RM.id Rakyat Merdeka - Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal meminta pemerintah tidak gentar menghadapi kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS) yang dibebankan Presiden Donald Trump kepada Indonesia. Ia menyebut, Indonesia memiliki rekam jejak kuat dalam menghadapi tekanan Amerika, termasuk dalam empat peristiwa besar di masa lalu yang berujung kemenangan diplomatik.
“Hubungan Indonesia-Amerika Serikat kini sedang diguncang akibat kebijakan tarif yang baru diumumkan oleh Presiden Trump. Menghadapi Amerika Serikat sebagai negara superpower memang tidak mudah dan memerlukan cara penanganan yang khusus,” ujar Dino dalam pernyataan videonya di Instagram yang dikutip RM.ID, Selasa (29/4).
Ia menyebut kasus pertama adalah saat Indonesia menghadapi tekanan Amerika dalam proses pengesahan Konvensi Hukum Laut PBB pada awal 1980-an. Ketika Presiden Ronald Reagan mengubah arah kebijakan AS dan mendesak negosiasi ulang, Indonesia memilih jalan sendiri.
Baca juga : Indonesia Tak Boleh Gentar
“Pemerintah Soeharto mengambil keputusan yang berani yaitu untuk meninggalkan Amerika Serikat dan maju terus untuk menggolkan Konvensi Hukum Laut tanpa Amerika Serikat,” katanya.
Indonesia juga pernah bersikap tegas menolak invasi Amerika ke Irak tahun 2003. Meski dilobi intensif, posisi pemerintah tetap tidak berubah. “Indonesia tetap bertahan pada posisi prinsip untuk tidak mendukung invasi Amerika terhadap Irak,” ujarnya. Sikap itu, menurut Dino, terbukti benar karena invasi tersebut di kemudian hari dinilai sebagai kesalahan besar, bahkan oleh Presiden Obama dan Trump.
Contoh ketiga adalah penolakan Indonesia terhadap inisiatif Asia-Pacific Partnership for Democracy yang digagas Presiden George W. Bush. Dino mengatakan, “Presiden SBY waktu itu beranggapan bahwa suatu forum demokrasi di Asia seharusnya diprakarsai oleh negara kawasan sendiri dan bukan oleh Amerika Serikat.” Sebagai gantinya, Indonesia membentuk Bali Democracy Forum yang bertahan hingga kini dan bahkan diikuti Amerika sebagai pengamat.
Baca juga : Menko Airlangga Bertemu Menkeu AS, Respons Indonesia Terhadap Tarif Trump Dipuji
Kasus keempat terjadi saat Indonesia dikenai embargo militer oleh Amerika pada 1990-an. Di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, embargo itu akhirnya dicabut. “SBY melakukan jurus pukul balik dengan menegaskan kepada Amerika Serikat bahwa tidak masuk akal Indonesia dan Amerika membangun suatu kemitraan strategis, sementara Amerika terus menerapkan sanksi militer terhadap Indonesia,” kata Dino. Pada 2005, Menlu AS Colin Powell menandatangani perintah eksekutif yang mencabut restriksi tersebut.
Dari keempat kasus itu, Founder dan Chairman FPCI ini menekankan pentingnya keteguhan prinsip dalam diplomasi. “Kita jangan pernah takut untuk berbeda pendapat, berseberangan, bahkan berbenturan dengan Amerika Serikat atau negara lain mana pun sepanjang itu untuk kepentingan nasional dan berkaitan dengan prinsip,” tegasnya.
Ia menutup pernyataan dengan pesan mendalam: “Foreign policy is not about pleasing everybody, saying yes to everybody. It is about taking a stand and achieving our objective.” Dino meminta, Indonesia harus tetap berunding sebagai mitra sejajar, tidak boleh takut, dan tidak boleh pula mudah terintimidasi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.