RM.id Rakyat Merdeka - Memasuki hari ke-11, nyali Iran tidak ciut meski Israel kini dibantu Amerika Serikat (AS). Beberapa jam setelah 3 situs nuklirnya dibom AS, Iran langsung membalas dengan melancarkan lebih dari 20 rudal ke Israel.
Balas dendam itu, dilakukan Iran dalam 2 hari berturut-turut, yakni Minggu-Senin (22–23 Juni 2025). Dalam serangan balasan itu, Iran turut meluncurkan Khorramshahr-4, rudal terbesar yang punya daya ledak luar biasa.
“Gelombang ke-20 Operasi True Promise 3 dimulai dengan menggunakan kombinasi rudal berbahan bakar cair dan padat jarak jauh dengan daya hulu ledak dahsyat,” kata angkatan bersenjata Iran, dikutip kantor berita Fars, Senin (23/6/2025).
Akibat hujan rudal ini, sirene peringatan meraung-raung tanpa henti selama lebih dari 30 menit di Israel Utara dan Tengah. Membuat warga panik dan memaksa militer mengevakuasi mereka.
Target-target yang disasar Iran adalah fasilitas publik seperti bandara, pusat penelitian biologi, pangkalan logistik, dan berbagai lapisan pusat komando serta kendali militer Israel.
Baca juga : Menko Polkam: Presiden Komitmen Perangi Narkoba
Akibat serangan itu, sejumlah bangunan yang ada di Tel Aviv rusak parah. “Ini adalah lokasi kerusakan berskala besar. Beberapa bangunan tempat tinggal dua lantai rusak parah, dan beberapa runtuh,” kata badan layanan darurat Magen David Adom (MDA) dilansir CNN, Minggu (22/6/2025).
Selain itu, salah satu rudal Iran dilaporkan berhasil menembus pertahanan dan jatuh di dekat fasilitas infrastruktur strategis milik Perusahaan Listrik Israel (IEC). Sejumlah bangunan hancur dan sekitar 8.000 rumah gelap gulita.
Tim teknis pun langsung dikerahkan untuk memperbaiki kerusakan di tengah penjagaan ketat aparat keamanan. “Kami menargetkan pemulihan listrik sepenuhnya dalam waktu tiga jam,” ujar Menteri Energi Israel Eli Cohen, dilansir The Jerusalem Post, Senin (23/6/2025).
Mendapatkan gempuran dari Iran, Israel tidak tinggal diam. Pasukan militernya telah melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah lokasi peluncuran rudal dan beberapa bandara di Iran pada Senin (23/6/2025) dini hari.
Dalam pernyataan resminya, militer Israel menyebutkan bahwa lebih dari 15 jet tempur Angkatan Udara Israel menyerang area Kermanshah di Iran bagian Barat.
Baca juga : Maulana Yusran: Agen Perjalanan Asing Harus Urus Perizinan
Serangan ini bertujuan untuk menetralisir sejumlah lokasi peluncuran dan penyimpanan rudal permukaan-ke-permukaan yang ditujukan ke wilayah Israel. Militer Israel juga melaporkan pasukannya menyerang setidaknya enam bandara di berbagai wilayah Iran.
Tel Aviv mengklaim serangan tersebut berhasil menghancurkan sebanyak 15 jet tempur dan helikopter milik Iran. Lapangan udara Iran di wilayah barat, timur, dan tengah juga menjadi sasaran.
“Serangan-serangan itu merusak landasan pacu, apartemen bawah tanah, pesawat pengisian bahan bakar, dan pesawat F-14, F-5, dan AH-1 milik rezim Iran,” ujar Juru bicara militer Israel dikutip AFP, Senin (23/6/2025).
Serangan terbaru Israel juga menargetkan situs nuklir bawah tanah Iran, Fordow, yang terletak di selatan Teheran. Pada Minggu (22/6/2025), situs nuklir ini telah lebih dulu dibombardir pesawat jet milik AS.
Juru Bicara Komandan Pusat Angkatan Bersenjata Iran Ibrahim Zolfaqari mengatakan Teheran tidak bakal tinggal diam jika diserang. Dia menyebut akan ada operasi besar untuk menghantam musuh.
Baca juga : Saleh Partaonan Daulay: Pengusaha Lokal Wajib Tingkatkan Kualitas
Dia pun memperingatkan Presiden AS Donald Trump bahwa serangan terhadap tiga situs nuklir Iran merupakan kesalahan fatal. Iran mengklaim, militernya lebih leluasa mengarahkan serangan ke negeri Paman Sam.
“Tuan Trump, kau mungkin memulai perang ini, tetapi kami akan menjadi orang yang mengakhirinya,” ujar Ibrahim dalam pernyataan video yang ditayangkan Fars dan Mehr, pada Senin (23/6/2025).
Donald Trump pun tidak takut. Dia justru kembali menyuarakan soal pergantian rezim di Iran. Lewat media Truth Social, Trump menekankan lewat peralihan kekuasaan, mampu membuat Iran menjadi lebih kuat. “Tidaklah tepat secara politis untuk menggunakan istilah ‘Pergantian Rezim’, tetapi jika rezim Iran saat ini tidak mampu membuat Iran hebat lagi, mengapa tidak akan ada pergantian rezim?” tulisnya, dikutip Senin (23/6/2025).
Sementara itu, meningkatnya eskalasi militer di Timur Tengah, menuai gelombang kecaman dari berbagai negara. Mayoritas menyerukan de-eskalasi dan kembali ke jalur diplomasi, sementara sebagian mengecam keras aksi militer Washington.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.