BREAKING NEWS
 

Kisah Heroik di Aceh Tamiang

TNI Evakuasi Wanita Melahirkan, Terjang Banjir Bandang Pakai Pelepah Pisang

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Selasa, 23 Desember 2025 15:04 WIB
Kapten Infanteri Riosi Supajaya Pratama selaku Komandan Kompi Senapan A, Batalyon Infanteri 111 Karma Bakti. (Foto: TNI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah kepungan banjir bandang yang melumpuhkan Aceh Tamiang pada akhir November 2025, tersimpan kisah kemanusiaan penuh keberanian. Prajurit TNI dari Batalyon Infanteri 111 Karma Bhakti mempertaruhkan nyawa, demi menyelamatkan seorang ibu hamil yang hendak melahirkan di tengah banjir setinggi lima meter.

Peristiwa ini bermula pada 26 November 2025, saat air mulai merendam Kompi Senapan A dengan sangat cepat. Di tengah kepanikan, ada tiga ibu hamil yang harus segera dievakuasi. Salah satunya, istri anggota TNI yang sudah memasuki masa Hari Perkiraan Lahir (HPL).

Rakit Pelepah Pisang Penyelamat

Situasi berubah menjadi kritis, ketika air mencapai atap bangunan (sekitar 5 meter). Tim SAR yang kewalahan, membuat para prajurit harus memutar otak. Dengan peralatan seadanya, mereka menebang pohon pisang di sekitar lokasi dan merakitnya menggunakan tali-temali untuk dijadikan sarana evakuasi darurat.

Baca juga : Selamatkan 20 Warga Saat Banjir Bandang, Sertu Giman Pertaruhkan Nyawa

Kapten Infanteri Riosi Supajaya Pratama selaku Komandan Kompi Senapan A, Batalyon Infanteri 111 Karma Bakti, menceritakan betapa gentingnya situasi saat itu.

"Kami berinisiatif membuat rakit dari pohon pisang. Kami turunkan ibu itu dari lantai dua ruko tempat pengungsian menuju rakit. Ada sekitar 10 anggota yang mengawal dan mendorong rakit tersebut, menerjang arus yang sangat kuat. Terutama, di depan kantor Bupati. Di sana, banyak rumah dan mobil hanyut," ujar Kapten Riosi, Selasa (23/12/2025).

Adsense

Perjalanan yang biasanya hanya memakan waktu singkat, harus ditempuh selama tiga jam lebih untuk mencapai bidan desa. Nahasnya, peralatan medis di sana tidak memadai. Tapi, para prajurit tidak menyerah. Mereka terus mendorong rakit sejauh 8 km menuju RSUD Aceh Tamiang.

Baca juga : Polri Bersihkan Lumpur Banjir Bandang Di Jalan Lintas Aceh Tamiang

Setibanya di RSUD, kenyataan pahit kembali menanti. Rumah sakit tersebut ikut tenggelam, dan tidak ada tenaga medis yang tersedia. Padahal, kondisi sang ibu sudah mengalami pembukaan ketiga. Perutnya mulai kram hebat. Keputusan berisiko diambil: sang ibu dibawa menuju Sumatera Utara.

"Kami gambling, mencoba bagaimana caranya agar segera sampai ke Pangkalan Brandan. Kami mendorong ibu tersebut menggunakan keranda tempat tidur rumah sakit sejauh hampir 10 km, melewati daerah yang banjirnya tidak terlalu dalam. Hingga akhirnya berhasil menumpang kendaraan, menuju perbatasan," lanjut Kapten Riosi.

Akhir Bahagia di RS Putri Bidari

Setelah perjalanan panjang yang memakan waktu hampir satu hari satu malam dengan berbagai moda transportasi seperti rakit pisang, keranda dorong hingga perahu, rombongan akhirnya tiba di RS Putri Bidari, Pangkalan Brandan, Sumatera Utara pada 1 Desember 2025.

Baca juga : Makan Mie Instan, Mandi Cuma Sekali

Berkat ketangguhan fisik dan mental para prajurit TNI serta daya tahan sang ibu, proses persalinan secara sesar berhasil dilakukan dengan selamat. Kini, ibu dan bayi tersebut telah kembali ke rumah dalam keadaan sehat. 

Aksi heroik ini menjadi bukti nyata semboyan TNI yang selalu hadir di tengah kesulitan rakyat. Bahkan, saat alam tak lagi bersahabat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense