Dark/Light Mode

Harapan Dunia terhadap Indonesia: Yordania

Rabu, 19 November 2025 05:34 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Beberapa waktu lalu berlangsung Muktamar Ulama Internasional ke-17 yang sekaligus diisi dengan pemberian penghargaan kepada sejumlah ulama dan ilmuwan yang dinilai berprestasi.

Muktamar ini diselenggarakan oleh The Royal Aal al-Bayt Institute for Islamic Thought, di Yordania. Acara ini membahas sekitar 25 makalah dari ulama berbagai negara. Tema muktamar kali ini adalah meneladani kehidupan sehari-hari Nabi Muhammad SAW, baik sebagai pribadi, pemimpin rumah tangga, Rasul, maupun kepala pemerintahan di Madinah.

Baca juga : Harapan Dunia Terhadap Indonesia: Amerika Latin

Peserta muktamar sangat majemuk, baik dari segi disiplin ilmu maupun mazhab dan aliran. Hadir ilmuwan muslim ahli fisika, ahli biologi, diplomat, pemimpin tarekat, tokoh konservatif, hingga tokoh yang selama ini dianggap mewakili pemikiran liberal seperti Prof. Dr. Hasan Hanafi.

Turut hadir pula pembicara dari kalangan ulama Syiah dan tentunya ulama Sunni. Para peserta muktamar diterima oleh Raja Abdullah di istananya, sekaligus menerima piagam penghargaan bagi para ulama yang dianggap berprestasi atau berjasa besar dalam dunia dakwah. Ada enam orang penerima penghargaan dari berbagai negara, termasuk penulis sendiri dari kawasan Asia Tenggara.

Baca juga : Harapan Dunia terhadap Indonesia: Chile (2)

Para peserta menampilkan makalah dengan judul-judul yang tampak sederhana, namun berisi rumusan dan rekomendasi yang sangat aktual. Para pembicara benar-benar ahli di bidangnya. Ada makalah yang secara khusus menyoroti hikmah wudhu sebelum tidur ditinjau dari aspek medis; ada pula yang membahas pentingnya meninjau ulang epistemologi keilmuan Islam oleh seorang ahli fisika dari Bosnia. Makalah lain meninjau solusi praktis Nabi dalam menyelesaikan konflik lokal dan regional pascahijrah, sementara yang lainnya membahas sistem pendidikan dan sistem politik dunia Islam pasca-ISIS.

Makalah yang paling menyita perhatian para muktamirin adalah tulisan Prof. Hasan Hanafi yang mengkritisi pola penulisan tarikh (sejarah Islam) yang menurutnya bercampur antara fakta dan mitos. Sebanyak 18 halaman makalah itu penuh kontroversi, termasuk ketika ia memasukkan peristiwa Isra’ Mi’raj sebagai bagian yang menurutnya banyak mengandung cerita mitos (khayaliyyah).
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.