BREAKING NEWS
 

Menembus Desa Terisolir Di Aceh Timur

Rumah Rata, Batang Pisang Tertancap Di Ujung Tiang Listrik

Reporter : M ADE AL KAUTSAR
Editor : ADITYA NUGROHO
Sabtu, 13 Desember 2025 07:35 WIB
Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky bersama tim relawan medis dari Aceh Barat Daya (Abdya) menyalurkan bantuan bagi warga terdampak banjir di Gampong Cek Mbon, Kecamatan Peureulak, Aceh Timur. (Foto: Pemkab Aceh Timur)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wartawan Rakyat Merdeka, Ade Alkautsar ikut bersama rombongan relawan membantu desa-desa korban bencana di Aceh. Berikut laporannya, saat berada di Desa Sah Raja, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur.

Pukul 10.00 WIB, Tim Relawan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Barat Daya (Abdya) bergegas menuju Desa Sah Raja, Kecamatan Pante Bidari, salah satu titik banjir bandang terparah di Aceh Timur. Kali ini, tim relawan dipimpin langsung oleh Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky

Saat briefing, tim relawan sudah diberi informasi bahwa ketinggian air ketika banjir menerjang kampung ini melampaui tiang listrik. Benar saja, setibanya di lokasi, lumpur yang tersisa setelah banjir surut masih menutupi hingga atap rumah. Tak heran jika Kampung Sah Raja menjadi salah satu titik banjir yang sangat terisolasi dan sulit ditembus. 

Geng motor trail yang dihubungi Bupati langsung mengerahkan 15 pemotor untuk mengawal dan mengarahkan iring-iringan 13 armada berisi relawan, tim medis, hingga TNI/Polri melewati jalanan yang rusak dan berlumpur.

Di sepanjang jalan, rombongan disuguhi pemandangan memprihatinkan. Sampan-sampan tergeletak di tengah jalan, batang pisang tertancap di ujung tiang listrik, hingga rumah-rumah warga yang rata dengan tanah. Beberapa relawan spontan menangis melihat kepiluan tersebut. 

Baca juga : Kembali Lobi Tarif Dagang, Airlangga Cs Ke AS Pekan Depan

Untuk diketahui, sampan yang tergeletak di jalan itu adalah alat transportasi penting bagi warga Sah Raja, desa yang berada di perbatasan Aceh Timur, Aceh Utara, dan Bener Meriah. Warga kerap menggunakan sampan tersebut untuk berbelanja ke Kabupaten Aceh Utara. 

Saat banjir bandang menerjang, sampan-sampan inilah yang menyelamatkan warga. Seorang kakek berusia 60 tahun menceritakan bahwa sampan itu menjadi penyelamat nyawanya dan warga sekampung pada malam banjir besar tersebut. 

“Warga disisir satu per satu, dievakuasi ke daratan yang lebih tinggi menggunakan sampan ini,” kata sang kakek. 

Setelah menempuh sekitar empat jam perjalanan, Bupati Al-Farlaky bersama tim relawan tiba di Sah Raja. Ada dua titik pemberhentian yang direncanakan, dengan masing-masing titik hanya diberi waktu satu jam. 

Adsense

Dalam waktu singkat itu, relawan harus menurunkan dan membagikan logistik bantuan kepada seluruh warga, mulai dari beras, air mineral, mi instan, minyak goreng, pakaian layak pakai, dan kebutuhan pokok lainnya. 

Baca juga : NasDem Jabar Bakal Bentuk Enam Ribu DPRt Tingkat Desa

Sementara itu, dokter dan tim medis bergerak cepat memeriksa kesehatan warga satu per satu sambil berdiri. Tidak ada meja, apalagi kursi. Di titik pertama saja, lebih dari 100 warga antre untuk berobat. 

Tenaga kesehatan (nakes) Abdya untuk Aceh Timur dipimpin dua dokter, dr Nuri dan dr Ikhsan. Menurut dr Nuri, sebagian besar keluhan warga sama seperti di daerah banjir lainnya, yakni batuk, pilek, gatal-gatal, dan mencret. 

Ada satu warga yang mengalami patah kaki dalam kondisi parah dan sudah infeksi, karena belum mendapat penanganan medis selama lebih dari dua minggu. “Kakinya sudah bengkak dan memerah. Kami langsung datangkan ambulans dan rujuk ke rumah sakit,” ujar dr Nuri. 

Tak cuma orang dewasa, dr Nuri juga menangani dua bayi yang mengalami kejang-kejang di pengungsian. Kondisi keduanya lemah. “Salah satu bayi mengalami mikrosefalus, kepala kecil,” tambahnya. 

Nuri juga mengaku sempat terjebak lumpur hingga selutut saat mengunjungi rumah seorang warga yang menderita diabetes. Kondisi pasien tersebut sangat lemah, persediaan obat dan insulin habis, dan kakinya sudah beberapa kali diamputasi. 

Baca juga : Gerindra Dorong Mitigasi Bencana Jadi Perhatian

Tidak hanya itu, sejumlah armada kendaraan beberapa kali tersangkut lumpur dan harus dievakuasi menggunakan mobil rescue yang ditumpangi Bupati. 

Saat perjalanan pulang dan malam mulai gelap, situasi semakin mencekam. Rombongan sempat terpisah dan bergerak ke jalur yang salah. Beberapa mobil tersesat di tengah hutan. 

Ajudan yang mengawal Bupati bahkan melepaskan empat kali tembakan senjata api sebagai penanda posisi rombongan yang terpisah. Akhirnya, rombongan berhasil menemukan jalan keluar dan tiba kembali di pendopo bupati sekitar pukul 23.30 WIB. 

Para relawan yang mulai mendapatkan cahaya dari lampu genset terkejut melihat kondisi tubuh mereka, dari kepala hingga kaki memutih dipenuhi debu. Di antara mereka, suasana kemudian mencair dengan tawa saat saling menertawakan dan merekam momen epik tersebut, pelepas lelah setelah seharian bekerja. [SAR]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense