BREAKING NEWS
 

Paradoks Digital Indonesia: Seruan Keberanian Kolektif Dan Gotong Royong

Reporter & Editor :
FAQIH MUBAROK
Kamis, 20 November 2025 21:53 WIB
Wakil Ketua Umum Bidang ESDM IWAPI dan perwakilan Indonesia di G20 EMPOWER, Rinawati Prihatiningsih menjadi narasumber Policy Talk 2025 di Jakarta, Kamis (20/11/2025). Foto: Dok Randy Tri Kurniawan/RM

RM.id  Rakyat Merdeka - Transformasi digital sering dirayakan sebagai jawaban bagi masa depan Indonesia, namun kenyataannya tidak sesederhana itu.

Di balik berbagai kemajuan teknologi, Indonesia sesungguhnya sedang menghadapi sebuah paradoks: digitalisasi membuka peluang sangat besar, tetapi pada saat yang sama berpotensi memperlebar jurang ketimpangan, terutama bagi perempuan pelaku UMKM di berbagai tingkatan usaha.

Hal ini disampaikan oleh Rinawati Prihatiningsih, Wakil Ketua Umum Bidang ESDM IWAPI dan perwakilan Indonesia di G20 EMPOWER, dalam Policy Talk 2025 yang diselenggarakan oleh Yamada Consulting & Spire Indonesia.

Menurut Rinawati, transformasi digital tidak dapat lagi didekati hanya sebagai isu teknologi, melainkan isu keadilan, kebijakan, dan kepemimpinan. Indonesia saat ini memasuki era kompleksitas yang lebih tinggi dan keberhasilan menuju Indonesia Emas 2045 sangat bergantung pada kemampuan bangsa ini untuk melepaskan ego sektoral, memperkuat koordinasi lintas kelembagaan, dan menghidupkan kembali semangat gotong royong yang menjadi DNA bangsa.

Rinawati menekankan, kebijakan tidak bisa disamaratakan. UMKM mikro, kecil, dan menengah hidup dalam realitas yang sangat berbeda, dan tantangan digital mereka tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan tunggal.

Baca juga : Harapan Dunia terhadap Indonesia: Prancis (1)

UMKM mikro membutuhkan literasi digital berjenjang dan dukungan care economy seperti daycare dan layanan lansia agar perempuan dapat meningkatkan produktivitas. UMKM kecil membutuhkan pembiayaan yang mudah diakses, teknologi yang aplikatif, dan kesempatan untuk masuk rantai pasok.

Sementara UMKM menengah menghadapi tantangan biaya teknologi seperti ERP dan cybersecurity yang tinggi serta keterbatasan talent digital.

“Tanpa desain kebijakan yang berbeda untuk kelompok yang berbeda, transformasi digital hanya akan memperdalam ketimpangan,” tegasnya.

Adsense

Rinawati juga menghubungkan transformasi digital dengan Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya Asta Cita ke-4 tentang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Ia menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan bukan hanya agenda sosial, tetapi merupakan pilar strategis untuk Indonesia Emas.

Ketika perempuan kuat secara ekonomi, kekerasan menurun, keluarga stabil, dan produktivitas meningkat. Transformasi digital harus menjadi alat untuk memperkuat perempuan bukan malah meninggalkan mereka.

Baca juga : Frisian Flag Indonesia Kedai Kreatif 2025, Bangkitkan Ekonomi dari Dapur Rumah

Pengalaman Rinawati di Ministerial G20 Empowerment of Women di Afrika Selatan semakin memperkuat pandangannya. Ia menyaksikan bagaimana istilah “gender” dan “care economy” gagal disepakati hanya karena satu negara menolak.

Bagi Rinawati, ini adalah bukti bahwa kesetaraan yang berkeadilan tidak pernah terjadi secara otomatis. Ia harus disengaja, dirancang, dan diperjuangkan.

Dalam konteks inilah ia memperkenalkan kembali Teori U karya Prof. Otto Scharmer dari MIT, yang baru-baru ini juga diadopsi oleh Presiden Prabowo untuk melatih para Menteri dan Gubernur terpilih.

Teori U mengajarkan tiga langkah penting yang sangat relevan untuk Indonesia: Letting go dari ego sektoral dan kebijakan yang berjalan sendiri-sendiri, Co-sensing dengan mendengarkan suara kelompok rentan yang jarang muncul di dashboard kebijakan, Co-creating dengan membangun solusi lintas Pemerintah, swasta, masyarakat sipil, akademisi, big tech, dan mitra pembangunan.

“Paradoks digital Indonesia adalah alarm, bukan bencana. Alarm yang memanggil kita untuk berani berkolaborasi, berani mendengar, dan berani menyatukan arah kebijakan,” ungkap Rinawati.

Baca juga : Harapan Dunia terhadap Indonesia: Yordania

Ia menutup dengan ajakan kolaboratif. Ditegaskan, Indonesia Emas tidak ditentukan oleh siapa yang paling cepat, tetapi oleh siapa yang paling berani bekerja bersama. Gotong royong adalah keunggulan kita. Namun gotong royong harus dihidupkan ulang di era digital: lebih terarah, lebih sadar, dan lebih berani.

"Dengan ekosistem yang semakin kompleks, transformasi digital Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga rendah hati; tidak hanya cepat, tetapi juga dalam; tidak hanya inovatif, tetapi juga inklusif," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense