BREAKING NEWS
 

Pertahanan Rakyat: Titik Temu Stabilitas Koersif Dan Supremasi Sipil

Reporter : BOY SAKTI HAPSORO
Editor : FAQIH MUBAROK
Senin, 3 November 2025 10:03 WIB
Ketua Umum Relawan Prabu Arvindo Noviar. Foto: Dok Arvindo Noviar

 Sebelumnya 
Dalam sejarah bangsa-bangsa, dilema semacam ini selalu muncul di masa transisi menuju kematangan nasional. Negara yang memilih ketertiban semata memperoleh ketenangan singkat tetapi kehilangan vitalitas.

Sebaliknya, negara yang menempuh keadilan, meski harus menanggung guncangan, pada akhirnya menemukan stabilitas yang lebih kokoh. Ketertiban tanpa keadilan hanya menciptakan ketegangan tanpa suara, sementara keadilan yang ditegakkan dengan konsistensi melahirkan keteraturan yang lestari.

Bahasa kekuasaan adalah medan ideologi. Setiap istilah yang diucapkan penguasa mengandung arah kebijakan. Maka, ketika stabilitas dijadikan mantra, pertanyaan mendasarnya bukan hanya bagaimana, tetapi untuk siapa.

Apakah ketenangan sosial yang dijanjikan merupakan hasil pemerataan, atau hasil pengendalian?

Adsense

Dalam supremasi sipil, stabilitas tidak dihapus, tetapi ditempatkan kembali di bawah keadilan. Sebab stabilitas sejati adalah buah dari keadilan yang bekerja. Negara yang benar-benar kuat tidak perlu menenangkan rakyat dengan larangan yang berlebihan.

Namun bangsa ini tak bisa terus berada di persimpangan. Ia memerlukan arah yang bukan sekadar kompromi, melainkan sintesis ideologis. Di sinilah konsep Pertahanan Rakyat menemukan maknanya.

Baca juga : PLN Perkuat Keandalan Listrik Tarakan Lewat Fasilitas Regasifikasi LNG

Pertahanan rakyat bukanlah militerisasi masyarakat, bukan pula pelemahan institusi pertahanan negara. Ia adalah gagasan tentang kekuatan yang berpangkal pada kesadaran. Ia menyatukan disiplin koersif dengan rasionalitas sipil tanpa membiarkan yang satu menelan yang lain. Dalam pertahanan rakyat, negara menjadi kuat karena rakyatnya sadar.  

Pertahanan rakyat menolak dikotomi palsu antara kekuatan dan kebebasan. Ia mengambil semangat tanggung jawab dari disiplin koersif, dan semangat keterbukaan dari supremasi sipil. Ia menjadikan keadilan sebagai strategi pertahanan nasional.

Sebab, tidak ada pertahanan yang kokoh bila rakyat hidup dalam ketimpangan, dan tidak ada pertahanan yang mengakar bila rakyat dipisahkan dari hak untuk bersuara. Keadilan sosial adalah pagar terkokoh dari pertahanan nasional.

Dalam konteks Pemerintahan hari ini, arah itu sedang dibangun. Program Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, dan Koperasi Desa Merah Putih merupakan bentuk konkret pertahanan rakyat yang dijalankan melalui kesejahteraan dan kesadaran.

Kebijakan sosial ini tumbuh menjadi mekanisme pertahanan yang berakar pada kepercayaan rakyat kepada negara. Sebab pertahanan modern tidak lagi hanya bersandar pada senjata, tetapi pada rasa percaya, bahwa negara berpihak, rakyat berharga, dan keadilan adalah hak sekaligus kewajiban yang dirawat secara kolektif.

Pertahanan rakyat juga mengubah makna loyalitas. Dalam logika koersif, loyalitas diukur dari kepatuhan terhadap komando. Dalam logika rakyat, loyalitas diukur dari kesetiaan pada keadilan dan kebenaran.

Baca juga : Menuju Fakultas Kedokteran Internasional

Maka dalam pertahanan rakyat, disiplin bukan lahir dari rasa takut, melainkan tumbuh dari kesadaran kolektif bahwa menjaga negara berarti menjaga sesama. Ia adalah komando yang lahir dari kesadaran bersama.

Negara yang menegakkan pertahanan rakyat harus terbuka terhadap pengawasan publik. Kekuatan yang tidak bisa diperiksa akan mudah berubah menjadi penyalahgunaan. Partisipasi rakyat adalah fondasi stabilitas berkelanjutan dan sumber legitimasi bagi rasa aman nasional.

Lembaga-lembaga pertahanan hadir di tengah rakyat: menjaga, melindungi, dan belajar bersama mereka tentang makna keadilan yang hidup dalam keseharian. Pertahanan rakyat pada akhirnya adalah bentuk paling tinggi dari demokrasi yang matang.

Ia menolak stabilitas yang dibangun di atas ketakutan, dan menolak kebebasan yang tak mampu menanggung tanggung jawab. Ia menjembatani disiplin dan kebebasan, mengubah keteraturan menjadi kesadaran, serta menjadikan rakyat bukan sekadar penerima keamanan, tetapi pencipta keamanan itu sendiri.

Negara di persimpangan ini hanya akan menemukan arah ketika berani menempatkan keadilan sebagai pusat pertahanannya. Pertahanan sejati tumbuh dari kemampuan bangsa mengatasi ketimpangan di dalam dirinya sendiri sebelum menghadapi ancaman dari luar. Bangsa yang menegakkan keadilan tidak mudah dipecah, dan rakyat yang hidup dalam kepercayaan tidak mudah diguncang.

Keadilan adalah tembok pertahanan paling kokoh, sementara kesadaran adalah kekuatan yang paling lama bertahan dalam sejarah bangsa. Jalan pertahanan rakyat adalah strategi kesadaran yang menuntun bangsa menegakkan kekuatan bersama di atas dasar keadilan.

Baca juga : PAM Jaya Serahkan 100 Unit Water Purifier Untuk Fasilitas Umum Dan Sosial

Di tengah tarik-menarik antara stabilitas koersif dan supremasi sipil, arah ini melahirkan keseimbangan baru bagi kehidupan bernegara. Melalui pertahanan rakyat, kekuasaan tumbuh dalam disiplin yang sadar tujuan, rakyat berdaya dalam kebebasan yang terarah, dan negara berdiri tegak dalam makna yang utuh.

Negara kuat karena berpihak, tenang karena adil, dan kokoh karena bersandar pada kesadaran kolektif segenap jiwa bangsa.

Penulis adalah Ketua Umum Relawan Prabu Arvindo Noviar

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense