Dark/Light Mode

Ini Kata ESDM soal Isu Keterlibatan Tambang Martabe dalam Banjir Garoga

Jumat, 5 Desember 2025 17:18 WIB
Foto: Antara.
Foto: Antara.

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka suara terkait Tambang Emas Martabe yang dituding menjadi salah satu penyebab longsor dan banjir bandang di Sumatera Utara. Bahlil menyatakan, lokasi tambang emas ini berada jauh dari lokasi terjadinya bencana.

 "Saya cek juga kemarin ini di lokasi, itu tambang emas. Kalinya itu ada tiga, ada kali gede, dan yang kena banjir ini kali yang sedang yang tengah. Nah Martabe ini kali yang kecil," ujar Bahlil dikutip Jumat (5/12/2025). 

Kendati demikian Bahlil memastikan timnya tetap melakukan pengecekan dan evaluasi pada Tambang Martabe. "Tim kami sedang mengecek, sampai selesai baru kami putuskan," ucap Bahlil.

Menurut Bahlil, operasional Tambang Martabe saat ini dihentikan sementara, bukan karena masalah lingkungan atau hukum. Ia meminta pengelola tambang membantu penanganan bencana dengan menurunkan alat berat.

"Sekarang kami minta mereka bantu, fokus untuk alat mereka untuk bantu teman kita yang kena bencana," tegasnya.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyampaikan hal senada. Ia menuturkan bahwa lokasi tambang emas yang disebut-sebut sebagai penyebab banjir bandang di Pulau Sumatera berada jauh dari titik bencana.

“Katanya wilayah kerjanya jauh,” ujar Yuliot, Senin (1/12/2025).

Pengelola Tambang Buka Suara

Sebelumnya, PT Agincourt Resources (PTAR) menyatakan bahwa banjir bandang dan longsor di Desa Garoga bukan berasal dari aktivitas Tambang Emas Martabe. 

Baca juga : Polri Kerahkan Kapal ke Aceh Tamiang: Bawa 183 Personel dan Bantuan Logistik

Dalam keterangan resmi yang dirilis pada Kamis (4/12/2025), manajemen PTAR menanggapi sejumlah pemberitaan yang mengaitkan banjir bandang Garoga dengan operasional tambang.

“Menyikapi pemberitaan di media massa, PTAR menyampaikan telaahan atas narasi yang beredar terkait hubungan antara bencana longsor dan banjir bandang di Tapanuli Selatan dengan Tambang Emas Martabe,” tulis manajemen.

PTAR menyatakan bahwa kesimpulan yang menghubungkan aktivitas tambang dengan banjir Garoga tidak berdasar.

“Temuan kami menunjukkan bahwa mengaitkan langsung operasional Tambang Emas Martabe dengan kejadian banjir bandang di Desa Garoga merupakan kesimpulan yang premature,” lanjut pernyataan tersebut.

Perusahaan menegaskan adanya serangkaian faktor alam yang memicu bencana tersebut, salah satunya curah hujan ekstrem yang terjadi hampir merata di wilayah Sumatera bagian utara akibat Siklon Senyar.

"Siklon Senyar menyebabkan hujan dengan intensitas sangat lebat di wilayah Tapanuli Selatan. Curah hujan ini begitu ekstrem dan secara statistik mewakili curah hujan maksimum yang tidak pernah terjadi setidaknya dalam 50 tahun terakhir,” ungkap manajemen.

Volume hujan ini juga mengguyur kawasan Hutan Batang Toru, daerah hulu bagi sungai-sungai utama seperti Aek Garoga, Aek Pahu, dan Sungai Batang Toru.

Menurut PTAR, titik awal banjir berada di Desa Garoga yang terletak di Sub DAS Garoga, kemudian merambat ke Huta Godang, Batu Horing, dan Aek Ngadol Sitinjak.

Baca juga : Uus Kuswanto Bakal Dilantik Jadi Sekda DKI, Balaikota Banjir Karangan Bunga

Perusahaan menjelaskan bahwa banjir bandang dipicu ketidakmampuan aliran Sungai Garoga menahan debit air yang melonjak. Penyumbatan oleh material kayu gelondongan di Jembatan Garoga I dan II turut memperburuk kondisi.

“Efek sumbatan ini mencapai titik kritis pada 25 November sekitar pukul 10 pagi, yang menyebabkan perubahan tiba-tiba pada alur sungai,” tulis PTAR.

Dua anak sungai kemudian menyatu dan menerjang Desa Garoga. Puluhan warga dilaporkan meninggal dan puluhan lainnya masih hilang.

PTAR juga menegaskan bahwa lokasi operasional tambang berada di sub DAS berbeda, tepatnya di Aek Pahu. Wilayah ini disebut terpisah secara hidrologis dari DAS Garoga.

Meski arus kedua sungai bertemu di hilir, jaraknya jauh dari Desa Garoga sehingga aktivitas tambang dinilai tidak berkaitan dengan bencana.

“Meskipun beberapa peristiwa longsoran terpantau di sub DAS Aek Pahu, tidak ada fenomena banjir bandang di sepanjang aliran sungai ini,” jelas manajemen.

Mereka menambahkan bahwa tidak ditemukan aliran lumpur maupun tumpukan kayu seperti yang terlihat di Garoga. Selain itu, 15 desa lingkar tambang yang berada di wilayah tersebut tidak mengalami dampak signifikan dan justru menjadi lokasi pengungsian.

PTAR juga melakukan pemantauan udara menggunakan helikopter di kawasan hulu Sungai Garoga. Hasil pemantauan menunjukkan titik-titik longsor di lereng-lereng yang diduga menghasilkan material lumpur dan kayu ke aliran sungai.

Baca juga : Tak Ada Fun Walk, PSI Riau Gelar Penyerahan Donasi untuk Korban Banjir Sumatera

Temuan ini, kata PTAR, merupakan indikasi awal yang masih membutuhkan kajian lanjutan. Di sisi lain, perusahaan menegaskan kepatuhan terhadap aturan lingkungan dalam setiap kegiatan operasional.

Tambang Emas Martabe beroperasi di kawasan berstatus Areal Penggunaan Lain (APL). PTAR menyebut selama ini mereka melakukan konservasi air, udara, tanah, serta keanekaragaman hayati bersama institusi nasional dan internasional.

“Kami memahami besarnya perhatian publik atas bencana ini,” kata manajemen.

PTAR mengajak semua pihak mengedepankan kolaborasi dan manajemen informasi yang tepat guna menghindari narasi yang menyesatkan dan berpotensi mengganggu proses pertolongan.

Perusahaan juga menyatakan mendukung penuh kajian independen yang komprehensif untuk memastikan mitigasi risiko bencana yang lebih baik di masa mendatang.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.