RM.id Rakyat Merdeka - Pusat Riset Big Data Continuum INDEF menilai banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera pada akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026 menimbulkan dampak besar, baik dari sisi kemanusiaan maupun lingkungan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga 4 Januari 2026 sebanyak 1.117 orang meninggal dunia, 148 orang dinyatakan hilang, sekitar 242 ribu penduduk mengungsi, serta 178.479 rumah mengalami kerusakan dari kategori ringan hingga berat.
Bencana yang hampir bersamaan terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat itu dipicu oleh curah hujan ekstrem. Namun, besarnya jumlah korban dan kerusakan kembali memunculkan perhatian publik terhadap persoalan struktural di balik bencana, khususnya kerusakan lingkungan dan pola pemanfaatan ruang di wilayah hulu.
Baca juga : Tak Hanya Di Sumatera, Banjir Terjadi Di Mana-mana...
Analisis Pusat Riset Big Data Continuum – INDEF terhadap 576.176 percakapan di media sosial Twitter/X dan YouTube pada periode 23–30 November 2025 menunjukkan tingginya sentimen negatif publik dalam memaknai banjir di Sumatera. Narasi yang dominan adalah pandangan bahwa bencana merupakan “hukuman alam atas keserakahan manusia”, yang dikaitkan dengan maraknya deforestasi di Pulau Sumatera.
“Sentimen negatif juga disertai rasa marah karena masyarakat justru menjadi korban dari kerusakan lingkungan yang dinilai tidak adil,” ujar Tim Penyusun Pusat Riset Big Data Continuum – INDEF, Syamil Iklil dan Arini Astari, dalam keterangannya.
Menurut analisis tersebut, kerusakan lingkungan, khususnya berkurangnya tutupan hutan, dipersepsikan publik sebagai faktor utama yang melemahkan daya dukung alam. Kondisi ini membuat wilayah Sumatera semakin rentan terhadap banjir bandang dan longsor saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Baca juga : Didukung 85 Persen Suara, Hidayat Resmi Daftar Jadi Calon Ketum KONI DKI
Faktor alam seperti curah hujan ekstrem dan siklon tropis tetap muncul dalam perbincangan publik, namun tidak diposisikan sebagai penyebab tunggal. Salah satu pemicu peningkatan curah hujan adalah kemunculan Bibit Siklon 95B di Selat Malaka yang berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar pada 26 November 2025. Sistem cuaca ini memperkuat pembentukan awan hujan dan meningkatkan suplai uap air ke daratan Sumatera, khususnya Aceh, disertai angin kencang dan cuaca ekstrem.
Di sisi lain, penurunan tutupan hutan dinilai memperburuk dampak bencana. Berkurangnya fungsi hutan menyebabkan melemahnya daya serap air, stabilitas tanah, dan kemampuan menahan limpasan hujan di wilayah hulu. Dalam kondisi hujan ekstrem, kombinasi ini membuat banjir dan longsor menjadi jauh lebih destruktif.
INDEF menilai rangkaian data korban, anomali cuaca, dan deforestasi menunjukkan bahwa banjir dan longsor di Sumatera merupakan hasil akumulasi tekanan lingkungan jangka panjang yang dipicu oleh faktor cuaca ekstrem. Oleh karena itu, mitigasi bencana tidak cukup hanya mengandalkan respons darurat.
Baca juga : KawanMu Rekrut Relawan Sumatera, Dorong Warga Lokal Jadi Aktor Utama Pemulihan
Sejumlah implikasi kebijakan yang dinilai perlu diperkuat antara lain integrasi indikator risiko hidrometeorologis dan data tutupan hutan dalam perencanaan ruang dan infrastruktur, penguatan rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) dan reforestasi di wilayah dengan tren deforestasi tinggi, serta penataan ulang tata kelola izin pemanfaatan lahan di kawasan hulu.
Dengan pendekatan berbasis data, kebijakan dan investasi pascabencana diharapkan tidak hanya berorientasi pada pemulihan jangka pendek, tetapi juga pada pengurangan risiko bencana secara sistemik di masa depan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.