RM.id Rakyat Merdeka - Wartawan Rakyat Merdeka, Muhammad Ade Al Kautsar, kembali mengunjungi Aceh Tamiang untuk melihat langsung perkembangan perbaikan wilayah tersebut sebulan pasca dilanda banjir bandang. Berikut laporannya:
Mobil yang kami tumpangi terpaksa berjalan pelan, karena jarak pandang yang terbatas akibat hujan lebat ketika memasuki Kota Langsa sekitar pukul 3 dini hari, kemarin, Senin (29/12/2025). Genangan air mulai terlihat di kiri-kanan jalan.
Salah satu relawan mengirimkan foto kondisi tenda di Desa Upah, Kecamatan Bendahara yang baru dibangun untuk posko, meleyot karena derasnya air hujan. Bahkan di sekitar tenda mulai becek parah.
Anggota relawan yang sebelumnya hendak menginap di tenda tersebut terpaksa mengungsi ke masjid. Begitu pun saya dan teman-teman, terpaksa menginap di guest house Madrasah Ulumul Quran (MUQ) Kota Langsa, sekitar 12 menit perjalanan ke posko di Aceh Tamiang.
Baca juga : Demokrat Dan PKS Sikapnya Belum Jelas
Samsir (44) Warga Simpang Empat Kecamatan Karang Baru mengaku khawatir melihat air yang mulai memasuki rumah hingga semata kaki. Apalagi sebelumnya, banjir susulan yang lumayan parah baru saja terjadi di Pidie Jaya.
“Alhamdulillah, untung cepat surut tadi,” katanya saat berbincang dengan Rakyat Merdeka, kemarin.
Direktur Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Budi Harsoyo membenarkan bahwa potensi hujan lebat bahkan ekstrim masih cukup banyak di wilayah Sumatera, termasuk Aceh. Karena saat ini sedang memasuki puncak musim hujan.
“Untuk wilayah Aceh, Sumut dan Sumbar memang sejak muncul siklon Senyar kemarin, kita sudah buka posko modifikasi cuaca,” kata Budi ketika dihubungi Rakyat Merdeka, tadi malam.
Baca juga : Muncul Protes, Internal Golkar Banyuwangi Rame
Posko pertama, sebutnya ada di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Banda Aceh. Satunya lagi ada di Bandara Kuala Namu, Sumatra Utara. Tercatat, setiap harinya BMKG melakukan upaya modifikasi cuaca, dengan meluruhkan awan di daratan ke laut.
“Kalau di radar kita lihat ada potensi hujan di wilayah prioritas, kita langsungkan lakukan sorte. Terutama di wilayah yang sedang dibangun huntara (hunian sementara),” lanjutnya.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) tingkat Muda Alif Kurniawan merinci ada dua pesawat di Bandara SIM dan empat pesawat di Bandara Kuala Namu yang disiagakan untuk melakukan modifikasi cuaca.
Ketika hujan lebat di wilayah Langsa dan Aceh Tamiang, kata Alif, pihaknya sudah melakukan upaya modifikasi cuaca, dengan mengerahkan pesawat dari Bandara Kuala Namu.
Baca juga : Muhammadiyah Minta Masyarakat, Hentikan Debat Status Kebencanaan Sumatera!
“Pergerakan pesawat kemarin, meluruhkan awan di pesisir timur atau Tamiang ke laut. Cuma di-cover dari Medan. Total kemarin tiga sorte,” kata Alif.
Prediksi BMKG, sebutnya, potensi curah hujan dalam seminggu ke depan masih cukup tinggi. Pihaknya, akan terus melakukan upaya modifikasi cuaca sesuai pertumbuhan awan yang terdeteksi radar. Jika potensi hujan ekstremnya tinggi, sekurang-kurangnya BMKG akan melakukan dua sorte setiap hari.
“Justru sekarang yang paling diwaspadai ini di pesisir barat dan selatan Aceh,” pungkasnya. [SAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.