RM.id Rakyat Merdeka - Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) menggelar International Conference on Humanity and Global Solidarity (ICONHUM 2025).
Selain untuk membahas isu genosida di Gaza, konferensi yang menghadirkan para pakar, dokter, akademisi dan praktisi kemanusiaan ini juga mengangkat pengalaman dan kerja-kerja Tim Emergency Medical Team (EMT) BSMI ke panggung ilmiah.
Ketua Umum BSMI, dr. M. Djazuli Ambari mengatakan, selama ini banyak pengalaman dan praktik klinis para relawan medis Indonesia di Gaza yang bernilai ilmiah tinggi namun belum terdokumentasi secara sistematis.
ICONHUM 2025, ujar Djazuli, menjadi ruang penting untuk mengubah pengalaman tersebut menjadi kontribusi akademik yang bisa memperkaya literatur medis dan kemanusiaan internasional.
Baca juga : Paradoks Digital Indonesia: Seruan Keberanian Kolektif Dan Gotong Royong
Djazuli bilang, setiap tindakan medis yang dilakukan di Gaza, baik operasi darurat, penanganan trauma, penyembuhan luka kompleks, sampai misi evakuasi adalah ilmu.
“Ilmu yang lahir dari penderitaan, keberanian, dan dedikasi. Sudah saatnya pengalaman itu masuk ke jurnal, konferensi, dan kajian akademik sebagai bagian dari kontribusi Indonesia untuk dunia,” kata Djazuli di Jakarta Selatan, Sabtu (22/11/2025).
Melalui ICONHUM 2025, lanjut Djazuli, para dokter, perawat, dan tenaga medis yang pernah bertugas di Gaza mempresentasikan temuan klinis, metode penanganan trauma perang, penggunaan teknik lanjutan seperti advanced wound healing, hingga tantangan etis dalam menjalankan misi kemanusiaan di zona genosida.
Konferensi ini juga diikuti dengan Workshop Advance Technique Wound Healing yang menghadirkan narasumber seperti Prof. Dr. dr. Basuki Supartono, Sp.OT, bersama tenaga medis yang baru kembali dari Gaza.
Baca juga : Konferensi Wakaf Internasional Lahirkan Peta Jalan Penguatan Wakaf RI
Workshop tersebut memberikan SKP Kemenkes, menegaskan bahwa kerja kemanusiaan di lapangan tidak hanya mempunyai nilai moral, tetapi juga kontribusi profesional yang dapat diakui secara ilmiah dan institusional.
Para peserta workshop mendapatkan pembelajaran langsung tentang teknik penanganan luka akibat bom, amputasi darurat, perawatan pasien dengan keterbatasan alat, serta strategi field hospital management dalam situasi blokade.
ICONHUM 2025 juga memperkenalkan pendekatan baru dalam pencatatan dan dokumentasi kerja kemanusiaan medis yaitu transformasi pengalaman lapangan menjadi pengetahuan ilmiah yang dapat dipublikasikan.
“Para relawan EMT Indonesia difasilitasi untuk menyusun scientific paper, publikasi medis, dan laporan akademik berbasis data lapangan yang mereka kumpulkan selama bertugas di Gaza," ungkapnya.
Baca juga : Gelar Journey to Purity, Coway Indonesia Donasi Ke Yayasan & Masjid Di Jakarta
Di kesempatan ini digelar juga Deklarasi Kebagusan 2025 sebagai bentuk dukungan penghentian genosida dan blokade di Gaza, Palestina. Prof. Basuki mengatakan, apa yang terjadi di Palestina merupakan tragedi kemanusian terbesar di abad ini.
Penanggung jawab EMT BSMI ini mengajak semua pihak melakukan sesuatu untuk menghentikan genosida ini.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.