BREAKING NEWS
 

Ahli IPB Angkat Bicara Soal Temuan Kayu Gelondongan Pasca Banjir Sumatera

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Sabtu, 6 Desember 2025 09:42 WIB
Sampah kayu gelondongan pasca banjir bandang di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara (ANTARA FOTO/Yudi Manar/bar)

RM.id  Rakyat Merdeka - Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan sekaligus Kepala Pusat Studi Bencana IPB University, Prof Bambang Hero Saharjo angkat bicara soal temuan kayu gelondongan pasca bencana banjir dan tanah longsor Sumatera.

Menurutnya, karakteristik material kayu yang ditemukan di lokasi bencana tersebut menunjukkan adanya indikasi keterlibatan aktivitas manusia.

Per Sabtu 6 Desember 2025, banjir dan tanah longsor di tiga provinsi Sumatera: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah mengakibatkan 883 orang meninggal, 520 hilang, dan 4.200 orang mengalami luka-luka.

"Kondisi tersebut tidak sepenuhnya dapat dijelaskan sebagai kayu lapuk atau dampak runtuhan alami," kata Prof. Bambang dalam keterangannya di laman resmi IPB University. 

Baca juga : Ini Kata ESDM soal Isu Keterlibatan Tambang Martabe dalam Banjir Garoga

Prof Bambang pun mengaitkan temuan tersebut dengan kasus serupa, yang pernah ditanganinya beberapa tahun lalu di kawasan lindung Sumatra Utara.

Menurutnya, hutan yang masih sehat memiliki struktur tajuk yang rapat dan bertingkat, sehingga mampu memecah dan menahan laju air hujan.

“Walaupun ada air, dia tidak langsung ke permukaan. Dia jatuh di tajuk, pecah. Sebagian mengalir melalui batang atau stem flow,” jelas Prof. Bambang.

Adsense

Keberadaan tumbuhan bawah dan serasah, lanjutnya, berperan penting dalam menyerap air serta menjaga kestabilan ekosistem hutan.

Baca juga : ITSEC Angkat Isu AI Dan Keamanan Siber Di Summit 2026

Lapisan vegetasi yang berjenjang, mulai dari tajuk atas hingga vegetasi bawah merupakan sistem penyangga alami yang menjaga keseimbangan lingkungan.

“Tuhan menciptakan ini, tentu saja untuk kebaikan manusia dan lingkungannya,” ujarnya.

tumbangnya satu atau dua pohon dalam kondisi alami bukan merupakan ancaman bagi ekosistem. “Pohon ini, ya, kalaupun tumbang, itu tidak banyak. Paling hanya satu, dua. Dan itu alami,” tutur dia.

Prof Bambang menerangkan, sistem perakaran pohon tua yang kuat membuat hutan tetap stabil. Ketika satu pohon tumbang, ruang kosong tersebut akan segera diisi oleh regenerasi spesies baru.

Namun, masalah muncul ketika aktivitas pembalakan liar memasuki kawasan hutan. Gangguan pada vegetasi menghilangkan kerapatan tajuk dan membuka celah, yang memicu perubahan drastis dalam aliran air serta kestabilan tanah.

Baca juga : PHE Percepat Distribusi Bantuan ke Wilayah Bencana Sumatera

“Pada kondisi seperti ini, ketika pembalakan liar masuk, maka celah antara tajuk semakin terbuka,” urainya.

Hilangnya fungsi tajuk, menyebabkan air hujan jatuh langsung ke permukaan tanah tanpa proses pemecahan alami. Sehingga, erosi berlangsung lebih cepat dan risiko longsor meningkat.

“Kayu-kayu besar yang ditemukan pasca bencana merupakan konsekuensi dari rusaknya lapisan-lapisan vegetasi akibat aktivitas manusia,” tegasnya. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense