita akan kehilangan sesuatu yang strategis. Karena itu, dengan cara paksa, AS berupaya mengembalikan industrinya dengan cara tersebut," kata Ilham.

"Saya tidak mengatakan ini benar. Tapi saya katakan di sini, memiliki industri yang kuat bukanlah pilihan. Itu adalah suatu keharusan. Semua negara menginginkan itu," imbuhnya.

Baca juga : Peringati Hari Kartini, Peran Penting Wanita dalam Membangun Pariwisata

Ilham lantas mencontohkan China, yang dinilai sukses menjalankan industrialisasi. Dulu, beragam produk China - misalnya motor - dianggap kurang berkualitas. Tapi sekarang, produk China tak hanya dikenal murah, tetapi juga memiliki kualitas yang baik.

Semua itu, menurut Ilham, tidak mungkin terjadi jika China tidak melakukan transformasi di bidang industri dan SDM. 

"Dulu, kita ketawa-ketawa kalau kita beli misalnya motor dari China. Sekarang kita beli mobil dari China, kita dapatnya dua kali. Kualitas bagus dan harga bersaing. Itu karena saat ini China punya industri yang kuat. SDM-nya juga bagus," beber Ilham.

Dengan latar belakang seperti itu, Ilham mengingatkan pemerintah untuk serius mengambil langkah konkret re-industrialisasi. Agar Indonesia Emas 2045 bisa terwujud. 

Baca juga : 4 Resep AHY Hadapi Tarif Trump: Penting Ubah Krisis Jadi Peluang

"Tidak ada negara maju di dunia ini yang tidak punya industri. Kalau ada yang mengatakan bisa, menurut saya itu mimpi,” tandas Ilham.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense