BREAKING NEWS
 

Dari Putus Sekolah, Sadam Kini Menata Mimpi Di Sekolah Rakyat Semarang

Reporter & Editor :
SAIFUL BAHRI
Minggu, 28 Desember 2025 07:17 WIB
Sadam Ar Rauf Alif. (Foto : Kemensos)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sadam Ar Rauf Alif baru berusia 17 tahun. Namun, jalan hidup yang dilaluinya sudah penuh tikungan. Di balik sikapnya yang tenang dan tutur kata yang santun, tersimpan kisah tentang keluarga besar, ekonomi yang rapuh, serta perjuangan panjang untuk tetap bertahan di dunia pendidikan.

Ayah Sadam bekerja sebagai buruh di pabrik cat. Belakangan, ancaman pemutusan hubungan kerja menghantui akibat kebijakan pengurangan karyawan. Sang ibu membantu ekonomi keluarga dengan membuka jasa cuci pakaian di rumah, meski penghasilannya tidak menentu. Dalam kondisi itu, kedua orang tuanya harus menghidupi tujuh anak.

Situasi tersebut membuat perjalanan pendidikan Sadam tak pernah mulus. Usai lulus SD pada 2021, pandemi Covid-19 memperparah kondisi ekonomi keluarga. Sadam sempat masuk pondok pesantren melalui jalur hafalan, namun hanya mampu bertahan selama enam bulan.

“Waktu itu aku keluar gara-gara masih nggak kuat. Kaget dengan kehidupan pesantren,” tutur Sadam.

Setelah keluar dari pesantren, Sadam tidak langsung melanjutkan sekolah. Selama enam bulan, ia benar-benar berhenti belajar karena keterbatasan biaya.

“Gara-gara Covid, ekonomi orang tua memburuk. Enam bulan itu aku nggak lanjut sekolah,” ujarnya.

Kesempatan kembali datang ketika Sadam diterima di SMP Al-Islam Gunungpati, sekolah swasta tanpa pungutan biaya. Dari sana, ia berhasil lulus dan melanjutkan pendidikan ke SMKN 1 Semarang, jurusan Elektro, pilihan yang ia tentukan sendiri.

Baca juga : Di Balik Banjir Padang, Jeli Hendri Menjadi Penjaga Harapan Siswa Sekolah Rakyat

Namun, tantangan belum usai. Meski berstatus sekolah negeri, jurusan elektro menuntut banyak perlengkapan praktik, termasuk laptop. Jarak rumah ke sekolah pun cukup jauh, sekitar 10–11 kilometer.

Awalnya, orang tua masih mengantar Sadam ke sekolah. Seiring waktu, hal itu semakin sulit dilakukan.

“Awal-awalnya diantarin orang tua. Terus alhamdulillah ada teman yang nawarin nebeng motor karena searah,” ceritanya.

Nebeng motor teman menjadi solusi sementara. Namun Sadam sadar, kebutuhan sekolah ke depan akan semakin besar dan kembali membebani orang tuanya.

Di tengah kondisi itulah, ia mendapat tawaran masuk Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 45 Semarang melalui pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Keputusan itu mengubah banyak hal dalam hidupnya.

Adsense

Di SRT 45 Semarang, Sadam tinggal di asrama dan tidak lagi dibebani biaya pendidikan.

“Kalau di sini semua sudah ditanggung, jadi tenang, enggak membebani orang tua lagi,” katanya.

Baca juga : Dari Panjat Pinang Ke Bangku Sekolah Rakyat Jayapura

Bagi Sadam, ketenangan itu berarti orang tuanya bisa lebih fokus memenuhi kebutuhan adik-adiknya, termasuk dua adik kembar yang masih berusia empat tahun.

Kehidupan asrama justru memberi rasa nyaman. Ia merasa diterima dan dikelilingi lingkungan yang mendukung.

“Enak tinggal di sini. Teman-temannya baik, guru-gurunya juga baik dan support,” ujarnya.

Sadam menyebut teman-teman asrama sudah seperti saudara sendiri. Para guru pun ia anggap sebagai orang tua kedua.

“Awal-awal masih canggung, tapi sekarang sudah nyaman. Rasanya seperti rumah kedua,” katanya.

Rasa aman itu membuat Sadam kembali fokus belajar dan menatap masa depan dengan lebih jernih. Jika dulu ia bercita-cita menjadi insinyur saat bersekolah di SMK, kini mimpinya berbelok. Ketertarikannya pada bahasa Inggris dan isu-isu internasional semakin kuat.

“Aku suka bahasa Inggris, suka nonton cerita tentang negara-negara lain, politik luar negeri,” tuturnya.

Baca juga : Dony Oskaria Tinjau Lahan Hunian Sementara Warga Korban Bencana Di Aceh Tamiang

Sejak SMP, Sadam memang gemar belajar bahasa Inggris dan bahkan pernah mengikuti kompetisi literasi bahasa Inggris tingkat nasional. Kini, ia bercita-cita menjadi diplomat.

“Aku pengen kuliah. Harus punya ijazah supaya bisa sukses,” ucapnya mantap.

Di Sekolah Rakyat Terintegrasi 45 Semarang, Sadam tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang. Ia dipercaya menjadi Ketua OSIS melalui pemilihan demokratis yang melibatkan penyampaian visi-misi hingga pencoblosan.

“Kayak pemilihan presiden. Nyampein visi, terus dipilih,” katanya sambil tersenyum.

Kini, Sadam tak lagi harus nebeng motor demi mengejar sekolah. Di Sekolah Rakyat, ia menemukan ketenangan, kesempatan kedua, serta ruang untuk menata mimpi dengan lebih pasti

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense