BREAKING NEWS
 

Kecerdasan Buatan Terus Berkembang, Wartawan Nggak Perlu Takut Ditikung AI

Reporter : DIANANDA RAHMASARI
Editor : M ADE AL KAUTSAR
Jumat, 29 Agustus 2025 21:57 WIB

RM.id  Rakyat Merdeka - Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan terus memperbarui kemampuan di berbagai bidang. Kemampuan AI belajar, memilah, dan mengolah pola serta informasi berkembang pesat dalam sepuluh tahun terakhir.

Profesor jurnalisme dan media Rutgers University, New Jersey, Amerika Serikat (AS), John Pavlik, mengatakan awak media tidak perlu takut dan alergi dengan AI.

“Teknologi AI sangat bisa membantu kerja jurnalis dalam mengumpulkan informasi. Jurnalis jadi hemat waktu,” ujar Pavlik dalam webinar yang diadakan Forum Pemred bertajuk Sustaining Journalism and Navigating Digital Platforms: U.S. Insights for Indonesian Media Leaders, Kamis (28/8/2025).

Dia tidak menampik, kehadiran AI membuat konsumen banyak meragukan keabsahan sumber informasi yang tersebar, terutama berita yang beredar di dunia maya.

Baca juga : Persis Vs Bhayangkara FC, Laskar Sambernyawa Tak Peduli Statistik

“Seperti dua mata koin. AI membantu meningkatkan akurasi dan efisiensi waktu. Tapi AI juga meningkatkan misinformasi,” ujarnya.

Untuk itu, lanjutnya, tugas jurnalis adalah menyajikan tulisan, video, dan audio yang kredibel dengan dukungan narasumber.

“Hasil karya jurnalistik buatan AI, hingga saat ini, masih terasa dingin saat kita baca, dengar, atau tonton. Tidak ada penjiwaan dalam penyampaian informasi. Hanya jurnalis yang bisa melakukan bagian tersebut,” tegasnya.

Adsense

Pernyataan itu diamini Vice President Sustainability KG Media, Wisnu Nugroho. Dia menyebut jurnalislah yang memberikan jiwa dalam setiap karya jurnalistik mereka.

Baca juga : 10 Fakta Terkait Gempa Karawang-Bekasi, Perjalanan KA Cepat Whoosh Dibatalkan

“Seperti di aplikasi Kompas.com, AI membantu pelanggan memilih berita yang sesuai minat mereka. Berita yang dinikmati pelanggan, murni buatan awak media grup Kompas,” terangnya.

Dia menekankan, tantangan terbesar seluruh kuli tinta adalah menjaga kepercayaan publik. Transparansi menjadi kunci agar masyarakat tetap mengetahui mana konten yang nyata dan mana yang dihasilkan AI.

Director & Corporate Secretary PT Visi Media Asia, Neil Tobing, menambahkan awak media tidak boleh anti-AI.

“Harus dimanfaatkan dengan tetap menjunjung tinggi etika jurnalistik,” pesannya.

Baca juga : Kedaulatan Pangan Di Tengah Ketidakpastian Global

Dengan menerapkan prinsip dan etika jurnalistik, sambungnya, AI bisa menjadi asisten yang bisa diandalkan bagi jurnalis.

AI, lanjut Neil, tidak bisa menggantikan data, konteks faktual di lapangan, dan sisi critical thinking yang hanya bisa dilakukan manusia.

“Cara berpikir kritis jurnalis tidak bisa digantikan kecanggihan teknologi,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense