Kemudahan dalam menjalankan aktivitas keseharian kini telah menjadi kebutuhan mendasar yang tidak lagi bersifat pilihan bagi manusia modern. Di era yang ditandai oleh percepatan arus informasi dan transformasi digital, teknologi hadir sebagai solusi yang menjawab tuntutan kecepatan, ketepatan, dan efisiensi.
Perangkat cerdas, konektivitas tanpa batas, serta algoritma yang semakin adaptif telah mengubah cara manusia bekerja, berpikir, dan berinteraksi. Ironisnya, kemudahan inilah yang secara perlahan membangun ketergantungan mendalam. Sebuah paradoks peradaban yang kini mulai menuntut perhatian serius dari para pemikir, pendidik, maupun pembuat kebijakan.
Para ahli telah lama mencermati fenomena ini. Dalam bukunya The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (W. W. Norton & Company, 2010), Nicholas Carr menegaskan bahwa penggunaan teknologi digital secara intens telah mengubah struktur kognitif manusia secara fundamental. Carr berargumen bahwa internet, alih-alih memperluas kapasitas berpikir, justru melatih otak untuk berpindah-pindah fokus secara cepat dan dangkal, apa yang ia sebut sebagai pemikiran superfisial. Temuan ini diperkuat oleh riset neurosains yang menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap perangkat teknologi berkorelasi erat dengan berkurangnya kapasitas konsentrasi jangka panjang dan melemahnya kemampuan berpikir kritis.
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang makin mutakhir semakin memperdalam dinamika ini. Dengan kemampuan memproses data dalam hitungan detik sekaligus mengotomasi berbagai jenis pekerjaan kognitif, AI telah menjadi mitra kerja yang nyaris tak tergantikan di hampir setiap sektor kehidupan. Kondisi ini bahkan memunculkan fenomena baru di dunia kerja yang dikenal sebagai overemployment, ketika seseorang mampu memegang dua atau lebih posisi pekerjaan penuh waktu secara bersamaan dengan memanfaatkan bantuan AI.
The Wall Street Journal (2023) melaporkan bahwa ribuan profesional di Amerika Serikat secara diam-diam menjalankan dua pekerjaan sekaligus, sementara platform seperti Overemployed.com tumbuh menjadi komunitas daring yang menghimpun para pelakunya. Fenomena ini memperlihatkan seberapa jauh AI telah menggeser batas-batas produktivitas dan kapasitas manusia.
Baca juga : Kemenhut Dan ITTO Perkuat Kerja Sama Jaga Hutan Tetap Lestari
Di tengah euforia teknologi inilah sebuah kesadaran kolektif mulai tumbuh: Rehumanize. Konsep ini merujuk pada gerakan, baik individual maupun institusional untuk mengembalikan keunggulan kemampuan manusiawi dalam ekosistem kerja dan kehidupan yang semakin otomatis.
Rehumanize bukan penolakan terhadap teknologi, melainkan seruan agar porsi kemampuan hakiki manusia seperti empati, kreativitas mendalam, penalaran etis, dan pemikiran kritis kembali mendapatkan tempat utama, alih-alih diserahkan kepada sistem algoritmik yang bekerja tanpa nurani dan tanpa konteks kemanusiaan.
Gagasan ini mendapat dukungan kuat dari kalangan akademisi kelas dunia. Prof. Luciano Floridi, Guru Besar Filsafat dan Etika Informasi dari Oxford Internet Institute yang kini berkedudukan di Universitas Bologna, Italia, menyatakan bahwa salah satu tantangan terbesar abad ke-21 adalah bagaimana manusia mempertahankan human agency, kemampuan bertindak secara mandiri dan bermakna di tengah dominasi kecerdasan buatan.
Dalam karyanya The Ethics of Artificial Intelligence (MIT Press, 2023), Floridi menekankan pentingnya merancang ulang relasi manusia-teknologi dengan menempatkan AI bukan sebagai pengganti, melainkan perpanjangan tangan yang tetap di bawah kendali penuh manusia. Ia menyebut paradigma ini human-centric AI, pendekatan yang sejiwa dengan Rehumanize: teknologi yang diabdikan untuk memuliakan, bukan menggantikan, kapasitas manusia.
Rehumanize sudah sepatutnya diadopsi secara luas, sebab teknologi bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, ia memudahkan manusia menyelesaikan pekerjaan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun di sisi lain, ketergantungan berlebih terhadap AI dapat menggerus kapasitas kognitif secara sistematis dan tanpa disadari. Ketika mesin mengambil alih fungsi berpikir, merencanakan, dan memutuskan, otak manusia kehilangan latihan yang dibutuhkannya untuk terus berkembang. Inilah yang oleh para neurosaintis disebut cognitive offloading pemindahan beban kognitif kepada perangkat eksternal yang jika dibiarkan terus-menerus akan memperlemah kemampuan otak secara struktural.
Baca juga : Lima Perkembangan Terbaru Hantavirus
Data global mulai mengonfirmasi kekhawatiran ini. Laporan OECD Education at a Glance 2023 mencatat penurunan signifikan pada skor literasi dan numerasi siswa di berbagai negara maju, yang berkorelasi dengan meningkatnya ketergantungan pada aplikasi berbasis AI. Di Norwegia, penelitian dalam Scandinavian Journal of Educational Research (2023) menemukan bahwa siswa yang mengandalkan perangkat digital menunjukkan kemampuan membaca pemahaman lebih rendah dibanding kelompok yang belajar secara konvensional.
Di Korea Selatan, pemerintah memberlakukan pembatasan smartphone di sekolah dasar sejak 2023 sebagai respons atas meningkatnya kasus gangguan perhatian pada anak. Laporan Royal College of Paediatrics and Child Health Inggris (2023) turut mencatat korelasi kuat antara tingginya konsumsi konten digital dengan meningkatnya gejala kecemasan dan berkurangnya daya fokus pada remaja usia sekolah.
Indonesia tidak luput dari tantangan serupa. Survei Digital Civility Index Microsoft (2022) menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat kesantunan digital terendah di Asia Tenggara, cerminan bahwa penggunaan teknologi yang masif belum diimbangi literasi digital yang memadai. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) 2023 mengungkap bahwa anak usia 10–15 tahun rata-rata menghabiskan lebih dari tujuh jam sehari di depan layar, melampaui rata-rata global.
Riset Universitas Indonesia (2022) menunjukkan indikasi penurunan kemampuan konsentrasi dan daya ingat jangka pendek pada pelajar SMP yang intensif menggunakan platform berbasis AI dalam proses belajar. Sebuah sinyal dini yang tidak boleh diabaikan oleh para pemangku kepentingan pendidikan nasional.
Rangkaian fakta ini sepatutnya menjadi alarm kolektif. Ketika teknologi bertransformasi menjadi candu, absennya candu tersebut membuat seseorang merasa tidak berdaya dan produktivitasnya anjlok. Masa depan Indonesia berada di tangan generasi muda, dan berbagai program unggulan pemerintah dari Merdeka Belajar hingga visi Indonesia Emas 2045 bertujuan melahirkan generasi yang unggul, kompetitif, dan berkarakter. Namun program konvensional saja tidak memadai untuk mengantisipasi anomali teknologi yang terus berevolusi.
Baca juga : Man City Kehilangan Kendali Raih Gelar Juara
Kini dibutuhkan internalisasi budaya Rehumanize sejak dini. Membiasakan anak dan remaja berpikir mandiri, menyelesaikan masalah secara kreatif, dan menjadikan teknologi sebagai alat bantu, bukan tuan yang mendikte setiap aspek kehidupan.
Filsuf Prancis Bernard Stiegler, dalam Technics and Time (Stanford University Press, 1998), mengingatkan bahwa teknologi dan manusia tidak pernah benar-benar terpisah, keduanya saling membentuk sepanjang sejarah peradaban. Namun Stiegler mewanti-wanti keras bahwa tanpa kesadaran kritis yang terpelihara, manusia berisiko tereduksi menjadi sekadar fungsi dari sistem teknis yang dibangunnya sendiri.
Di era AI generatif, peringatan ini terasa semakin mendesak dan nyata. Sudah waktunya kita menegakkan kembali hierarki yang seharusnya: manusia sebagai subjek, teknologi sebagai instrumen. Rehumanize bukan nostalgia terhadap masa lalu, melainkan strategi peradaban yang visioner, agar di tengah dunia yang semakin otomatis, kita tidak kehilangan satu-satunya hal yang tidak akan pernah bisa direplikasi oleh mesin mana pun yakni kemanusiaan kita sendiri.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.