RM.id Rakyat Merdeka - Pakar dan Pemerhati Pendidikan Ina Liem menilai reformasi sistem pendidikan di Indonesia harus memberikan dampak positif bagi pembentukan karakter anak.
Menurutnya, pembentukan karakter dalam sistem pendidikan Indonesia dari masa ke masa sangat penting. Walaupun sistem penerapannya berbeda, pendidikan tetap memiliki tujuan yang sama.
Pada masa awal kemerdekaan, pendidikan nasional dirancang untuk membangun identitas dan persatuan bangsa. Periode berikutnya berkembang melalui percepatan akses pendidikan lewat INPRES. Kemudian, pada masa Orde Baru muncul program Wajib Belajar 6 Tahun yang diterapkan secara luas.
Menurut CEO Jurusanku itu, pendidikan sebenarnya merupakan ranah semua pihak. Karena itu, akar masalah dalam pendidikan Indonesia harus diselesaikan dengan baik, sebab dampaknya berpengaruh besar terhadap kehidupan.
Baca juga : Warga Jakarta Harus Berani Laporin Pelaku Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak
“Korupsi enggak selesai-selesai karena orang sibuk bahas soal hukuman. Hukuman itu penting, tapi korupsi berangkat dari mental dan karakter, sedangkan pendidikan itu membentuk karakter. Sangat penting kalau sekolah dasar sampai SMA fokus pada pendidikan karakter. Ini menyangkut kehidupan kita semua,” tegas Ina Liem, Sabtu (6/12/2025).
Ina mengaku sangat concern pada dunia pendidikan karena banyak guru di era reformasi 2019 mulai melihat secercah harapan adanya perubahan. Menurutnya, perubahan kala itu memberikan suasana optimisme walaupun masih berjalan perlahan.
“Ketika Ujian Nasional mulai diperkenalkan, itu adalah upaya standarisasi dari atas ke bawah. Buku sama, materi sama, bahkan Senam Kesegaran Jasmani pun sama,” tuturnya.
Saat Bantuan Operasional Sekolah (BOS) mulai diperkenalkan ke daerah-daerah, kata Ina, justru mulai terlihat adanya kesenjangan. Tidak semua kepala daerah memiliki kualitas kepemimpinan yang sama. Jika dana BOS dikorupsi, maka perkembangan pendidikan di daerah tersebut otomatis terhambat.
Baca juga : Saatnya Petani Maju, Makmur Dan Sejahtera
Ina menjelaskan bahwa pada 2016 Ujian Nasional mulai dihapus. Menurutnya, langkah itu memiliki konsep luar biasa karena sudah tidak relevan lagi dalam kondisi otonomi daerah. Kemudian, UN benar-benar dihapus pada era Menteri Pendidikan Nadiem Makarim pada tahun 2019, bertepatan dengan pandemi Covid-19.
Di era modern saat ini, lanjut Ina, sebenarnya pendidikan sudah bisa dimerdekakan. Guru memiliki akses untuk meng-upgrade pengetahuan melalui teknologi. Platform Merdeka Mengajar memungkinkan guru berbagi praktik baik secara gratis.
“Guru sangat antusias melihat sesuatu yang baru. Itu sebabnya saya katakan 2019 adalah era reformasi besar-besaran dengan teknologi. Tapi tentu pelatihan guru tidak bisa hanya online,” ujarnya.
Ina menambahkan, pandemi Covid-19 membuat pendidikan terpaksa berjalan tanpa tatap muka fisik selama dua tahun. Teknologi menjadi kebutuhan utama agar proses belajar dapat tetap berjalan.
“Digitalisasi saat itu adalah keniscayaan. Chromebook dibuat sederhana untuk menghemat anggaran negara, tapi kebutuhan pendidikan bisa terpenuhi,” jelasnya.
Beberapa waktu lalu, Ina melalui unggahan di Instagram menyampaikan kekhawatirannya terhadap mundurnya sistem pendidikan Indonesia. Padahal, menurutnya, sudah ada kemajuan meski belum sempurna.
“Kebijakan era modern tidak cukup hanya punya ide. Harus dijelaskan masalahnya apa, kenapa dibuat kebijakannya, targetnya apa, dan bagaimana implementasinya. Semua harus runut di setiap program,” tutup Ina.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.