BREAKING NEWS
 

Catatan Ahmad Nur Hidayat

Pilkades Digital Jawa Barat: Babak Baru Demokrasi Desa (Bagian 2)

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Kamis, 25 September 2025 07:58 WIB
Ketua KPU Provinsi Jawa Barat Ahmad Nur Hidayat menghadiri kegiatan Sosialisasi Pilkada di Universitas Muhammadiyah Cirebon. (Foto: Dok. KPU Jabar)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jika pada bagian pertama menekankan pada pembahasan transformasi menuju pilkades digital, bagian kedua ini menyoroti tantangan yang lebih mendasar, yaitu soal legitimasi, keamanan siber, dan arah kebijakan nasional.

Isu utama dalam demokrasi digital adalah keamanan siber dan integritas suara. Tanpa jaminan keduanya, teknologi secanggih apa pun hanya akan memicu kecurigaan.

Pengalaman Estonia, negara yang sejak 2005 memelopori internet voting, menunjukkan bahwa kepercayaan publik tidak hadir begitu saja. Mereka membangun mekanisme audit independen, verifikasi berlapis, serta keterbukaan hasil yang dapat diuji ulang (Vassil & Weber, 2011). Dari sini terlihat bahwa transparansi teknis menjadi kunci agar publik yakin bahwa suara tetap rahasia sekaligus terlindungi dari manipulasi.

Kesadaran akan hal itu tercermin dalam rancangan tahapan pilkades digital di Jawa Barat. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi merancang tiga fase utama. Pertama, tahap prapelaksanaan yang mencakup regulasi dan kelembagaan, pengelolaan administrasi, pemutakhiran data pemilih, serta sosialisasi, pelatihan, dan simulasi. Kedua, tahap pelaksanaan yang meliputi verifikasi identitas pemilih, pemungutan suara digital di TPS, hingga evaluasi sistem. Ketiga, tahap pengembangan yang berfokus pada penyempurnaan berkelanjutan.

Baca juga : Pilkades Digital Jawa Barat: Babak Baru Demokrasi Desa (Bagian 1)

Model ini menghadirkan kompromi seimbang. Teknologi dimanfaatkan untuk efisiensi pemungutan dan penghitungan suara, sementara ritual tatap muka tetap dipertahankan demi menjaga legitimasi sosial. Dengan pendekatan hibrida semacam ini, sistem baru diharapkan dapat diterima publik tanpa menimbulkan kegelisahan berlebihan.

Pengalaman internasional memberikan pelajaran berharga. Brazil, misalnya, sejak 1996 menggunakan mesin pemungutan suara elektronik dan berhasil memangkas waktu penghitungan dari berhari-hari menjadi hanya beberapa jam. Penelitian Fujii dan Nakaguma (2019) menunjukkan, digitalisasi di Brazil juga meningkatkan kepercayaan publik terhadap hasil pemilu, terutama di wilayah yang rawan sengketa.

Filipina pun menawarkan contoh serupa. Meski menuai kritik terkait transparansi, keterlibatan masyarakat sipil dalam mengaudit sistem membuat hasil pemilu tetap diterima khalayak luas. Pesan yang muncul jelas: teknologi hanyalah alat, sementara legitimasi lahir dari keterlibatan publik dalam mengawasi.

Adsense

Dalam konteks Indonesia, langkah Jawa Barat memiliki posisi strategis karena sejalan dengan agenda nasional. Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya, menegaskan Kemendagri akan memaksimalkan e-voting dalam pemilihan kepala desa di seluruh Indonesia setelah melihat keberhasilan 1.910 desa di 16 provinsi yang sejak 2013 hingga 2023 telah menerapkannya tanpa masalah berarti. Dengan skala yang lebih besar, Jawa Barat akan menjadi ujian krusial sebelum kebijakan nasional tersebut benar-benar dijalankan.

Baca juga : Jawa Barat, Barometer Demokrasi Nasional

Namun, skala yang lebih luas juga berarti tantangan yang hadir akan lebih kompleks. Persoalan teknis seperti infrastruktur digital, literasi teknologi warga, hingga kesiapan aparat desa akan sangat menentukan keberhasilan. Tanpa kesiapan ini, inovasi justru bisa menimbulkan ketidakpercayaan dan resistensi di tingkat akar rumput.

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah transparansi hasil serta keterbukaan data. Setiap tahapan pilkades perlu menghasilkan informasi yang dapat diakses publik, mulai dari alokasi anggaran, jadwal dan proses sosialisasi, tingkat partisipasi pemilih, hingga pemungutan, penghitungan, dan hasil akhir. Publikasi semacam ini tidak hanya menumbuhkan rasa percaya, tetapi juga menjadi bahan pembelajaran bagi daerah lain yang kelak mengikuti jejak Jawa Barat.

Lebih jauh, peran media dan masyarakat sipil tak bisa diabaikan. Media dapat berfungsi sebagai pengawas sekaligus mitra independen yang melaporkan perkembangan pilkades digital secara objektif. Sementara itu, masyarakat sipil berperan mendampingi warga desa agar lebih siap menghadapi sistem baru. Partisipasi publik yang aktif semacam ini akan menjadikan pilkades digital bukan sekadar proyek teknologi, melainkan transformasi demokrasi yang lebih bermakna.

Dengan jumlah desa yang besar dan keragaman sosial yang kompleks, Jawa Barat memang layak disebut laboratorium demokrasi Indonesia. Dari sini akan terlihat apakah digitalisasi benar-benar mampu menghadirkan efisiensi dan transparansi, atau justru menimbulkan tantangan baru. Keberhasilan pilkades digital di Jawa Barat akan memberikan kepercayaan diri bagi pemerintah pusat untuk memperluas sistem ini ke seluruh negeri. Sebaliknya, kegagalan sekalipun akan menjadi pelajaran berharga agar kesalahan yang sama tidak terulang.

Baca juga : Maman Imanul Haq: Pancasila Jadi Penjaga Demokrasi Indonesia

Sejarah mungkin akan mencatat bahwa demokrasi digital Indonesia tidak lahir dari gedung parlemen atau kota metropolitan, melainkan dari desa-desa, khususnya di Jawa Barat. Dari akar demokrasi lokal inilah bangsa ini belajar bahwa teknologi harus berpadu dengan legitimasi, transparansi, dan partisipasi publik. Pilkades digital bukan sekadar ujian teknis, melainkan juga ujian etis: apakah kita mampu menjaga keadilan elektoral di tengah arus digitalisasi.

Jika tantangan ini dijawab dengan bijak, Jawa Barat akan dikenang sebagai titik mula transformasi, tempat di mana demokrasi desa membuka jalan bagi lahirnya demokrasi digital Indonesia yang lebih matang dan bermakna bagi seluruh rakyat.

Ahmad Nur Hidayat
Ketua KPU Provinsi Jawa Barat

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense