RM.id Rakyat Merdeka - Di tengah derasnya arus informasi digital, kolaborasi pemerintah, media, dan masyarakat menjadi semakin penting untuk memperkuat literasi sekaligus menjaga ruang publik tetap sehat.
Media mainstream diharapkan tampil sebagai benteng demokrasi digital, bukan justru ikut memperkeruh suasana.
Media arus utama harus berfungsi sebagai clearing house atau penyaring dari masifnya informasi hoaks dan disinformasi yang beredar di media sosial.
Peran itu hanya dapat dijalankan bila media konsisten mengedepankan asas berimbang (cover both sides) serta menghadirkan narasumber yang kompeten. Sebab, merajalelanya disinformasi bukan hanya merugikan masyarakat, tetapi juga mengancam kualitas demokrasi.
Karena itu, media didorong untuk menjadi garda terdepan melawan hoaks dengan memperkuat verifikasi dan investigasi.
Disinformasi, Ancaman Demokrasi
Dalam konteks ruang digital, terdapat tiga istilah penting yang kerap disalahartikan. Misinformasi adalah penyebaran informasi keliru yang tidak disengaja.
Baca juga : Kolaborasi Telkomsel dan Gojek Hadirkan Program Reward Bagi Pelanggan Baru
Disinformasi adalah informasi palsu yang dibuat dan disebarkan dengan tujuan menyesatkan. Sementara malinformasi adalah informasi benar yang digunakan untuk merugikan pihak tertentu.
Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (CISSReC) Pratama Dahlian Persadha menegaskan, jurnalisme investigatif bisa menjadi benteng terakhir menghadapi hoaks.
“Media harus berfungsi sebagai lembaga verifikasi digital, dengan dukungan teknologi forensik dan kolaborasi dengan platform,” ujarnya kepada RM.id, Kamis (2/10/2025).
Pratama menekankan, masa depan media ditentukan oleh kemampuannya menjaga kepercayaan publik. Untuk itu, ia mendorong adanya kolaborasi berkelanjutan antara media, pemerintah, dan masyarakat sipil demi mewujudkan ruang digital yang sehat.
Pentingnya Literasi Publik
Pengamat politik Suyanto Londrang menilai, edukasi literasi digital menjadi kunci menjaga kualitas demokrasi.
“Ini perlu dilakukan, agar masyarakat tidak mudah terhasut dan tetap kritis,” katanya.
Baca juga : Nico Siahaan Soroti Minimnya Belanja Iklan ke Media Nasional Dibanding Platform Digital
Hal senada disampaikan pengamat kebijakan publik Sugiyanto Emik. Menurutnya, literasi publik harus menjadi fondasi kebijakan.
“Risiko terbesar hoaks adalah hilangnya kepercayaan publik. Karena itu, forum lintas sektor perlu dibentuk untuk menciptakan ekosistem informasi yang sehat,” kata Sugiyanto kepada RM.id, Kamis (2/10/2025).
Media Mitra Strategis Pemerintah
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan, media yang sehat dan profesional merupakan mitra strategis pemerintah dalam menjaga ruang publik yang aman.
“Media yang baik, media yang sustain, media yang menjaga nilai-nilai etik jurnalistik adalah mitra strategis pemerintah,” kata Meutya dalam forum 4 Dekade Bisnis Indonesia di Jakarta, Selasa (10/6/2025).
Saat ini, lanjutnya, pemerintah mengusung tiga agenda utama: literasi digital, tata kelola teknologi, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia media untuk memastikan ruang digital Indonesia semakin aman dan produktif.
Regulasi yang Proporsional
Selain literasi, regulasi yang berimbang juga penting agar ruang publik tetap sehat.
Baca juga : Kapolri Membuka Diri Demi Reformasi Polri
Praktisi hukum Hendra Setiawan Boen menekankan, hukum pidana seharusnya menjadi jalan terakhir (ultimum remedium) dalam penanganan kasus disinformasi.
“Aturan harus jelas, agar masyarakat terlindungi, dan kebebasan berekspresi tetap terjaga,” kata Hendra saat dikontak RM.id, Kamis (2/10/2025).
Melawan misinformasi dan disinformasi bukan hanya soal menangkal berita bohong, melainkan juga menjaga kebenaran publik yang menjadi fondasi demokrasi.
Dalam era digital yang penuh distraksi, media mainstream harus berdiri tegak sebagai benteng terakhir, memastikan setiap informasi yang sampai ke masyarakat telah melewati uji verifikasi.
Hanya dengan jurnalisme yang berintegritas, publik bisa mendapat kebenaran, dan demokrasi tetap menemukan jalannya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.