Sebelumnya
Perkembangan AI, lanjut Mellaz, bergerak sangat cepat, dengan munculnya teknologi seperti DeepSeek dan ChatGPT. Yaitu, teknologi yang mampu menghasilkan konten mulai dari teks hingga suara dan video yang dapat memperdaya publik.
“Kita harus benar-benar menyiapkan diri,” katanya.
Mellaz menegaskan, risiko tersebut bukan sekadar persoalan penyebaran hoaks, tetapi dapat berujung pada goyahnya stabilitas politik nasional bila tidak diimbangi dengan kesiapsiagaan regulasi serta pengawasan terpadu.
Baca juga : Bantu Korban Bencana, Pegadaian Beri Internet Gratis Di Kantor Cabang
Tidak hanya eksternal, Mellaz juga mengungkapkan, KPU masih memiliki pekerjaan rumah dari sisi internal. Berbagai aspek teknis mulai dari teknokrasi, regulasi, SOP, hingga logistik terus diperbaiki dan disempurnakan.
“Ini pekerjaan harian yang tidak bisa ditunda,” ujarnya.
Merujuk pengalaman Pemilu dan Pilkada 2024, Mellaz mengatakan, penting untuk membangun kerangka pemilu yang lebih solid, untuk menghadapi tantangan besar akibat perkembangan teknologi. Yaitu, dengan mempersiapkan peta jalan teknokrasi untuk pemilu yang semakin kuat.
Baca juga : Danantara Dan BP BUMN Tegaskan Solidaritas Untuk Korban Bencana
“Tanpa itu, kita akan tertinggal dalam menghadapi realitas baru demokrasi digital,” kata Mellaz.
Terpisah, Rektor Universitas Buddhi Dharma (UBD) Limajatini mengatakan, penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) merupakan ancaman serius bagi kehidupan sosial dan demokrasi.
Limjatini mengatakan, AI memang memberikan banyak kemudahan. Namun, ketika digunakan tanpa tanggung jawab, dampaknya dapat menghancurkan kepercayaan publik. Deepfake yang memanipulasi video, gambar atau suara dapat mengaburkan batas antara fakta dan rekayasa.
Baca juga : Api Cepat Berkobar, Asap Persulit Penyelamatan
“Ini berbahaya bagi tatanan demokrasi dan stabilitas sosial. Diperlukab regulasi yang adaptif, serta peningkatan literasi digital masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh konten manipulatif,” kata Limajatini di Jakarta, Selasa (9/12/2025).
Sementara, pengamat keamanan siber dan politik internasional, Miftahul Ulum mengungkapkan, medan juang generasi muda telah bergeser dari konfrontasi fisik di dunia nyata ke sebuah lanskap digital yang tak kasat mata.
Menurut Ulum, medan juang bagi generasi muda Indonesia saat ini yakni dunia metaverse, kecerdasan buatan (AI), dan algoritma. Ketiganya, kata dia, adalah kekuatan tak terlihat, yang berkontribusi membentuk kebiasaan, mempolarisasi pandangan, dan cara berpikir seseorang. [BSH]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.