BREAKING NEWS
 

Cendekiawan Dunia Serukan Tatanan Baru di Konferensi Bandung ke-70 IPDN

Reporter & Editor :
FAZRY
Rabu, 29 Oktober 2025 10:08 WIB
Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto (kedua kiri) dan Prof. Connie Rahakundini Bakrie (ketiga kiri) bersama para cendekiawan dalam Konferensi Bandung ke-70 di IPDN Jatinangor. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Tujuh puluh tahun setelah Konferensi Asia–Afrika (KAA) 1955, semangat Bandung kembali bergema di kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor.

Melalui sesi pleno internasional bertajuk “Bandung di Usia 70: Membangun Dunia Kembali”, para cendekiawan dari Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika menyerukan perlunya tatanan dunia baru yang berlandaskan solidaritas, keadilan, dan perdamaian global.

Konferensi yang digelar Selasa (28/10/2025) itu dipimpin oleh Prof. Darwis Khudori dari Université Le Havre Normandie, Prancis, bersama Prof. Nurliah Nurdin (IPDN, Indonesia) dan Dr. Baskara Wardaya (PRAKSIS, Indonesia).

Acara ini menghadirkan sejumlah pemikir berpengaruh seperti Manoranjan Mohanty (India), Connie Rahakundini Bakrie (Indonesia/Rusia), Qing Shi (China), Fulufhelo Netswera (Afrika Selatan), Beatriz Bissio (Brasil/Uruguay), Olga Volosyuk (Rusia), dan Bruno Drweski (Polandia/Prancis).

Prof. Connie Rahakundini Bakrie menegaskan bahwa warisan Bandung tetap relevan dalam membentuk tatanan dunia.

“Visi Soekarno tentang Gerakan Non-Blok tetap kuat, sebuah semangat perubahan peradaban yang mendorong kita untuk membangun kesadaran kolektif di mana BRICS menjadi kekuatan dan ASEAN menjadi pemikiran,” ujarnya.

Senada dengan itu, Prof. Mohanty dari India menekankan pentingnya hubungan internasional yang berpusat pada rakyat. Ia menyatakan bahwa dunia perlu memperkuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai lembaga global yang demokratis dan mendukung BRICS serta inisiatif Selatan-Selatan.

Baca juga : Forum Keberagaman Nusantara Serukan Persatuan Menuju Indonesia Emas

Dari perspektif Eurasia, Prof. Olga Volosyuk menilai semangat Bandung menjadi akar terbentuknya aliansi BRICS. Ia menyebut, moto BRICS “Membangun Dunia yang Lebih Baik Bersama” merupakan gema dari impian Sukarno tentang keadilan dan kesetaraan antarbangsa.

Cendekiawan Amerika Latin, Beatriz Bissio, menegaskan relevansi pesan anti-imperialis Bandung yang masih terasa hingga kini. Ia menyesalkan dampak lanjutan dari Doktrin Monroe di wilayahnya, sambil menyerukan “bentuk internasionalisme baru yang berbasis pada rakyat, bukan negara.”

Sementara itu, Prof. Fulufhelo Netswera dari Afrika Selatan menekankan perlunya tindakan nyata. “Kita, masyarakat di belahan bumi selatan, harus memastikan hari esok adalah dunia yang lebih baik daripada yang kita warisi dari para pendahulu kita di Bandung 1955,” ujarnya.

Cendekiawan China, Qing Shi, menyerukan pembentukan “front persatuan untuk kerja sama Selatan-Selatan” dan mendesak dunia untuk “keluar dari kerangka pengetahuan kolonial dan membangun kembali.”

Dalam penutupan acara, Prof. Khudori menegaskan bahwa Semangat Bandung bukan sekadar kenangan sejarah, melainkan filosofi hidup untuk mencapai keadilan global.

Konferensi ditutup dengan peluncuran buku “Membangun Kembali Dunia dalam Perspektif Global”, yang menegaskan komitmen IPDN untuk memperkuat kolaborasi intelektual dan inovasi kebijakan lintas kawasan.

Semangat Bandung: Dari Sejarah ke Masa Depan Kemanusiaan

Adsense

Tujuh puluh tahun setelah KAA 1955, Semangat Bandung terus menjadi inspirasi dialog global tentang keadilan, perdamaian, dan kerja sama.

Baca juga : Ketua DPD Serahkan Bantuan Alsintan Dan Benih Jagung Di Bengkulu Utara

Apa yang bermula sebagai deklarasi solidaritas bangsa-bangsa tertindas kini berkembang menjadi kompas moral bagi dunia abad ke-21 — seruan untuk membangun kembali dunia yang lebih adil, aman, dan sadar.

Ketika UNESCO menetapkan arsip KAA 1955, pidato Soekarno di PBB (1960), dan KTT Gerakan Non-Blok di Beograd (1961) ke dalam Memory of the World, ketiganya diakui bukan sekadar catatan sejarah, tetapi mandat moral bagi masa depan umat manusia. Sepuluh Prinsip Bandung (Dasasila Bandung) tetap menjadi landasan hidup berdampingan secara damai — saling menghormati, kesetaraan, tidak mencampuri urusan dalam negeri, dan kerja sama.

Dari prinsip itu lahir lima cita-cita luhur: Perdamaian, Kemerdekaan, Kesetaraan, Solidaritas, dan Emansipasi. Nilai-nilai tersebut menumbuhkan Mimpi Bandung — visi tentang kemakmuran global berkelanjutan yang berakar pada perdamaian, keadilan, dan keberagaman.

Semangat itu melahirkan Konstelasi Bandung, yakni jaringan negara dan lembaga seperti Gerakan Non-Blok, Uni Afrika, G77, ASEAN, FOCAC, TICAD, SCO, hingga BRICS+, yang kini mendorong lahirnya tatanan dunia multipolar.

Tantangan Baru dan Kebangkitan Asia

Tujuh dekade setelah Bandung, dunia kembali di persimpangan. Perang, krisis iklim, hegemoni digital, dan ketimpangan ekonomi menguji idealisme pendiri Bandung.

Negara-negara Konstelasi Bandung kini menghadapi lima bentuk dominasi baru: penguasaan teknologi, informasi, sistem keuangan global, senjata pemusnah massal, dan sumber daya alam.

Namun di balik tantangan itu, muncul peluang besar: Kebangkitan Asia. Pada 1970, Asia adalah benua termiskin di dunia.

Baca juga : Kejagung Resmi Serahkan Uang Sitaan Kasus Korupsi Migor Ke Negara

Namun, pada 2016 kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) global melonjak dari kurang dari 10 persen menjadi 30 persen. Menurut proyeksi PwC, pada 2050 tujuh dari sepuluh ekonomi terbesar dunia akan berasal dari negara-negara berhaluan Semangat Bandung — China, India, Indonesia, Jepang, Brasil, Rusia, dan Meksiko.

Ekonomi BRICS kini secara kolektif telah melampaui G7, menandai berakhirnya dominasi unipolar dan lahirnya tatanan dunia polycentric (berpusat majemuk).

Peringatan Bandung ke-70 di Empat Kota

Selain di Jatinangor, peringatan Konferensi Bandung ke-70 juga digelar di Surabaya (30–31 Oktober), Blitar (1 November), dan Yogyakarta (2–5 November 2025).

Di Blitar, acara dilanjutkan dengan ziarah ke Makam Bung Karno dan seminar bertema “Warisan Global Soekarno”, sedangkan di Yogyakarta diselenggarakan Festival Keberagaman Budaya bersama Institut Seni Indonesia (ISI).

Rangkaian kegiatan bertema “Bandung 70: Tantangan dan Peluang untuk Membangun Dunia Kembali” itu melibatkan lebih dari 50 cendekiawan dan pembuat kebijakan dari 32 negara di empat benua.

Mereka mendiskusikan apakah kebangkitan Asia menjadi replikasi ekspansionisme Barat atau kebangkitan peradaban etis yang kooperatif — seperti yang diimpikan Soekarno dalam pidatonya di PBB tahun 1960.

Pesan Penutup

“Semangat Bandung bukanlah nostalgia; ia adalah kesadaran yang hidup. Ia mengingatkan umat manusia bahwa keadilan dan perdamaian tidak diwariskan — keduanya harus dibangun kembali dengan kebijaksanaan,” ujar Prof. Connie Rahakundini Bakrie.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense