BREAKING NEWS
 

Dampak Bencana Sumatera Lebih Luas Dari Tsunami

Reporter : BHAYU AJI PRIHARTANTO
Editor : ADITYA NUGROHO
Senin, 15 Desember 2025 07:40 WIB
Kondisi wilayah terdampak banjir dan longsor di Kabupaten Aceh Tamiang, salah satu daerah yang mengalami kerusakan paling parah di Aceh. (Foto: Instagram/kemenkoinfra)

RM.id  Rakyat Merdeka - Banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dan Pulau Sumatera menimbulkan dampak luas. Skala kerusakan dinilai lebih luas dibandingkan tragedi tsunami Aceh 2004. Selain menelan korban jiwa, bencana Sumatera merusak ribuan rumah, memutus jalan dan jembatan, serta menimbun sawah dan kebun warga. 

Pandangan itu diungkap Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). 

“Saat tsunami 2004, korban jiwa sangat besar, sekitar 200 ribu orang meninggal dan hilang. Namun kali ini, daerah yang terdampak jauh lebih luas,” kata AHY di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Minggu (14/12/2025). 

AHY mengatakan, pada hari-hari awal bencana, kondisi lapangan sempat diliputi kebingungan akibat beredarnya berbagai informasi yang bercampur antara laporan terbaru, konten lama, hingga gambar dan video hasil manipulasi kecerdasan buatan di media sosial. “Apa yang menimpa Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat itu tidak ringan. Saya dapat memastikan hal tersebut karena melihat dan datang langsung ke daerah bencana,” ujarnya. 

Baca juga : Dukung Peningkatan Pelayanan Bagi Jemaah Haji

Di Aceh, dampak bencana dilaporkan nyaris merata. Dari total 23 kabupaten dan kota, sebanyak 18 daerah terdampak, mencakup wilayah pesisir timur dan barat hingga kawasan tengah dan pegunungan, seperti Aceh Tengah, Bener Meriah, Takengon, dan Gayo. 

Sementara di Sumatera Utara, sebanyak 18 dari 33 kabupaten dan kota dilaporkan mengalami kerusakan. Adapun di Sumatera Barat, 16 dari 19 kabupaten dan kota terdampak, termasuk kawasan wisata Lembah Anai. “Lembah Anai yang dikenal dengan air terjunnya kini rusak. Jalan dan jembatan hancur,” kata AHY. 

Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah segera melakukan langkah penanganan darurat dengan berkoordinasi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Salah satu langkah yang ditempuh adalah operasi modifikasi cuaca untuk menekan intensitas hujan dan membuka jalur distribusi bantuan. 

Adsense

Wilayah masih terisolasi akibat terputusnya akses darat, mobilisasi bantuan mengandalkan jalur udara dan laut. Helikopter dikerahkan untuk menjangkau wilayah terisolasi di Aceh, sementara kapal perang TNI Angkatan Laut diturunkan ke Aceh Tamiang, Lhokseumawe, dan wilayah sekitarnya untuk mengirimkan bantuan logistik. 

Baca juga : OSO: Masuki Usia 58 Tahun, KKI Bina 9,5 Juta Anggota

Aceh Tamiang menjadi salah satu daerah dengan tingkat kerusakan paling parah. AHY mengatakan, kerusakan di wilayah tersebut bukan sekadar merusak rumah, tetapi melenyapkannya. 

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), meninjau kondisi wilayah terdampak banjir dan longsor, di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. (Foto: Instagram/kemenkoinfra)

“Rumah-rumah bukan lagi rusak sedang atau berat, tetapi hancur dan bahkan hilang,” ujarnya. 

AHY menyebutkan, pemerintah membutuhkan anggaran sekitar Rp 51 triliun untuk membangun kembali infrastruktur dasar di wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Angka tersebut merupakan perhitungan awal dan masih akan diperbarui seiring pendataan serta pemetaan kerusakan di lapangan. 

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan akses menuju wilayah terdampak bencana secara bertahap mulai dapat dijangkau meski masih terdapat sejumlah kendala di lapangan. Selain itu, pemerintah terus memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak, antara lain makanan, pakaian, obat-obatan, dan air bersih, khususnya di wilayah Aceh Tamiang. 

Baca juga : PPP Jawa Barat Ingin Cetak Kader Ideologis Dan Militan

“Seluruh rumah sakit di wilayah terdampak telah kembali beroperasi meskipun belum optimal akibat keterbatasan tenaga medis dan kerusakan peralatan,” ujar Prasetyo di Medan, Sumatera Utara, Sabtu (14/12/2025). 

Ia mengatakan proses rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak bencana diperkirakan akan memakan waktu beberapa bulan ke depan dan dilakukan secara paralel dengan penanganan tanggap darurat. “Selain penanganan darurat, pemerintah juga mulai menyiapkan langkah rehabilitasi dan rekonstruksi,” katanya. 

Prasetyo menambahkan, pada tahap rekonstruksi, pemerintah memprioritaskan pembangunan kembali hunian warga terdampak. Saat ini, pendataan jumlah rumah rusak, baik kategori ringan, sedang, maupun berat, masih terus dilakukan. Ia juga menyebutkan pemerintah mulai menyiapkan lokasi hunian pengganti dengan menggandeng pemerintah daerah setempat. [BYU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense