RM.id Rakyat Merdeka - Wartawan Rakyat Merdeka, Ade Alkautsar ikut bersama rombongan relawan membantu desa-desa korban bencana di Aceh. Berikut laporannya, saat berada di Aceh Tamiang.
Tiga hari di Aceh Tamiang, sejumlah anggota Tim Relawan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Pemkab Abdya) mulai tumbang. Ada yang sampai harus diinfus. Kebanyakan karena kelelahan, debu tebal, tidur dan makan tidak teratur, hingga sulitnya mandi, cuci, kakus (MCK).
Senin malam, istri Bupati Abdya, Ratna Sari Dewi Safaruddin, datang menjemput relawan sambil membawa makanan dari Medan. Akses makanan di Tamiang memang sulit. Tak ada warung makan yang buka.
Sementara rencana untuk membuka dapur umum juga batal karena masih sulitnya akses air bersih. Di awal ketibaan kami, istri Bupati Tamiang juga menyarankan agar berhati-hati jika membuka dapur umum karena rawan chaos.
Selama di Tamiang, kami hanya makan mie instan. Jarang sekali mendapatkan nasi. Pernah suatu waktu, kami mendapat nasi berkat bantuan Camat Kejuruan Muda. Kata salah seorang relawan, nasi itu didapat dari wilayah Semadam, pintu masuk ke Tamiang. Di sana lebih kondusif dan banyak warung makan gratis.
Baca juga : Gibran Minta Maaf, Insiden Akan Diusut
Tak cuma lapar, setelah kenyang pun kami menghadapi masalah baru: buang air kecil dan buang air besar. Tidak ada MCK yang memadai. Jika pun ada toilet, tidak ada airnya.
Pernah satu ketika, Ketua KNPI Abdya, Teguh Nofrianto, tiba-tiba terbangun sekitar pukul 3 dini hari. “Bang, gawat bang,” katanya sambil mencoba membangunkan saya. “Kenapa?” jawab saya.
“Saya kebelet. Di mana tempat buang air besar, bang?” katanya panik. Tanpa sadar saya menjawab, “Di situ,” sambil mengarahkan telunjuk ke kanan.
Dia langsung percaya dan buru-buru berlari ke arah yang saya tunjuk. Hingga ia bertemu seorang nenek-nenek di tengah malam gelap gulita karena listrik masih padam.
Tanpa sungkan, ia kembali bertanya, “Nek, di mana tempat buang air besar?” tanyanya dengan lutut bergetar menahan kebelet.
Baca juga : Kepala Daerah Harus Punya Sense Of Crisis
Sang nenek menunjuk ke depan, tepat ke arah yang sama. “Di situ ada sungai,” katanya.
Tanpa ba-bi-bu, Teguh berlari sekuat tenaga sampai tiba di sungai itu dan melepaskan hajat sepuas-puasnya.
Namun ia merasa aneh ketika membersihkannya. Saat mengarahkan senter ponsel ke tangan kirinya, ternyata yang ia gunakan bukan air, melainkan lumpur cair yang mengalir di sungai tersebut. Ia panik, karena bukannya bersih, malah makin kotor.
Paginya, ia menceritakan kejadian itu dengan nada getir. Bukannya prihatin, semua relawan justru tertawa terpingkal-pingkal. Termasuk saya, yang dalam keadaan tidak sadar telah mengarahkannya ke sungai berlumpur itu.
Salah satu dari kami bertanya, “Jadi ending-nya gimana, Ketua?” Teguh menjawab, ia terpaksa sembunyi-sembunyi di balik mobil untuk cebok menggunakan air mineral. Sementara celananya yang sudah kotor parah langsung ia buang dan ia ganti dengan celana lain dari tas di mobil.
Baca juga : Irma Suryani Chaniago: Keamanan Jadi PR Yang Penting Buat Pemerintah
Koordinator Tim Relawan Pemkab Abdya ke Aceh Tamiang, Hamzirnawa mengatakan, peristiwa ini sebenarnya bukan lelucon, melainkan fakta yang harus segera dicarikan solusinya.
“Bantuan yang dikirim ke sini seharusnya bukan cuma makanan, tapi juga toilet portable dan air bersih. Ini mendesak. Semoga pemerintah maupun para dermawan segera membantu menyediakan toilet portable,” harapnya.
Karena bukan hanya Teguh, relawan lain juga mengalami hal serupa. Saya misalnya. Selama tiga hari di Tamiang, praktis hanya satu kali mandi. Itu pun karena kebetulan menemukan sumur yang masih berfungsi di daerah pedalaman Desa Telaga Meuku I, Kecamatan Bandar Mulia. Airnya lumayan bersih, tapi harus ditimba karena listrik masih mati. [SAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.