RM.id Rakyat Merdeka - Media Rusia, Sputnik Globe menyoroti aksi unjuk rasa ricuh di berbagai wilayah Indonesia pada akhir Agustus lalu. Mereka mensinyalir, aksi tersebut ditunggangi pihak asing.
Aksi unjuk rasa ricuh yang terjadi sejak Kamis (28/8/2025) dan merenggut tujuh nyawa itu memaksa Presiden Prabowo Subianto membatalkan kunjungannya ke China sekaligus absen dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Shanghai Cooperation Organisation (SCO) yang digelar pada 31 Agustus–1 September 2025 di Tianjin, China.
Pihak asing yang disinyalir cawe-cawe di aksi demo ricuh oleh Sputnik Globe adalah ekonom senior sekaligus filantropis keturunan Hongaria-Amerika Serikat, George Soros.
“Simbol bendera bajak laut One Piece yang digunakan para pengunjuk rasa yang meniru taktik di wilayah lain menunjukkan adanya pengaruh eksternal,” ujar analis Angelo Giuliano, dikutip dari Sputnik Globe.
Giuliano menjelaskan, dalam anime Jepang One Piece, bajak laut mengibarkan bendera hitam bergambar tengkorak dengan topi jerami dalam perjuangan melawan tirani. “Simbol yang sama bermunculan di seluruh Indonesia pada Juli ini, terlihat di dinding, mobil, hingga pintu masuk,” katanya.
Baca juga : Demonstran Dilindungi, Perusuh Harus Ditindak
Lebih lanjut, Giuliano menyoroti dugaan campur tangan lembaga asing, antara lain National Endowment for Democracy (NED). “Lembaga ini telah mendanai media Indonesia sejak tahun 1990-an,” ujarnya.
Selain itu, ia menyinggung Open Society Foundations milik George Soros. Lembaga ini diketahui mengucurkan dana lebih dari 8 miliar dolar AS secara global sejak tahun 1990-an, termasuk mendukung kelompok seperti TIFA. Giuliano menduga dukungan tersebut turut berkontribusi terhadap pecahnya kericuhan di Indonesia.
“Keterlibatan mereka menimbulkan pertanyaan tentang agenda tersembunyi yang perlu ditelusuri. Bisa jadi ini terkait fokus Indo-Pasifik di tengah ketegangan seperti konflik Kamboja–Thailand. Ada indikasi motif geopolitik,” papar Giuliano.
Sementara itu, penulis The China Trilogy sekaligus pendiri Seek Truth From Facts Foundation, Jeff J. Brown, menilai kondisi Indonesia saat ini mirip dengan yang terjadi di Serbia. “G7 menginginkan lahirnya diktator baru yang didukung Amerika Serikat seperti era Soeharto dulu,” ungkapnya.
Menurut Brown, Prabowo tidak sejalan dengan agenda Barat karena semakin mempererat hubungan dengan China, Rusia, SCO, dan blok ekonomi BRICS (Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan).
Baca juga : Sri Mul Perlu Lebih Rendah Hati
Ia menambahkan, ada faktor lain yang membuat pihak asing ingin “cawe-cawe” di Indonesia, yaitu posisi strategis negeri ini. Indonesia kini tercatat sebagai perekonomian terbesar kedelapan di dunia berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB), terbesar di ASEAN, sekaligus negara berpenduduk terbesar keempat dengan hampir 300 juta jiwa.
“Dari sudut pandang imperialisme Barat, semua ini membuat Indonesia menjadi target empuk untuk diserang melalui revolusi warna yang direkayasa,” pungkas Brown.
Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia, Prof Suzie Sudarman menilai isu ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik global dan kepentingan strategis negara besar seperti Amerika Serikat.
"Nama Soros kerap dibesar-besarkan karena reputasinya sebagai pendukung demokrasi liberal melalui jaringan Open Society Foundations (OSF). Meski sudah berusia lanjut, Soros tetap berpengaruh dan sejak 2023 pengelolaan yayasan dialihkan kepada putranya, Alexander Soros," ujar Prof Suzie.
Wanti-wanti adanya aktor asing di demo rusuh juga disuarakan oleh para ulama yang tergabung dalam Asosiasi Ormas Islam Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) dan para tokoh agama dalam Asosiasi Ormas Keagamaan Lembaga Persahabatan Ormas Keagamaan (LPOK).
Baca juga : Anggota DPR Ngaca, Jaga Sikap, Merakyat
Ketua Umum LPOI dan LPOK Said Aqil Siroj meminta seluruh masyarakat mewaspadai penumpang gelap aksi demonstrasi yang berpotensi menimbulkan anarkisme. “Waspadai aktor asing, kelompok kepentingan, dan sindikasi jahat yang merugikan keamanan dan kedaulatan Indonesia. Stop anarkisme, hentikan kekerasan, dan tindakan yang merugikan bangsa dan negara,” tegasnya, Senin (1/9/2025).
Said Aqil juga mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak terprovokasi, memperkuat solidaritas nasional, menjaga lingkungan, serta mewujudkan ketertiban dan keamanan.
LPOI dan LPOK menegaskan berdiri di belakang pemerintahan yang sah dan konstitusional. Mereka menolak segala upaya makar dan sindikasi jahat yang merongrong pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. “Mari bersatu padu mendukung Presiden Prabowo untuk mewujudkan keamanan, kedaulatan, kemajuan negara, serta kemakmuran rakyat,” ujar Said Aqil, yang juga anggota Dewan Pengarah BPIP.
Sebelumnya, Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono mengetahui ada campur tangan asing di balik kericuhan demo Kamis (28/8/2025) di DPR. Ia menyebut pihak asing itu memiliki pengaruh besar kepada negaranya.
“Ini ada yang main gitu. Pada waktunya saya bisa sampaikan namanya yang main. Itu dari sana," kata Hendropriyono kepada wartawan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (28/8/2025).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.