Dark/Light Mode

Pakar IPB: Banjir Sumatera, Pembelajaran Penting Pemanfaatan Sains Iklim

Kamis, 25 Desember 2025 16:42 WIB
Tim gabungan berhasil bangun jembatan sementara di Desa Penomon Jaya, Kecamatan Rikit Gaib, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh. (Foto: BNPB)
Tim gabungan berhasil bangun jembatan sementara di Desa Penomon Jaya, Kecamatan Rikit Gaib, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh. (Foto: BNPB)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pakar Agrometeorologi Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Dr I Putu Santikayasa menegaskan, musibah banjir dan longsor yang melanda 52 kabupaten di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) pada akhir November 2025, menjadi pembelajaran penting mengenai urgensi pemanfaatan sains iklim dalam penanganan bencana hidrometeorologi. 

“Kejadian ini menunjukkan bahwa informasi dan analisis iklim memiliki peran strategis dalam mengurangi risiko, meningkatkan kesiapsiagaan, serta memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi bencana,” kata Putu dalam kegiatan LRI TALK #3 bertema Bersama Menjaga Sumatera: Kolaborasi Mitigasi, Penegakan Hukum, dan Pemulihan Ekosistem untuk Menghadapi Bencana Hidrometeorologi, Rabu (24/12/2025).

Dalam materi bertajuk Sains Iklim dalam Penanganan Bencana Hidrometeorologi, Putu mengawali paparannya dengan menyoroti kisah-kisah korban banjir dan longsor di Sumatera yang banyak terekam dalam pemberitaan dan jejak digital. Pada 25 November 2025, lebih dari 50 orang terjebak di tengah hutan selama dua hari dua malam akibat banjir dan longsor. 

Dalam tayangan paparan itu, terdapat satu potongan kesaksian warga di wilayah hulu yang menyampaikan peringatan: “Hati-hatilah kalian, sudah longsor ini dari atas. Tanah longsoran sudah tertahan kayu-kayu". Ini artinya, kabar tentang adanya longsor yang tertahan di atas bukit, sebenarnya telah beredar dari mulut ke mulut sebelum bencana membesar.

Baca juga : Jaksa Agung: Banjir Sumatera Disebabkan Masifnya Alih Fungsi Lahan

Putu menuturkan, kondisi iklim saat kejadian tidak sepenuhnya berada pada situasi normal. “Ada kondisi iklim ekstrem saat terjadi banjir Sumatera,” ujarnya.

Putu menerangkan, variabilitas iklim di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai fenomena, antara lain monsun Asia dan Australia, El Nino–Southern Oscillation (ENSO), Indian Ocean Dipole (IOD), siklon tropis, serta Madden–Julian Oscillation (MJO).

Berdasarkan analisis yang diuraikan, pada dasarian terakhir November 2025, IOD berada pada fase negatif lemah dan ENSO menunjukkan kondisi La Nina lemah yang cenderung menuju netral. Namun Putu meyakini, faktor yang sangat memicu banjir Sumatera adalah kemunculan bibit siklon tropis di Selat Malaka, yang memicu hujan ekstrem dan memperparah banjir.

Mengacu data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan di Sumatera bagian utara saat itu mencapai lebih dari 300 milimeter. Bahkan, pada 26 November 2025, terjadi hujan harian hingga sekitar 438 milimeter. Setara curah hujan satu bulan dalam satu hari,”

Baca juga : OREO Salurkan Donasi Alat Bantu Pembelajaran Pada 1.000 Anak Yatim Piatu

"Kondisi tersebut memperbesar potensi banjir bandang dan longsor yang berdampak luas," ujar Putu.

Peran Sains Iklim 

Putu menekankan, sains iklim berperan penting dalam seluruh siklus pengurangan risiko bencana. Mulai dari prabencana, saat bencana, hingga pascabencana. Pada fase prabencana, analisis data historis dan indeks ekstrem dapat digunakan untuk memetakan zona rawan dan meningkatkan kesiapsiagaan.

Saat bencana, informasi iklim mendukung pengembangan impact-based forecasting, agar respons darurat dapat dilakukan secara cepat dan efisien. Sementara pada fase pascabencana, proyeksi iklim jangka panjang dibutuhkan untuk mendukung pemulihan, rekonstruksi, dan adaptasi masyarakat.

“Sistem peringatan memberi kita waktu untuk bersiap, dan infrastruktur adaptif memberi kita kapasitas untuk bertahan,” cetus Putu.

Baca juga : Bencana Sumatera, Ferry Irwandi Terharu Dengan Solidaritas Warga

"Pemanfaatan sains iklim merupakan kunci dalam meningkatkan ketahanan terhadap bencana hidrometeorologi di masa mendatang, pungkasnya. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.